27 Mei 2012

ARGO (2012)



Setelah Gone Baby Gone dan The Town yang ternyata tidak dilirik Oscar, Ben Affleck kembali menggarap film ketiganya yang berjudul Argo. Filmnya kali ini diangkat dari kisah nyata Canadian Caper saat Tony Mendez, seorang agen CIA memimpin penyelamatan enam diplomat di Teheran, Iran selama terjadinya krisis sandera Iran pada 1979 silam. Bermula dari kemarahan rakyat Iran karena Amerika bersedia melindungi Mohammad Reza Pahlavi, Shah yang baru saja digulingkan. Hal itu berdampak dengan penyerangan yang dilakukan militan ke kantor kedutaan besar Amerika Serikat di Teheran pada tanggal November 1979. Beberapa staf kedutaan disandera tapi ternyata diantara mereka ada 6 orang yang lolos dan bersembunyi di kediaman duta besar kanada.

Departemen Luar Negeri AS pun mulai memikirkan beberapa kemungkinan pilihan untuk menyelamatkan 6 sandera tersebut dan mengeluarkan mereka dari Iran. Tony Mendez (Ben Affleck), seorang spesialis CIA dikirim untuk membantu mereka. Mendez awalnya sempat bingung memikirkan cara apa yang akan digunakan untuk penyelamatan tersebut. Ada beberapa opsi yang dipertimbangkan. Beberapa diantaranya mereka akan mengirim keenam diplomat untuk bersepeda melewati rute pegunungan ke Perbatasan Turki. Opsi lain mereka berencana menyamarkan ke 6 orang sandera sebagai guru yang melamar pekerjaan di sekolah Internasional di Teheran.

Tapi kemudian Mendez mendapatkan ide lain setelah menonton Battle for the Planet of the Apes di TV. Ia merasa rencananya kali ini jauh lebih aman daripada kedua opsi lainnya. Ia berencana untuk membuat sebuah film palsu. Yups, ia berencana membuat film palsu dan berpura-pura akan melakukan survey lokasi film di Iran. Tentu saja dengan melibatkan ke 6 sandera yang akan dibebaskan tersebut. Ke 6 sandera akan disamarkan menjadi kru film yang akan melakukan survey. Mendez kemudian mulai bekerjasama dengan orang perfilman. Ia mengontak John Chambers (John Goodman)dan juga produser senior bernama Lester Siegel (Alan Arkin). Dan akhirnya proyek film sci-fi palsu berjudul Argo itupun mulai dilaksanakan...

Film ini sempat membuatku bosan di menit-menit awal, ketika sejarah politik mulai dipaparkan. Ya, dari dulu memang kurang suka sebenarnya dengan film yang berlatar sejarah. Tapi karena plot yang bisa dibilang unik, tetap saja diriku duduk manis sambil menanti-nanti momen-momen ketegangan yang diharapkan. Dan ternyata Affleck memang tahu betul apa yang dimau penontonnya. Dia gak mau menenggelamkan penonton dalam kubangan cerita yang berat dan membosankan. Jadi akhirnya dimulailah sesuatu yang menarik itu. Ketika Tony Mendez mulai didaulat untuk menjadi pahlawan yang akan membebaskan 6 sandera. Momen-momen lucu pun kadang mewarnai percakapan Mendez ketika ia berembug dengan para orang perfilman yang kadang memancing tawa.

Suasana film yang bersetting 1979 itu juga sangat memanjakan mata. Sangat klasik dan benar-benar seperti menonton film jadul dengan segala pernak-pernik dan barang-barang yang belum modern seperti sekarang. Selain berhasil menghadirkan suasana vintage, Ben Affleck juga sangat cerdas dalam menempatkan momen-momen ketegangan, dengan iringan backsound-nya yang makin menambah dag-dig-dug jantung. Ya, Affleck memang lihai dalam menjaga intensitas ketegangan hingga sampai puncak ia memberikan kepuasan terhadap penonton.

Tanpa disangka dan diluar ekspektasi, Ben Affleck mampu mewujudkan Argo menjadi sebuah sajian yang berbobot. Sebuah sajian thriller yang ekspresif dalam memaparkan semua ketegangannya. Performa Affleck sendiri memang kurang ekspresif sebagai seorang Tony Mendez tapi sebenarnya ada pesona tersendiri yang terpancar dari perannya tersebut lol. Ia terlihat tenang dan percaya diri dibandingkan dengan 6 staf yang terlibat. Ketika ke 6 staf tersebut mulai ragu dalam misi film palsunya, Afleck pun mampu memberikan support dan melatih ke 6 staf tersebut untuk tetap tenang dan menguasai 'materi' dari produksi film palsu tersebut.

