Tampilkan postingan dengan label flat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flat. Tampilkan semua postingan

12 Nov 2013

ADORE / TWO MOTHERS (2013)


 

Lil (Naomi Watts) dan Roz (Robin Wright) adalah dua orang yang bersahabat karib sejak kecil. Setelah masing-masing dewasa kini mereka hidup bertetangga disebuah pinggiran pantai didaerah New South Wales. Lil adalah seorang janda, kini ia tinggal bersama sang putra Ian (Xavier Samuel)  begitu juga Roz, ia adalah istri sekaligus ibu dari seorang anak laki-laki remaja bernama Tom (James Frecheville). Seperti Lil dan Roz, kedua anak lelaki mereka juga bersahabat dekat. 

Plot yang terlihat normal, sederhana dan bahkan klise sampai disini. Tapi tahukah bahwa sebenarnya film ini menyimpan ketidakwajaran. Debut bahasa inggris pertama dari Anne Fontaine ini merupakan film yang mempunyai tema aneh dan gak wajar. Film yang mengangkat tema persahabatan pastilah sudah sangat banyak diluar sana dengan segala konfliknya yang beraneka ragam. Adore bisa dibilang cukup berani mengusung tema yang gak biasa. Percintaan antara remaja dengan wanita yang lebih matang, yang gilanya adalah sahabat dari ibu mereka sendiri


Sangat kontroversial apa yang diusung film yang diadaptasi dari cerita pendek The Grandmothers  karagan Doris Lessing ini. Apapun alasannya percintaan di film ini menurutku tetaplah tidak wajar dan aneh. Menjadi aneh karena yang dicintai adalah ibu dari sahabat dekat sekaligus merupakan sahabat dari ibu mereka sejak kecil, Tapi cukup fresh sih tema yang coba dihadirkan Anne, menyoroti cinta terlarang, sebuah skandal yang melibatkan orang-orang yang tidak seharusnya menjalin hubungan lebih.

Satu yang menjadi alasan tetap betah menonton film ini, setting film ini benar-benar indah dan eksotik. Sepanjang film di dominasi suasana pinggiran pantai nan sejuk berhiaskan gulungan ombak. Latarnya memang indah dan sedap dipandang mata namun tidak dengan alur film ini. Adore berjalan sangat lambat dan membosankan, hampir saja dibuat ketiduran karena alurnya yang terkesan bertele-tele. 

Intinya Adore hanyalah sebuah drama tentang persahabatan, mengusung tema cinta yang tak lazim, dibingkai dengan keindahan suasana pantai yang 'untungnya' lebih terasa membius daripada sekedar tema yang dihadirkan. Dengan menggandeng para cast yang semuanya menampilkan performa standar. Pada akhirnya ya tergantung pendapat tiap orang, mau menilai film ini seperti apa. Toh film ini hanya memberi gambaran tentang cinta terlarang dengan segala masalahnya yang kompleks. Yaah..cinta memang gak pernah salah. Ia gak pernah tau dan ga bisa memilih dimana akan melabuhkan asmaranya, tapi alangkah bijaknya jika manusia tetap menggunakan logika dalam bercinta :)


28 Sep 2013

AFTER EARTH (2013)



Sebelumnya gak ada niatan menonton film ini. Bukan karena adanya Shyamalan yang duduk dibangku sutradara. Ga ada yang salah dengan sutradara The Sixth Sense itu dan gw juga gak menaruh sentimen  terhadap sutradara berdarah india tersebut. Walaupun beberapa kali Shyamalan mengecewakan dalam beberapa filmnya seperti The Last Airbender dan The Happening. Basicly emang kurang suka aja dengan genre fiksi ilmiah. 

Satu hal yang membuatku tertarik adalah dijajaran cast-nya. Disitu ada nama Will Smith dan juga sang putra Jaden Smith. Hmm, seperti kita tahu pasangan ayah dan anak ini pernah sukses dan tampil apik dalam film inspiratif Pursuit of Happyness ditahun 2006 silam. Konsep After Earth sebenernya murni digagas oleh Will smith. Shyamalan hanya berlaku sebagai sutradara dan penulis naskah bersama Gary Whitta. Dan apakah ketelibatan Will Smith sebagai penggagas ide cerita dan juga sebagai pemain dalam film ini  akan bisa memperbaiki reputasi Shyamalan sebagai sutradara?

