Tampilkan postingan dengan label lumayan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lumayan. Tampilkan semua postingan

11 Mei 2015

MAGGIE (2015)




Film zombie tak selalu menawarkan aksi brutal segerombolan mayat hidup, film zombie ada juga yang terasa melankolis dan pilu. Maggie contohnya, film horor satu ini menawarkan nuansa yang beda dari film zombie kebanyakan. Menceritakan tentang virus yang menyerang sebuah desa terpencil. Adalah Wade (Arnold Schwarzenegger), seorang ayah yang putrinya juga terserang virus necroambulist tsb.  

Maggie (Abigail Breslin) gadis malang tersebut mau tak mau harus menunggu sekitar 6 minggu untuk berubah menjadi sosok yang bukan lagi dirinya, ya sosok yang nantinya bukan tidak mungkin akan menyerang ayah yang dicintainya. Namun sang ayah sama sekali tak takut dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk itu. Ia tetap mempertahankan Maggie dan berjuang menyelamatkan anaknya tsb. Bahkan Maggie tetap diijinkan untuk tinggal bersamanya.

Meski merupakan film bertema zombie, Maggie tidak bercitarasa zombie yang kental dengan adegan cabik mencabik, tidak dipenuhi adegan teror mayat hidup yang intens. Film zombie satu ini menawarkan cerita yang gelap, namun tetap mengharu biru. Semacam drama survival yang lebih menggugah emosi penontonnya. Sangat sedikit adegan yang benar-benar mencerminkan keganasan zombie. Ini justru tentang proses menjadi zombie itu sendiri. Juga tentang konflik batin karakter-karakter yang ada didalamnya, berikut pilihan yang harus diambil dan resiko yang harus dijalani

Film ini ingin mengangkat tentang hubungan emosional ayah dan anak, tapi saya kurang begitu merasakan adanya ikatan perasaan yang dalam antara Wade dan Maggie. Ditambah lagi temponya yang lambat membuat film zombie satu ini makin terasa loyo. Akting keduanya terutama Abigail Breslin sih lumayan oke, tapi sepertinya ia terlalu manis untuk bertransformasi menjadi mayat hidup :v Saya lebih suka melihatnya jadi sosok lucu nan imut seperti di Little Miss Sunshine, atau di No Reservation. Tapi sekarang doi udah beranjak dewasa sih ya, udah banyak merambah ke genre-genre yang lebih menantang termasuk genre horor seperti ini. Oke deh dimaklumi :)

Tapi diluar semua kekurangannya, film ini mengakhiri semua konflik dengan keputusan yang cukup bisa diterima. Sebuah ending untuk film zombie yang melenceng dari apa yang sering kita saksikan. Namun di sinilah nilai plus film ini yang membedakannya dengan film zombie yang lain. Bagi kamu yang suka dengan teror zombie yang seru mungkin akan kecewa dengan film besutan Henry Hobson ini. Tapi bagi kamu yang senang melihat film zombie yang lebih 'manusiawi' mungkin akan suka dengan film ini :)


7 Mei 2015

TAKEN 3 (2015)



Saya tak terlalu menyukai film bergenre action, namun selalu suka jika menonton film-film aksi yang dibintangi Liam Neeson. Saya mulai jatuh hati ketika melihat aktingnya di Taken tahun 2008 silam, menyusul kegarangannya di Taken 2 empat tahun berikutnya. Itulah yang membuat saya merasa wajib menonton sekuelnya yang ke 3. Saya pikir film ini telah berakhir di Taken 2 tapi ternyata ada lagi lanjutannya. Senang dan excited tentunya dan berharap seri yang ke 3 ini akan menjadi sekuel pamungkas yang memuaskan

Tak seperti dugaanku, ternyata sekuelnya kali ini tidak lagi bercerita tentang penculikan seperti premis khas nya di dua seri sebelumnya. Kali ini justru Bryan Mills (Liam Neeson) lah yang menjadi tersangka atas pembunuhan sang mantan istri Lenore (Famke Jannsen) Tentu saja ia tak tinggal diam, sembari melakukan aksi kabur dan menghindari kejaran polisi, Bryan juga melakukan penyelidikan bersama rekan-rekannya mantan anggota CIA, yakni mencari dalang dibalik pembunuh sang mantan istri yang sebenarnya.

Tak ada yang salah dari akting aki ganteng satu itu, aksi-aksinya masih tetap garang dan memukau walaupun tak bisa dipungkiri ia tak lagi se-cekatan dulu waktu menyelamatkan sang putri di Taken 1, juga saat penculikan Lenore di Istanbul. Namun cerita yang diusung kali ini justru menurutku terlalu dipaksakan. Ingin terlihat berbeda dari premis yang biasanya malah menjadikan Taken 3 kehilangan pesonanya. Padahal yang membuat Taken selalu menarik adalah alur cerita yang dinamis dan gak membosankan, juga tempo yang enak diikuti. Dan di Taken 3 ini ceritanya tidak cukup kuat untuk menjadikan keseluruhan filmnya menjadi menarik.