Akting yang maksimal juga dipertunjukkan oleh ke 6 staf, kegugupan dan ketidakluwesan mereka dalam menyamar sebagai kru film nampak jelas. Ketakutan dan rasa was-was mereka juga tergambar dengan cukup baik. Puncak ketegangan jelas ada di bagian akhir film ketika penonton dibuat cemas dan geregetan, dibagian itu cukup cepat dan tidak bertele-tele. Sebenarnya Argo bukan film yang terlalu rumit, hanya kemasan dan latar belakang politik-nya saja memang cukup membuat film ini terkesan berat. Padahal dalam eksekusinya Argo lebih fokus dalam thriller dan dari misi penyelamatan itu sendiri. bukan tentang sejarah antara Amerika dan Iran. Jadi,gak ada alasan untuk melewatkan film ini. Happy watching :))


18 Mei 2012

MODUS ANOMALI (2012)



Seorang laki-laki yang sedang berlibur dengan istri dan kedua anak mereka di sebuah kabin di hutan dikejutkan dengan kedatangan seorang tamu yang tak mereka undang. Sebelum dia  menyadari apa yang terjadi, laki-laki itu mendapati dirinya terpisah dari keluarganya. Ketika dia mulai menemukan beberapa jam alarm yang tersebar di hutan itu, dia tiba-tiba harus berpacu dengan waktu jika ingin bertemu dengan keluarganya kembali. Sementara itu, di hutan juga sedang berlibur satu keluarga lain, yang mungkin berkaitan dengan keanehan yang sedang ia alami
    
Diantara maraknya film-film bergenre horor gak jelas  tentu perlu di hargai setinggi-tingginya kemunculan film thriller psikologis seperti Modus Anomali. Walaupun tahun ini juga tumben-tumbenan banyak film lokal yang go internasional. Salut banget sama Joko Anwar yang selalu berani melawan arus diantara gempuran film-film absurd yang makin merajalela. 

Walaupun penuh teka teki dan sedikit lamban, Modus Anomali tidak serumit Pintu terlarang. Bagi sebagian orang yang menganggap film ini terlalu rumit  mungkin karena mereka belum menonton Kala ataupun Pintu Terlarang padahal karakter film-film Joko anwar biasanya berkesinambungan antara film 1 dan lainnya. Kalo gw pribadi jujur aja lebih menyukai Modus daripada pintu terlarang. Di film ini Joko mampu memaparkan jalan cerita secara rapih, menuntun kita untuk memecahkan misteri  satu persatu  bersama karakter John Evan yang di perankan Rio Dewanto

Joko mampu menciptakan ketegangan sekaligus tanda tanya dalam kepala penonton. yaa, walaupun kadang memang tidak intens menularkan emosinya kepada kita. Tapi satu point buatku, Rio bener-bener total bermain di film ini .Ia tampil total memerankan karakter one man show-nya walaupun aksen inggrisnya kadang mengurangi penjiwaan emosinya .Mengikuti setapak demi setapak langkah Rio, mencoba  menyusun puzzle-puzzle tersebut terasa menyenangkan buatku. Apalagi didukung dengan permainan teknis gambar yang sangat keren, menggunakan kamera Red Epic dengan pengambilan gambar yang  ala-ala hand held  membuat kita seakan bergerak mengikuti si tokoh utama.Tak hanya tata kamera-nya yang keren, tapi tata suaranya juga sangat real,seperti suara-suara sekitar hutan dsb.

Menurutku menikmati film ini adalah justru menikmati tempo yang lambat tersebut. Nikmati setapak demi setapak, lihat dan ingatlah setiap petunjuk barang maupun kata-kata untuk kemudian rangkailah satu persatu hingga akhirnya bisa menjadi puzzle utuh di akhir film. Overall terlepas dari segala kekurangannya, modus anomali adalah thriller misteri yang keren, lumayan memacu adrenalin tapi juga menawarkan kecanggihan sinematografi yang unik. Happy watching ^^

15 Mei 2012

FATAL ATTRACTION (1987)



Terakhir melihat film dengan wanita sebagai villain yang bener-bener mengerikan adalah di film Misery dimana Annie Wilkes benar-benar membuatku terancam hanya dengan menatap seringai nya, dan mendengar tawanya. Ternyata di Fatal Atraction saya kembali bertemu dengan sosok wanita ambisius yang mampu memberikan ancaman sama besarnya dengan sosok Annie Wilkes. Dialah Alex Forrest (Glenn Close)