Film ini menceritakan tentang seorang anak bernama Kitai Raige (Jaden Smith) dan ayahnya Cypher Raige (Will Smith) yang terjebak setelah mengalami kecelakaan pesawat dan terdampar di planet bumi yang kini tercemar dan sudah lama ditinggalkan manusia. Sebelumnya manusia telah berpindah ke planet lain bernama Nova Prime dimana mereka bisa memulai kehidupan baru walau harus menghadapi serangan alien yang disebut Ursa. Ursa adalah monster raksasa buta namun dengan mudah bisa mengetahui keberadaan manusia di sekitarnya dari deteksi feromon, yakni hormon yang dikeluarkan dari pori-pori manusia ketika merasa ketakutan. Setiap manusia yang terdeteksi Ursa akan langsung dibunuh dengan cara mengerikan.

Ceritanya Kitai dan sang ayah adalah orang yang selamat dari kecelakaan pesawat tersebut. Dan untuk pulang ke tempat asalnya, mereka harus menemukan alat sensor penyelamat yang terjatuh di suatu tempat, sementara ayahnya tak berdaya karena mengalami luka parah di kakinya. Akhirnya dengan petunjuk dari ayahnya, Kitai pun menjelajahi bumi seorang diri. Ia harus mengalahkan rasa takut untuk menyelamatkan hidup mereka.

Sebenernya tema film ini sederhana aja. Ingin menonjolkan tentang hubungan emosi antara antara ayah dan anak, hanya saja dibungkus dalam cerita fiksi ilmiah. Tapi sayangnya semua yang terlibat di film ini seperti ga punya nyawa untuk menjadikan film ini sebuah sajian yang hidup. Mulai dari karakter-karater yang terlihat lemah dan ga meyakinkan. Akting Jaden terasa sangat membosankan, sepanjang film hanya lari-larian dengan mimik yang datar. Begitupun dengan Will Smith, sangat pasif sekali aktingnya di film ini. Hanya duduk sepanjang film dan mengarahkan sang anak. Lengkap sudah kegaringan film ini

Jika memang ingin menonjolkan hubungan emosional antara ayah dan anak, kenapa gak bisa dirasakan chemistry antara keduanya, padahal mereka memang benar-benar mempunyai ikatan darah. Will Smith berakting ga seperti biasanya. Disini ia benar-benar tanpa ekspresi sepanjang film. Ga ada aura Will Smith yang terpancar seperti biasanya. Begitupun Jaden Smith seperti tanpa nyawa dalam memerankan karakternya, aktingnya masih kelihatan kaku dan kurang bisa mengolah mimiknya. Yang lebih bikin ngantuk, alur film ini juga terasa lambat banget , banyak scene-scene yang diulang. Apalagi terlalu banyak dialog membuat film ini makin seperti nyanyian pengantar tidur

Ternyata keberadaan aktor sebesar Will Smith pun tidak juga mampu membuat film ini mengangkat nama Shyamalan. Walaupun film ini memang tidak sepenuhnya garapan Shyamalan. Ide cerita film ini memang digagas sendiri oleh aktor I am Legend tersebut. Tapi Will Smith terlihat tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan kualitasnya. Yang terlihat ia justru seperti memberikan porsi yang begitu besar kepada sang anak (Jaden) untuk memperlihatkan kemampuan aktingnya yang sayangnya juga gagal karena Jaden berakting kurang meyakinkan.

Sebenernya kalau Will Smith ikut berperan dengan porsi action yang banyak atau minimal berimbang dengan Jaden mungkin film ini gak akan terpuruk seperti ratingnya di imdb yang bisa dibilang jebl*k. Sayangnya itu gak dilakukannya dan malah memilih untuk duduk manis didepan layar monitor sambil mengawasi dan mengarahkan Jaden yang lari-larian dihutan. Efek CGI yang ditampilan difilm ini juga terasa nanggung. Yang agak aneh,kondisi bumi pasca ditinggalkan manusia kok gitu ya, kurang ditampilkan secara meyakinkan. Difilm ini semua terlihat serba nanggung. Menurutku Jaden Smith lebih cocok berperan difilm-film drama seperti Pursuit of Happyness, lebih kerasa melow-nya sekalian. Kalau untuk film-film kayak gini sepertinya kurang cocok. Kelihatan maksa dan kurang natural.