Untuk adegan aksinya menurut saya masih lebih keren di seri-seri sebelumnya, bahkan di Taken 2 yang banyak orang menilai kurang bagus pun menurut saya masih lebih bagus dan asyik dinikmati. Di Taken 3 ini entah kenapa terasa flat dan di beberapa adegan actionnya malah kadang terasa gak realistis. Tapi tetep suka dengan kharisma Neeson di film ini saat berinteraksi dengan sang putri. Sosok ayah yang penyayang dan sangat melindungi sepertinya tlah melekat kuat dalam karakter Bryan Mills. Lembut tapi menyimpan ketangguhan

Yang jadi pertanyaan, akankah ada seri ke 4 nya. Semoga benar-benar berakhir di seri ke 3 ini. Saya berharap bisa melihat Neeson di film-filmnya yang lain, di film aksi yang baru mungkin. Saya yakin ia masih cukup mampu untuk memerankan film bergenre sejenis, karena aktor Irlandia itu semakin tua sepertinya malah semakin garang aktingnya. Entah maghnet apa yang menempel di dirinya sehingga saya yang sebenarnya tak begitu menggemari film action selalu terdorong untuk menonton film-film aksi yang dibintanginya. 

Overall untuk Taken 3 sebenarnya masih bisa dinikmati kok, walaupun tidak se-istimewa seri sebelumnya. Oh ya ada twist ending juga di seri ke 3 ini, walaupun predictable tapi mungkin ini akan menjadikan nilai tambah dibanding seri sebelumnya. Happy watching !!


INTO THE STORM (2014)

 

Badai adalah sesuatu yang pada umumnya membuat orang panik dan lari tunggang langgang karena merupakan bencana yang dahsyat dan bisa memporakporandakan sesuatu disekitarnya, termasuk menghilangkan nyawa seseorang. Tapi tornado difilm ini justru merupakan sesuatu yang dinanti-nantikan oleh sekelompok orang. Mereka adalah sekelompok tim pemburu hantu badai yang dipimpin oleh Pete (Matt Walsh) Ia sangat terobsesi untuk membuat sebuah film dokumenter. 

Ada juga 2 pemuda yang bercita-cita untuk menjadi artis terkenal, dialah Donk (Kyle Davis) dan Reevis (Jon Reep) yang gemar merekam peristiwa dan hal-hal ekstrim untuk diunggah ke youtube. Tidak hanya bercerita tentang sekelompok tim pemburu badai tsb, ada juga keluarga Gary Morris (Richard Armitage) yang saling terpisah dan akhirnya bergabung dengan tim pemburu untuk mencari sang anak, Donnie (Max Deacon) 

Dari awal Into The Storm tidak mampu membius saya untuk terus memandangi layar. Saya justru merasa bosan dengan percakapan-percakapan dan adegan demi adegan yang dikemas dengan sistem found footage tsb. Entah kenapa film ini tak bisa mengikat saya untuk menyatu dengan ceritanya padahal biasanya saya selalu suka dengan film-film dengan konsep seperti ini. Gaya mockumentary tsb sebenarnya sangat menunjang sebuah film disaster untuk menjadi lebih dramatis dan menarik. Tapi ketika diterapkan di film ini kok malah jadi hambar ya

Namun untungnya film ini berhasil mengembalikan perhatian saya dipertengahan film ketika badai tornado itu terjadi. Efek tornado itu benar-benar mengerikan. Kedahsyatannya membuat saya merinding, berikut suara-suara yang ditimbulkannya. Tornado dengan api merupakan gambaran yang paling spektakuler dari film ini. Dan saat kekacauan terjadi saya masih gak habis pikir dengan sekelompok orang yang rela mempertaruhkan nyawa dan justru kegirangan merekam momen tsb hanya demi kepopuleran dan uang. Tapi di situlah sisi konyol film ini 

Saya menyukai film tentang bencana tapi memang kebanyakan film bertema disaster tidak mempunyai naskah yang menarik, seperti film ini. Naskah seolah hanya menjadi penghantar cerita saja dan itu merupakan kelemahan film-film jenis ini, yang bisa menjadikan filmnya terpuruk. Pada akhirnya saya lebih tertarik untuk menyaksikan betapa dramatisnya adegan saat mereka bertahan agar tidak terbawa pusaran angin tornado tsb daripada mengikuti alur cerita yang ada. Walaupun begitu bukan berarti Into The Storm gagal total, hanya sedikit membosankan dan monoton. Selebihnya masih oke, terselamatkan dengan visual effect nya yang keren.