Diceritakan Dan Gallagher (Michael Douglas) sebenernya adalah sosok family man, seorang bapak yang sangat mencintai keluarganya. Ia mempunyai keluarga kecil yang bahagia bersama sang istri Beth (Anne Archer) dan sang anak tercinta, Ellen. Masalah bermula ketika Dan pada suatu waktu ditinggal sang istri dan anak untuk mengunjungi rumah sang nenek. Ia tiba-tiba bertemu Alex Forrest, sosok wanita yang cukup menggoda  disuatu pesta bisnis. Dan yang sedang dalam kesendirian malam itu didukung pula dengan kesempatan yang ada pada akhirnya tak bisa menghindari godaan itu, cinta satu malam pun terjadi. Dan yang tak bisa menepis godaan dari Alex dengan iseng mengencaninya pada weekend yang berhujan tsb

Tapi ternyata 'keisengan' Dan malam itu berimbas jauh di kehidupan keluarganya yang lambat laun terancam. Alex yang terlanjur terkesan dengan kebersamannya dengan Dan tak mau lepas begitu saja dari Dan. Ia terlanjur jatuh cinta dengan Dan. Alex benar-benar terobsesi dengan sosok Dan, ia tak pernah mau lepas kontak dengan Dan, bahkan saat Dan selalu coba menghindarinya dengan mengganti nomor telponnya pun Alex tetap saja mengejarnya. Dan tentu saja menjadi begitu risih dengan perlakuan Alex yang sudah begitu keterlaluan dan makin lama mencoba mengganggu keluarganya dengan cara melakukan teror demi teror.

Perselingkuhan atas dasar apapun menurutku sudah tidak benar. Disini sosok Dan yang sekilas terlihat 'bersih' dan sepertinya mustahil melakukan itu ternyata juga terjerumus dalam kenikmatan sesaat, cinta satu malam itu tadi. Berlatar hanya untuk iseng-iseng, permainan sesaat yang ia kira bakal berlalu begitu saja itu malah pada akhirnya menjebaknya, memasukkannya kedalam perangkap seorang 'wanita gila' yang terobsesi padanya dan terlihat haus kebahagiaan dan kasih sayang

Dari situ film ini pun sebenernya udah banyak ngasih pesan. Jangan main api deh intinya, jangan menyulut api karena api yang pada awalnya kecil tsb bakalan makin membesar dan pada akhirnya membakar diri kita sendiri. Kalo udah punya keluarga yang bahagia ya ngapain harus iseng berselingkuh, walaupun niatnya cuma ga serius tapi pasangan selingkuhan kita belum tentu menganggap hubungan itu tak berarti apa-apa kan. 

Film ini kurasa berhasil menyajikan potret fenomena perselingkuhan, fenomena cinta 1 malam yang seringkali dialami dalam dunia nyata dengan bumbu horor yang cukup menarik. Sosok wanita ambisius digambarkan dengan cukup real, bahwa ia adalah wanita yang memang terobsesi dan mendambakan hubungan yang tidak hanya sesaat dengan sosok pria yang ia impikan. Dan ketika obsesi untuk mendapatkan Dan seutuhnya tidak tercapai, maka ia pun berubah liar, menjadi sosok yang tak terkendali dan bahkan terlihat psycho.

Sosok Michael Douglas sangat piawai memerankan seorang family man yang begitu galau gara gara dilema. Satu sisi ia sebenernya gak tega mencampakkan Alex begitu saja yang belakangan mengaku hamil hasil hubungan gelap dengannya, tapi disisi lain ia juga harus mempertahankan keharmonisan keluarganya yang tentu saja lebih dicintainya, harus menjaga perasaan istrinya. 

Yang paling keren tentu saja akting dari Glenn Close, sosoknya makin lama makin berkembang dari karakter yang terlihat haus perhatian, kemudian berkembang menjadi seseorang yang memelas, kemudian menyebalkan dan bahkan mengerikan. Intensitas ketegangan di film ini makin lama makin meningkat, seiring dengan cerita yang rapih mengalir sepanjang film. Kekurangan film ini justru karena endingnya yang cukup mudah ditebak, seperti thriller-thriller pada umumnya. Tapi secara keseluruhan untuk ukuran thriller klasik tentu saja film ini menarik dan punya banyak pesan didalamnya.