Tapi semuanya itu relatif ya. Mungkin ada juga yang terpuaskan dengan film ini. Tapi bagiku pribadi film ini jauh dari yang kuharapkan, bahkan sekali lagi dengan adanya Will Smith yang notabene selalu cemerlang dalam setiap film nya ternyata juga tidak cukup memberi andil di film ini. After Earth mungkin saja akan sedikit lebih mengesankan jika saja Shyamalan sedikit memberi twist seperti kebiasaanya di film-filmnya tapi ternyata  twist yang dinanti juga tidak ada. Mungkin satu-satunya yang masih bisa kita ambil dari film ini adalah pesan moralnya, Banyak pesan moral yang ingin disampaikan Will Smith lewat filmnya ini, diantaranya tentang pentingnya kedekatan ayah dan anak, kasih sayang antara ayah dan anak, dan bahwasanya manusia harus bisa melawan ketakutannya sendiri



28 Sep 2012

RED LIGHTS (2012)



   
Red Lights, sebuah film karya Rodrigo cortez. Tentu masih ingat kan dengan sutradara 1 ini. Yups, sang sutradara yang pada tahun 2010 lalu pernah sukses menggarap film berbudget super minim dengan ide genius, Buried. Kini Cortez hadir kembali mengusung Red Lights, sebuah film bergenre thriller supranatural. Red Lights secara singkat menceritakan tentang penyelidikan Dr Margaret Matheso (Sigourney Weaver)  yang skeptis terhadap dunia paranormal  bersama asistennya yang seorang Fisikawan bernama Tom Buckley (Cillian Murphy). Penyelidikan tersebut dilakukan Dr Margaret dan Tom dengan bantuan seperangkat alat yang mampu menangkap sinar merah dan menangkap gelombang suara. Setelah berhasil membuktikan kebohongan mentalis Leonardo Palladino (Leonardo Sbaragilla) kini mereka kembali mencoba membongkar kebenaran kekuatan supranatural dari seorang mentalis legendaris yaitu Simon Silver (Robert De Niro)  yang baru kembali setelah 30 tahun menghilang. 

Sebenernya lumayan tertarik dengan tema yang diusung. Tentang dua ilmuwan yang skeptis terhadap dunia paranormal dan berusaha membongkar kepalsuan-kepalsuan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku mempunyai kekuatan supranatural. Namun film ini sepertinya kurang bisa menyampaikan maksud-maksudnya. Banyak yang tidak tergali di beberapa bagian ceritanya. Sepanjang film banyak pertanyaan-pertanyaan bersliweran di otak yang akhirnya tidak dijelaskan di akhir film kenapa dan bagaimana. Bahkan ketika twist telah dibeberkan  di endingnya, rasanya juga kurang nendang. Red Lights  jelas belum bisa menyamai seniornya The prestige yang lumayan mirip ide filmnya, yaitu tentang pembongkaran trik magic. Juga tidak sekeren film supranatural lainnya seperti The Sixth Sence. 

Yah mungkin hanya  nama-nama di jajaran cast nya itulah yang lumayan memberi nilai positiv dan lumayan memberi magnet untukku menonton film ini, terutama karena adanya Cillian di film ini :p Selebihnya Red Lights tidak begitu memuaskan buatku. Sebagai thriller menurutku Red Lights juga terasa kurang memberikan ketegangan. karena sepanjang film hanya menjejali kita dengan pertanyaan-pertanyaan di otak yang tidak terselesaikan, juga sedikit twist yang agak membingungkan sampai akhirnya kita menyadari apa yang sebenernya terjadi.  Overall  film ini tidak buruk, hanya saja kalau misalnya ceritanya dieksekusi dengan lebih jelas, pasti akan lebih memuaskan untuk di tonton :)



14 Agu 2012

SUPER 8 (2011)