6 Mei 2015

LOCKE (2013)


Sudah terlalu sering saya bilang bahwa saya menyukai film-film sejenis ini. Ya, film ruang sempit yang hanya mengandalkan 1 pemain sepanjang film. Kalaupun ada karakter lain biasanya hanya akan berwujud suara sepanjang film. Dan sejauh ini film ruang sempit yang paling keren yang pernah saya tonton masih tetap Buried, thriller berbudget minim garapan Rodrigo Cortez itu belum ada yang menandingi keekstriman dan kegeniusannya hingga detik ini.

Dan kenapa saya suka dengan film-film jenis ini, jawabannya adalah karena saya selalu penasaran apa yang bisa dilakukan 1 aktor untuk tetap bisa membius penontonnya sepanjang scene yang monoton itu. Dan itu juga yang membuatku tertarik untuk menonton drama ruang sempit yang mengandalkan Tom Hardy sebagai aktor yang melakoni one man show kali ini.

Locke bercerita tentang kegalauan Ivan Locke yang harus menghadapi situasi sulit dan penuh tekanan sepanjang film. Malam itu ia meninggalkan pekerjaan konstruksinya, kemudian membelah kota Birmingham dengan mobil BMW X5 nya menuju kota London. Tak seperti pengendara pada umumnya yang bisa santai mengemudi dan fokus, pikiran Ivan justru bercabang kemana-mana. Bagaimana tidak, sembari mengemudi dengan kecepatan tinggi, konsentrasinya harus terbagi untuk menjawab beberapa panggilan telepon yang seolah tanpa henti. Yap, ia berada disituasi penuh tekanan malam itu.

Sangat kompleks masalah yang dihadapi Locke. Mulai dari masalah pekerjaan yang tiba-tiba ia tinggalkan sehingga Ia pun harus meyakinkan bossnya Gareth (Ben Daniels) melalui telepon, ia juga harus melimpahkan tanggung jawabnya kepada karyawannya yakni Donal (Andrew Scott). Lalu di antara dering telepon yang bertubi-tubi itu kadang ada juga suara anak-anaknya yang menanti kepulangannya, lalu ia pun malam itu juga harus mengungkapkan kenyataan pahit kepada istrinya, dan itu berarti menghadapi kemarahan dan kekecewaan sang istri. Di lain pihak seseorang telah menunggu kedatangannya diseberang telepon. Dan itulah yang menjadi pilihannya yang seolah tak bisa diganggu gugat lagi. Pilihan yang sangat menentukan hidup Locke.

Memang tak sekeren Buried, tak seekstrim ketegangan yang diciptakan Ryan Reynolds saat harus ketakutan didalam peti sempit sendirian. Locke menyuguhkan kepanikan yang lain. Kegusaran seorang Ivan Locke yang harus menebus sebuah kesalahan dimasa lalu, kesalahan yang tak akan mau ia balas dengan perbuatan yang sama. Tom Hardy menampilkan performa beda dari biasanya, dengan suara paraunya, dalam keadaan pilek yang juga ia ekspresikan tak kalah naturalnya, sepertinya ia berusaha tampil bijak dan tenang dalam menyikapi malam yang begitu membuatnya stres itu.

Kadang rasa bosan menghinggapi saya saat menonton film yang sepanjang durasinya hanya menyuguhkan sudut pandang Locke dengan jalanan di malam hari, tapi Tom Hardy sangat lihai memainkan ekspresi dan gerak-geriknya hingga saya tetap betah memelototi wajah gantengnya. Sebagai drama Locke cukup konsisten menciptakan suasana kekalutan, sekaligus apik dalam memaparkan drama itu sendiri. Sebagai film ruang sempit Tom Hardy cukup mampu memerankan karakter solo nya, apalagi ditunjang dengan naskah yang mengedepankan konflik moral dalam diri Locke, film ini cukup mampu menggugah kita untuk bersimpati pada Locke sebagai tokoh sentral.


5 Mei 2015

BACKCOUNTRY (2014)



Film survival tentang orang yang berpetualang ke sebuah tempat terpencil memang bukan sesuatu yang baru. Kali ini sebuah kisah nyata tentang pasangan yang menyambangi sebuah hutan yang terisolasi. Adalah Alex (Jeff Roop) dan kekasihnya Jenn (Missy Peregrym) mereka berdua merencanakan untuk berkemah di daerah hutan pedalaman yang bernama Blackfoot Trail. Sebenarnya ada sebuah misi yang akan dilakukan Alex untuk kekasihnya tsb yang akan kita tahu dipertengahan film (gamau spoiler :p).

Perjalanan mereka pada awalnya terasa normal, tak ada suatu halangan yang berarti. Mereka terlihat menikmati petualangan, sampai sore harinya, Jenn bertemu dengan sosok pria misterius yang tiba-tiba saja muncul dan bahkan disambut dengan keramahan olehnya, hingga mereka bertiga memutuskan makan malam bersama. Alex merasa terganggu dengan kehadiran Brad (Eric Balfour), bahkan Alex mencurigai Brad adalah lelaki gila, karena tidak mengetahui asal usulnya secara jelas. Keesokan harinya pasangan tsb mulai masuk lebih jauh ke hutan, tanpa peta, dengan ingatan seadanya dari Alex yang jumawa bahwa ia seakan sudah mengetahui dengan pasti seluk beluk daerah tsb. Dan teror demi teror yang tak terduga pun akhirnya bermunculan

Mungkin karena didasari oleh sebuah kisah nyata, semuanya yang tersaji terasa begitu natural dan realistis. Teror situasi hutan yang sepi dan mengancam dengan kesan sunyinya mampu membuat saya merasa ikut berjalan dibelakang Jenn dan merasa dibuntuti sesuatu. Tanpa backsound yang mendominasi, film thriller Canada ini mampu membuat adegan demi adegan begitu terasa real. Teror binatang buasnya juga tetap mengerikan walaupun hanya berupa beruang, bukan sosok binatang seperti ular atau buaya.

Teror secara psikis, kegentingan, kepanikan semuanya menyatu dengan apik dan disajikan dengan rapi. Membuat saya terkadang miris dengan nasib kedua pasangan yang terlihat saling mencintai tsb. Selain itu nuansa survival nya juga sangat terasa. Saat mereka kekurangan makanan, minuman, dan cara mereka bertahan hidup mampu digambarkan dengan begitu nyata. 

Akting mumpuni yang dilakukan keduanya jelas menunjang keseluruhan film ini. Tanpa akting yang apa adanya dan natural seperti itu, film ini tak akan bisa mengalir sebegitu rapi dan menyenangkan, hanya akan menjadi thriller kacangan. Kekurangannya mungkin film ini tidak mempunyai dasar cerita yang spesial, kecuali basic kisah nyatanya. Beruntung kisah nyata tsb mampu dituangkan dengan baik dan membuat saya setidaknya bersimpati dengan pengalaman mencekam itu. Not bad lah filmnya, pemandangan hutannya juga keren. Happy watching !!


21 Sep 2014

GRAND PIANO (2013)




Tom Selznick kali ini akan bermain dalam konser besar dalam rangka mengenang kematian sang pianis legendaris yang juga merupakan gurunya. Setelah kegagalannya 5 tahun yang lalu dalam memainkan La Cinquette musik yang sangat susah dimainkan dan membutuhkan kemampuan luar biasa. Kini ia kembali dan berkesempatan memperbaiki citra dirinya yang saat itu sempat terjatuh gara-gara kegagalan dalam konsernya tsb. Tom tentu saja sangat nervous, gugup karena tak mau kejadian 5 tahun yang lalu terulang kembali. Apalagi ini adalah pertama kalinya ia bermain dengan grand piano yang kini diwariskan kepadanya tsb

Membayangkan menonton Elijah Wood yang demam panggung memainkan jari-jari lentiknya diatas sebuah piano besar diatas panggung megah dengan sentuhan dekorasi yang sangat berkelas. Terlihat sangat meyakinkan dan elegan memang pada awalnya. Ditambah lagi adanya teror dari seseorang yang terus mengarahkan sniper ditubuh sang pianist, mengingatkanku dengan Phone Booth tentu saja, tapi ini dalam versi yang beda dari sensasi claustrophobic dalam telepon umum. Tom memang tertekan, terintimidasi oleh sang peneror tapi lebih kepada nyalinya yang makin lama makin menciut walaupun dia berada dalam ruangan yang luas dengan penonton yang begitu banyaknya.

Permainan menegangkan pun dimulai ketika jari lentik Tom Selznick (Elijah Wood) mulai menari-nari menekan tuts demi tuts piano peninggalan gurunya tersebut. Ketika ia menyadari bahwa ada seseorang yang mengancam keberadaannya dan sang istri Emma. Sang peneror mengancam didalam lembaran partiturnya bahwa ia akan membunuhnya juga sang istri jika Tom melakukan kesalahan walau hanya satu nada saja dalam permainannya. Tak cukup disitu, sang peneror juga menyuruh Tom memainkan La Cinquette yang dulu pernah membuat ia malu setengah mati karena pernah gagal memainkannya. Tom yang menyimpan sebuah trauma karena kegagalannya dalam konser 5 tahun yang lalu pun makin demam panggung dan makin gelisah tak karuan. Namun ia tetap berusaha fokus dan tetap memainkan jarinya dengan sangat cepat, secepat degup jantungnya yang makin berkejaran

Setting film ini memang sangat megah, performa Tom pun sekilas sangat meyakinkan dengan dandanan klimisnya, baju rapih dan kerutan wajahnya yang mengisyaratkan kegugupan. Ancaman si peneror pun pada awalnya sempat membuatku merasakan ketegangan seiring dengan keresahan Tom yang mulai mengucurkan keringat dingin didahinya. Didukung dengan permainan piano yang mendayu penuh misteri mengiringi ketegangan, semua berjalan dengan tempo yang lumayan cepat tapi entah kenapa film ini terasa monoton hingga dipertengahan film. 