 


Sekelompok remaja di kota Lilian sedang membuat film zombie amatiran didekat rel kereta ketika tiba-tiba mereka tak sengaja melihat kecelakaan  sebuah kereta yang menabrak sebuah truk yang tiba-tiba saja melintas. Joel Courtney ( as Joe Lamb), Elle Fanning (Alice Daynard), Riley Griffiths (Charles Kaznyk), Ryan Lee (Cary) dan Zach Mills (Preston) bukanlah anak-anak yang mempunyai kekuatan super (tidak ada kaitannya dengan judulnya). Super 8 lebih berkaitan dengan kamera yang mereka gunakan dalam pembuatan film tersebut. Mereka kebetulan  membuat sebuah film dengan kamera berjenis super 8, maka kemudian film ini diberi judul Super 8. Tak disangka pagi hari setelah kejadian mengerikan tersebut banyak hal-hal misterius yang terjadi di kota Lillian. Beberapa orang, bahkan anjing-anjing  hilang, alat-alat rumah tangga pun juga raib. Apa hubungannya misteri-misteri itu dengan benda-benda yang sempat ditemukan Joe dkk didekat gerbong kereta?   

Kenapa yah bagiku film ini terasa sangat membosankan. Padahal rating di imdb lumayan mantap, diproduseri Steven Spielberg pula. Disutradarai juga oleh Jeffery Jacobs Abrams,  sang produser Clovervield yang sering menyembunyikan sang villain utama dalam tiap trailler dan film-filmnya. Yap mungkin saja jurus itu memang manjur kala ia terapkan di film Cloverfield dan film-filmnya yang lain, tapi menurutku tidak dengan filmnya yang 1 ini. Gw malah merasa bosan dan ngantuk ketika menonton. Mungkin JJ Abrams emang hoby banget memasukkan unsur-unsur drama di film-film sci-finya. Entahlah, yang jelas  sentuhan drama tersebut  justru membuat film yang harusnya fokus dalam ketegangan-ketegangan, menjadi datar dan bertele-tele.  

Tokoh utama dalam film yang disembunyikan itu juga udah bisa ditebak banget. Wujudnya juga bukan merupakan sesuatu yang baru. Jadi bagiku film ini tidak menawarkan sesuatu yang special. Mungkin yang bikin penasaran hanya pas awal-awal mereka menemukan kubus-kubus misterius tersebut. selebihnya sangat flat. Ya mungkin terlalu sadis juga kalo ku bilang film ini ga ada bagus-bagusnya karena dibagian-bagian tertentu tetap ada scene-scene yang lucu dan menarik juga, seperti waktu adegan  Elle Fanning sedang take adegan menjadi zombie, dan juga scene yang menarik lainnya adalah saat kecelakaan kereta yang super dahsyat itu .

Sepertinya film ini lebih menghibur untuk kalangan anak-anak dan remaja karena dibumbui kisah cinta monyet, juga dibumbui drama keluarga. Mungkin kalo ceritanya lebih difokuskan pada scene penggarapan film  dan scene makhluk asing akan lebih menarik dan tegang . Tapi nyatanya malah ceritanya meluber kemana-mana dengan bumbu drama disana sini. Untung saja  anak-anak yang bermain di film ini mempunyai kualitas akting yang mumpuni. Jadi bisa sedikit menutupi kekurangan-kekurangan. Happy watching :)

20 Jun 2012

ATM (2012)


 

Banyak film-film bertema claustrophobia yang pernah ada. Sebut saja Devil, Buried, Phone Booth dan Exam. Satu lagi film ruang sempit karya David Brooks yang baru saja ku tonton  yaitu ATM. Cerita bermula ketika Emily, David, dan Corey baru saja pulang dari acara natal di kantor. Karena lapar dan ingin beli makan, Corey berniat  mengambil uang di ATM sekitar rest area. Tapi naas bagi mereka, karena di malam yang dingin itu, di bilik ATM , mereka bertiga harus menghadapi teror sesosok misterius diluar ATM yang sama sekali ga menampakkan mukanya. Entah apa motiv si peneror  ini, sangat gak jelas kenapa tiba-tiba dia meneror 3 orang itu. Bahkan kenapa tidak langsung masuk ke bilik ATM aja kalo emang niatnya mau ngebunuh, malah diam dan mengamati mereka diluar ATM