Entah kenapa ketegangan itu terasa makin biasa seiring dengan permainan piano dan ekspresi wajah Elijah Wood yang semakin membosankan duduk dibalik grand piano tsb. Grand piano dan semua elemen diruangan megah tersebut pada akhirnya seperti hanya membungkus semua ketegangan yang klise. Ini tak beda jauh dengan film-film thriller diluaran sana yang kemasannya mungkin lebih sederhana. Tapi Grand Piano dikemas dengan bungkus yang elegan, hanya itu bedanya. Bahkan sang peneror pun ternyata tak membuatku menjadi terkesan (biasanya kalo ada villain yang keren malah terkesan sama vilainnya), Nah di film ini sosok John Cusack ga bisa memberikan itu semua, gak semengerikan yang dibayangkan, begitupun motiv yang mendasari ancamannya

Film ini diproduseri oleh Rodrigo Cortez tapi gak berhasil membuatku terpaku dan terpesona seperti ketika menonton Buried yang lebih sederhana dan jauh dari unsur-unsur kemegahan namun jenius itu. Ini terlalu bagus diawal namun membosankan pada akhirnya. Endingnya memang menjawab semua misterinya, apa motiv dari si peneror dll tapi thriller satu ini kurang bisa membekaskan kesan yang mendalam. Memang gak buruk sih, masih ada kelebihan dari segi setting nya yang megah dan sinematografinya, tapi gak ada sesuatu yang istimewa yang membuatku akan terus mengingat adegan tertentu di film ini. Seharusnya dengan tampilan dan setting yang begitu megah dan epic, Grand Piano bisa memberikan lebih dari ini, terutama dalam penyelesaiannya.



CHEF (2014)



Dalam dunia kuliner, setiap orang pasti mempunyai ide untuk bereksperimen dan mengeksplorasi berbagai rasa. Apalagi jika kita adalah seorang chef sebuah restoran ternama pastilah ada keinginan untuk memanjakan lidah para pengunjungnya dengan citarasa yang baru. Seperti juga seorang Carl Casper (Jon Favreau), ia adalah seorang koki sebuah restoran terkenal yang bisa dibilang kreatif dan idealis, suka menciptakan kreasi masakan yang baru. Begitu pula ketika ia harus menjamu seorang kritikus makanan, ia pun telah bersiap untuk menghidangkan segala yang beda dan lezat pastinya

Namun semua ide kreatifnya tak bisa terwujud lantaran sang bos yakni Riva (Dustin Hoffman) menyuruhnya untuk membuat menu classic. Pada akhirnya ia direview begitu buruk bahkan ulasan tentang masakannya tersebut merambah luas ke dunia maya. Carl kebakaran jenggot dan sempat mendamprat sang kritikus, dan sial tanpa disadari peristiwa itu justru makin membuat reputasinya kian memburuk karena video caci makinya terhadap sang kritikus juga mulai tersebar didunia maya. Lengkap sudah kesialan yang Carl dapatkan. Dalam keadaan yang serba terpuruk tersebut, ia pun mulai mencoba bangkit dengan memulai sebuah usaha unik yakni berjualan makanan menggunakan food truck, dibantu dengan sang anak dan rekannya ia pun memulai bisnis barunya tsb

Dari film ini bisa dilihat bahwa ternyata bekerja disebuah restoran tersohor dan menjadi seorang chef ternama sekalipun bukanlah sebuah jaminan kebahagiaan. Kreatifitas yang dimiliki Carl terkungkung. Ia tak pernah memiliki kebebasan berekspresi lewat masakannya, bahkan waktu bersama sang anak pun seolah menjadi tersita. Tak disangka lewat bisnis food trucknya ternyata justru membuat hidup Carl lebih enjoy, lebih memiliki kebebasan dalam menjalani hobby sekaligus pekerjaannya tanpa merasa ditekan, tanpa merasa diatur dan itu justru yang mampu menghantarkannya pada sebuah kebangkitan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Seperti dikehidupan nyata aja deh, kadang orang lebih memilih untuk membuka bisnis kecil-kecilan, tapi memang sesuai dengan apa yang diinginkan daripada mempunyai profesi yang kelihatannya menjanjikan dan keren, tapi harus bekerja dibawah kuasa seseorang yang mempunyai misi dan visi yang kadang gak sejalan

Tak hanya mengiming-imingi kita dengan berbagai sajiannya yang membuat kita ngiler, berikut pengambilan gambar makanan yang terlihat menggiurkan, Chef juga dibungkus dengan drama, hubungan Carl dan anaknya Percy yang mulai renggang sejak sang ayah terlalu sibuk dengan pekerjaaannya didapur. Dramanya gak terlihat mendominasi, ia terasa membaur dengan hangat dibalik semangat pekerja keras seorang Carl Casper yang juga terasa sekali dalam film ini. Sempilan komedi dari dialog-dialognya pun juga cukup menggelitik.

Ditambah pula dengan penggunaan social media yang cukup mendominasi sepanjang film ini menjadikan Chef makin terasa masa kini banget. Bahkan seperti potret kehidupan jaman sekarang, dimana digambarkan seorang anak seumuran Percy justru lebih melek internet daripada orang dewasa seperti Carl. Namun disini ditunjukkan bahwa Percy memanfaatkan itu dalam sisi positif. Ya, ke-eksisannya dalam menggunakan socmed justru menjadi senjata ampuh dalam kegiatan pemasaran bisnis food truck sang ayah.

Semua elemen dalam film ini berhasil diracik Favreau menjadi sebuah tontonan lezat, selezat sandwich cubano yang ia olah. Hubungan ayah-anak juga dengan mantan istri pun ditampilkan dengan mengalir dan realististis. Film ini dengan santai mengajak kita berpetualang bersama food truck sekaligus menikmati kerenyahan komedi, juga menikmati kehangatan drama yang membalutinya. Sempet terlintas dipikiranku, enak juga kali ya jualan street food pake truck kaya di film ini, ga melulu cuma disatu tempat aja, jadi  kita yang menghampiri tempat-tempat ramai dan gak akan membosankan pastinya haha, bisa sambil liburan dan jalan-jalan juga. :D




30 Agu 2014

OCULUS (2014)




Oculus bercerita tentang  Kaylie (Karen Gillan) dan Tim Rusell (Brenton Thwaites) yang terpisah sejak 10 tahun yang lalu semenjak orang tuanya meninggal. Tim dituduh melakukan pembunuhan atas orang tuanya dan di masukkan ke panti rehabilitasi. Diceritakan kini masa rehabilitasi Tim telah berakhir dan ia kembali bisa berkumpul dengan sang kakak. Sang kakak, Kaylie yang bekerja dipelelangan barang baru saja membeli sebuah cermin yang ia duga sebagai penyebab kejadian yang menimpa keluarganya 10 tahun lalu.

Tim yang tidak percaya bahwa tragedi yang menimpa keluarganya dahulu adalah karena ulah cermin tua tersebut sebenernya cukup skeptis dengan pendapat sang kakak dan menolak saat diajak untuk ikut membalas dendam dan melakukan pembuktikan hal-hal supranatural pada cermin yang disebut dengan lasser glass tsb. Sementara Kaylie terlihat sangat bersemangat untuk menyiapkan semuanya, seperti memasang kamera, alarm, penghancur cermin dsb

Sebenarnya Oculus cukup membuatku penasaran dengan hal mengerikan apa yang akan disuguhkan. Bertema sebuah cermin kuno pastinya akan sangat creepy dan nuansa terornya akan dapet banget. Dari posternya juga semakin mendukung untuk berekspektasi lebih pada film besutan Mike Flanagan ini. Dan ternyata film ini gak sesimple budgetnya yang konon minim. Alur film ini malah tergolong rumit dan tumpang tindih gak karuan karena maju mundur dan bercampur baur antara masa lalu dan masa kini

Walaupun sempet bengong pada awalnya, tapi akhirnya mulai terbiasa juga dan mulai paham gaya bercerita Mike Flanagan yang sepertinya menginginkan kita untuk tidak sekedar bersantai dan menonton tapi juga harus mikirr. Yaa ..jangan berharap anda akan duduk manis dan terlena doank, terbuai tanpa harus mengerutkan dahi saat menonton film ini :D 

Teror Oculus ternyata tak seperti dugaanku yang mengira bahwa si cermin tersebut bisa meneror secara frontal, karena ternyata Flanagan lebih menekankan untuk meneror penonton dari sisi psikologisnya, sedikit mengingatkan pada Sinister, tetapi ini jauh lebih rumit dan lebih memaksa kita untuk capek-capek mikir, memilah dan menduga mana yang merupakan kenyataan dan mana halusinasi. Hadehh ribet :)

Dan menurutku Oculus tuh kayaknya lebih ke thriller psychological deh karena adegan-adegan gorynya lebih mendominasi ketimbang jump scare dan hantu-hantuannya. Buat yang gak kuat nonton darah, film ini tidak di rekomendasikan, karena pasti bakalan kebayang adegan di beberapa scene-nya. Walaupun gak ekstrim juga gorenya tapi cukup membuat perasaan gak nyaman. Salah satu kelebihan Oculus, walaupun terkesan kelam adalah pemilihan endingnya, Adegan endingnya termasuk bagus dan paling memorable menurutku.