Film yang  tidak mejeng dibioskop ini memang  ditulis juga oleh Chris Sparling (Buried). Sepertinya Chris Sparling seneng banget ya bikin cerita film dengan tema ruang sempit. Kali ini ATM lah yang dipilihnya sebagai lokasi yang menjebak sepanjang film. Idenya sih lumayan oke, tapi entah kenapa rasanya hambar-hambar aja ya. Sangat beda sekali dengan Buried yang berhasil menghipnotis dari awal film sampai akhir. Gw sih gak bilang film ini jelek banget at least ga sampe bikin ketiduran waktu nonton

Secara jalan cerita ATM  sangat biasa seperti formula film-film thriller ruang sempit yang pernah kutonton. Dengan ketegangan yang ala kadarnya. Pemilihan setting ruangan ATM  pun  ternyata juga tidak membuat film ini jadi mencekam karena ga ada aura kegelapan dan keterpurukan di sana. Sialnya lagi para pemainnya pun bermain biasa aja. Jadi akhirnya ya hanya kebosanan  yang dirasakan sepanjang film. Sepertinya David Brooks kurang memaksimalkan karakter-karakter para pemainnya sehingga cenderung tidak bisa dirasakan kuatnya interaksi mereka pada saat berdialog. Pada akhirnya film ini jadi begitu flat dan terasa sangat membosankan

'Jebakan-jebakan betmen' yang sengaja di ciptakan untuk ngibulin penonton pun sepertinya juga ga berhasil karena hampir semua udah bisa ketebak. Teror dari sang  psikopat tersebut juga terasa garing karena aksinya cenderung pasif. Apalagi sampai film berakhir gak dibeberkan apa motiv utama sang psikopat. Jadi serba gak jelas dan sepanjang film hanya bertegang-tegang ria saja. Padahal kalau misalnya David Brooks mau sedikit memoles film ini dengan dialog-dialog yang lebih cerdas dan menarik, sedikit menaikkan tempo film dengan ketegangan maksimal. juga,dengan pemilihan cast yang tepat, pasti film ini akan jadi tontonan yang hidup.

 

25 Feb 2012

THE WOMAN IN BLACK (2012)



Jujur diriku bukan penggemar film Harry Potter. bukan juga penggemar seorang Daniel Radcliffe. Dan dua unsur itu bukan alasan kenapa tiba-tiba memutuskan untuk nonton film yang diangkat dari novel karya Susan Hill ini. Bahkan sebelumnya gw juga gak begitu tau tentang jajaran cast yang menghiasi film ini. Bahkan jika disana ada nama Daniel Radcliffe dengan embel-embel Harry Potternya yang telah melekat kuat itu. Gw murni pada awalnya hanya ingin melihat ada apa dengan sang wanita misterius yang konon sering menampakkan diri dengan gaun hitamnya. Plot film ini mengisahkan Arthur Kipps (Daniel Radcliff), sang tokoh utama yang disitu menjadi seorang pengacara yang ditugaskan sang bos untuk mengunjungi Eel Marsh House, sebuah rumah kuno di  sebuah desa terpencil untuk menyelesaikan permasalahan berkas klien yang baru saja meninggal. Dan ternyata di sana ia menemui hal-hal misterius dan mengerikan, seperti melihat wanita bergaun hitam dan anak-anak yang terbunuh secara misterius. 

Ga ada yang terlalu istimewa dari The Woman In Black. Sebuah film horor thriller yang bahkan ga banyak melibatkan darah. Hanya misteri sepanjang film yang juga dikemas dengan lambat dan cenderung flat. Juga sisi-sisi keseraman yang cenderung klise, seperti  bayangan-bayangan, suara misterius, dan boneka-boneka juga manekin-manekin  yang siap meneror kita sepanjang pertengahan durasi. Mungkin bagi yang jam terbangnya kurang dalam menonton horor khususnya film-film dengan tema rumah berhantu akan merasa sangat-sangat seram menonton film ini. Tapi bagi yang sudah sering melihat film-film serupa, film ini akan terasa biasa aja. Mungkin kesan oldies khas horor klasiklah yang akan sangat terasa di sepanjang durasi (mengingat film ini berdasarkan novel lawas) dan juga beberapa moment-momen mengagetkan dipertengahan film. TWIB memang masuk jajaran box office, tapi entah kenapa buat saya horor yang 1 ini kurang greget  dan terasa membosankan ya.