Secara ide cerita memang gak terlalu fresh ya tema nya, tentang benda kutukan gitu. Tapi kelebihan film ini ada di gaya penceritaannya dan alurnya yang mondar mandir dari masa lalu ke masa kini secara bercampuran. Membuat oculus menjadi sebuah horor yang beda, mengajak penonton ikut bermain dengan fantasinya masing-masing. Oculus sepertinya gak mau terjebak dengan pakem horor pada umumnya yang biasanya secara runtut dan gamblang membawa penonton pada momen momen mengerikan. Dan itu jadi nilai plus film ini menurutku

Tapi Oculus gak sepenuhnya bagus, Kekurangan film ini pas film berakhir agak kurang puas karena beberapa misteri masih menggantung diakhir film, seperti misteri tentang cermin tersebut yang gak terungkap jelas. Intinya buat orang yang hobi mikir, mungkin film ini cocok karena membutuhkan imajinasi dan kreatifitas otak, tapi buat tipe penonton yang simpel dan gak mau ribet, maka akan sangat membosankan dan membingungkan. Happy watching ..


2 Feb 2014

ALL IS LOST (2013)




Wah, lama sekali rasanya tidak menulis diblog ini. Entah kenapa tiba-tiba kehilangan mood menulis beberapa bulan ini, baru sekarang semangat pingin nulis review lagi. Kali ini All is Lost, sebuah film di akhir tahun 2013 yang akan ku ulas. Di blog ini memang tidak selalu film-film ter-gress yang akan diulas, karena gak selalu rajin nonton film teranyar hehe, hanya sekedar tempat menuangkan uneg-uneg aja tentang film.. Oke cekibrot !

Jadi All is Lost ini sejenis film survival seperti yang pernah ada sebelumnya (Cast Away, Life of Pi, Gravity) Tapi Lebih mirip Life of Pi sih kalo menurutku. Hanya saja All Is Lost terasa lebih simpel karena hanya menggunakan 1 pemain hampir sepanjang film. Tanpa berbagai hewan buas, murni hanya melawan alam saja. Ya, perjuangan melawan alam, sendirian ! itulah yang dialami seorang pria tua yang diperankan oleh Robert Redford. Memulai kenyataan pahit saat berlayar dengan kapal layar pribadinya dan harus terombang ambing disamudera hindia selama 8 hari. 

Jadi ceritanya saat pria tersebut berlayar sendirian, tiba-tiba saja kapal layarnya terbentur sebuah kontainer sehingga mengalami kebocoran dan rusak. Tak hanya kenyataan pahit bahwa kapal layarnya mengalami kebocoran dan terendam air. Saat berusaha memperbaiki kapal pribadinya, badai tiba-tiba saja datang dan begitulah yang akan dihadapi Redford selama 8 hari. Terombang ambing disamudra hindia sendirian, hanya bertemankan kesunyian dan badai yang kadangkala memecah sepi, mengombang-ambingkan nyalinya, menghabisi apa yang dimilikinya, kecuali rasa pantang menyerah dan tekat untuk tetap bangkit dan bertahan

Film survival selalu mengajarkan untuk mengerti arti perjuangan, mengajarkan bagaimana rasanya saat dihimpit kesulitan hingga seperti tak ada harapan lagi. Mengajarkan kita untuk tetap bersabar dan berusaha bangkit. All is Lost adalah film yang cukup bisa diresapi maknanya walaupun tak ada dialog hampir sepanjang fim. Tidak hanya tanpa dialog, All is Lost juga tak mempunyai latar belakang cerita yang jelas, benar-benar langsung mengenalkan kita akan sosok pria tanpa identitas. Tapi anehnya saya bisa tetap peduli dengan nya. Dengan nasib sang pria yang tak lagi muda tersebut

Ya, akting Robert Redford emang patut dipuji. Suatu beban tentunya menjadi satu-satunya pemain dalam sebuah film. Semua akan tergantung pada sang tokoh tersebut. Apalagi film-film model tanpa dialog gini, pasti butuh aktor yang benar-benar bisa memegang kendali dan memainkan ekspresi. Dan Redford kurasa berhasil. Ia bisa membuat kita ikut merasakan berbagai macam emosinya. Seperti halnya seorang Ryan Reynolds dalam Buried yang hanya bermain sendirian. Redford pun mampu menghipnotis kita untuk tetap peduli padanya walaupun ia hanya mengucapkan beberapa kata sepanjang film. Aktingnya terlihat matang dalam menggambarkan kondisi psikologisnya. Dari semangatnya, kegigihannya hingga keputus asaannya semua tergambar dengan baik

Overall ini adalah sebuah film survival yang lumayan menegangkan, bisa dibilang melebihi ekspektasiku lah.Yang jelas tetap bisa dinikmati walaupun minim dialog. Emosi dan penjiwaan aktor utamanya mampu tetap merebut hati. Nuansa kelam dan dramatis mampu tergambar dengan baik. Suka sekali dengan  pengambilan gambarnya, di beberapa adegan terlihat indah dan artistik. Pesan-pesannya cukup tersampaikan walaupun tanpa dialog. Bukan sebuah film survival yang sempurna memang, tapi untuk ukuran film minim dialog, All is Lost mampu tampil tanpa membuat saya mengantuk  :)