Meski begitu, akting  Daniel Radcliffe sendiri bisa dibilang lumayan mengingat ini pengalaman pertamanya sepertinya bermain dalam film horor. Ekspresi takutnya lumayan  dapet  walaupun kadang mimiknya terasa membosankan dengan ekspresi-ekspresinya yang itu-itu aja. James Watkins sang sutradara sepertinya begitu yakin dengan filmnya ini. Mungkin karena faktor  Radcliffe yg secara tidak langsung sudah menjadi daya tarik film ini. Walaupun pada akhirnya terjebak pada ke-klisean. Ending film ini juga terkesan biasa aja. Jadi menurutku film ini belom bisa dikatakan istimewa (maap ya buat penggemarnya Daniel Radcliffe :p )


18 Des 2011

A LONELY PLACE TO DIE (2011)





Saat berada di sebuah rental film, pandanganku langsung tertuju ke 1 buah film. Menarik juga sampul filmnya, kayaknya film thriller adventure gitu kan. Ada gambar cewek lagi manjat tebing lengkap dengan ransel hikingnya. Akhirnya tanpa pikir panjang dan tanpa membaca apa yang tertera di sampul filmnya langsung aja ku pinjem tu dvd dengan harapan akan melihat film thriller pendakian yang  memacu adrenalin. Setelah sampe rumah langsung deh nge-play ni film. Adegan-adegan pertama  dibuka dengan  sangat meyakinkan, menunjukkan  bahwa ini emang film adventure tentang hiking alias panjat tebing. Tapi makin lama film ini makin jauh dari perkiraanku.  

Setelah beristirahat dan menentukan orientasi medan di pos, ke lima pendaki itu memulai agenda pendakiannya pada keesokan harinya. Mereka mulai melakukan perjalanan, ketika tiba-tiba mendengar suara-suara aneh dari dalam tanah. Mereka menemukan keberadaan seorang anak kecil yang dikubur hidup-hidup  dan (sialnya)  gadis kecil tersebut malah dibawa oleh rombongan pendaki tersebut . Yaahh akhirnya penonton pun kecewa sodara-sodara , karena ternyata  film ini tidak berfokus  ke adegan-adegan pendakian-nya. tapi malah jadi kayak film action- thiller gitu. karena setelah membawa gadis tersebut, para pendaki mulai dikejar-kejar oleh orang-orang bersenjata yang tentu aja ada kaitannya dengan gadis kecil tadi.  


Sebenernya sih sah-sah aja kalo mau menggabungkan unsur thriller adventure dengan action, tapi sepertinya formula yang di ramu di film ini malah menjadikan ni film kurang nendang .Sepanjang scene kejar-kejaran tersebut gw bener-bener gak menikmati momen thriller action tersebut. Coba kalo misalnya film ini emang fokus dengan panjat-panjatan tebing, dibuat sesuai dengan adegan-adegan seperti di scene pembuka pasti akan lebih menegangkan.

Intinyaa sih sebenernya film ini ga jelek. Bagi pecinta action mungkin akan sangat terpuaskan karena sepanjang film dipenuhi dengan adegan-adegan mengintai, bersembunyi, dan menembak. Tapi bagiku A Lonely Place to Die bukanlah film yg sedap untuk 'di santap' karena  hanya memberikan harapan-harapan kosong di awal film dengan pembukanya yang sepertinya menegangkan sekali tapi akhirnya malah dicampur aduk dengan adegan-adegan action yang membuat film ini menjadi kehilangan aura adventure-nya. Yah sebenernya agak subjektif ya, karena ekspektasiku di awal yang mengharapkan film ini adalah pure film adventure, jadi bukan berarti film ini jelek, mungkin cukup bagus buat orang yang memang suka dengan genre action :)