4 Nov 2013

OBLIVION (2013)


 

Sejujurnya agak bosan menonton film-film bergenre fiksi ilmiah yang ceritanya ga jauh-jauh dari invasi alien, kehancuran bumi dan kehidupan manusia yang bersetting dimasa depan. Apalagi setelah kemarin sempet menonton After Earth yang bisa dibilang mengecewakan itu. Tapi entah kenapa tetap terdorong pengen melihat film sci-fi 1 ini. Mungkin karena dibintangi Tom Cruise yang secara gak langsung juga menjadi magnet tersendiri. Apalagi melihat ratingnya di imdb yang bisa dibilang lumayan bagus. Film ini disutradarai oleh Joseph Kosinski, yang sebelumnya pernah membuat kita kagum dengan kecanggihan-kecanggihan yang ditawarkan dalam Tron Legacy.

Oblivion bersetting di bumi pada tahun 2077 ketika semua manusia telah dievakuasi ke Titan, salah satu bulan di Saturnus. Bumi diceritakan telah mengalami kehancuran dan kepunahan pasca perang nuklir antara manusia dan 'alien' yang disebut scavanger. Perang tersebut memang dimenangkan oleh manusia, tapi efek dari perang nuklir tersebut planet bumi kini menjadi rusak dan tak bisa ditinggali lagi. Kini bumi hanya menyisakan Jack Harper (Tom Cruise) dan rekannya, Victoria (Andrea Riseborough) yang bertugas untuk mengambil sumber daya yang tersisa  termasuk memperbaiki dan merawat drone, sebuah mesin pelindung Righ Hydro (mesin penyedot air laut untuk diubah menjadi fusi/tenaga baru).

Di awal film, Oblivion sedikit lambat berjalan, hingga membuatku sedikit mengantuk apalagi menonton film ini ditengah malam. Banyak scene-scene yang sebenernya bisa aja di skip karena ga terlalu penting dan terkesan dilama-lamain. Sampai tiba dipertengahan untungnya cerita lebih dipaparkan dengan menegangkan dan penuh misteri. Joseph Kosinski kali ini mempunyai naskah yang jauh lebih kompleks walaupun tidak fresh. Memang ide dan naskahnya tidak original, banyak aroma film fiksi ilmiah lain yang masih bisa kita rasakan di film ini, tapi Oblivion mampu mengolah hal-hal klise tersebut menjadi sebuah tontonan yang lebih berbobot. Kosinski untungnya tahu apa yang harus ditambahkan agar film ini tidak terlalu membosankan dengan segala ke-kliseannya.

Kosinski seakan juga tahu bagaimana menutupi kekurangan film ini dan dengan lihai mengikat penonton untuk tetap duduk manis dengan menggandeng sinematografer Claudio Miranda (Life of Pi) .Tak diragukan lagi Claudio Miranda tentunya mampu memoles Oblivion sehingga setiap gambar yang ditampilkan terlihat begitu cantiknya dan sangat memanjakan mata. Scoring di film ini juga sangat sangat mengagumkan dan cocok sekali mengiringi berbagai adegan, membuat nuansa sci-fi makin kental saja. Film ini juga berbalut keromantisan dibeberapa bagian. Dan menurutku cukup efektif untuk memberi pemanis dalam sebuah fiksi ilmiah . Gak hanya keromantisan, Kosinski juga memunculkan beberapa twist yang cukup mengejutkan

Akting Tom Cruise tidak begitu istimewa, tapi masih saja memancarkan kharismanya yang begitu kuat dan seakan menjadi magnet sepanjang film. Akting Olga Kurylenko pun juga tidak begitu istimewa. Chemistry Cruise dan Kurylenko juga sebenarnya tidak begitu menyatu, tapi apalah arti sebuah chemistry yang kurang jika semuanya seakan tertutupi dengan sajian sinematografi yang memukau. Penonton juga mungkin akan mengabaikan keterikatan batin antar pemainnya, toh ini adalah memang sebuah sajian yang lebih menonjolkan visualisasi dan kecanggihan, bukan sebuah drama romantis yang butuh kedalaman emosi. Overall Oblivion memang tidak mengusung cerita yang original tapi diluar ekspektasi-ku ternyata film ini tidak begitu mengecewakan. Memang tidak terlalu istimewa, masih banyak kekurangan disana-sini, tapi setidaknya kali ini Kosinski mampu membuat sebuah karya yang gak hanya memukau dari segi visual tapi secara cerita juga mempunyai kekuatan dan kedalaman tersendiri. Happy watching ^^