Tampilkan postingan dengan label comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label comedy. Tampilkan semua postingan

21 Sep 2014

CHEF (2014)



Dalam dunia kuliner, setiap orang pasti mempunyai ide untuk bereksperimen dan mengeksplorasi berbagai rasa. Apalagi jika kita adalah seorang chef sebuah restoran ternama pastilah ada keinginan untuk memanjakan lidah para pengunjungnya dengan citarasa yang baru. Seperti juga seorang Carl Casper (Jon Favreau), ia adalah seorang koki sebuah restoran terkenal yang bisa dibilang kreatif dan idealis, suka menciptakan kreasi masakan yang baru. Begitu pula ketika ia harus menjamu seorang kritikus makanan, ia pun telah bersiap untuk menghidangkan segala yang beda dan lezat pastinya

Namun semua ide kreatifnya tak bisa terwujud lantaran sang bos yakni Riva (Dustin Hoffman) menyuruhnya untuk membuat menu classic. Pada akhirnya ia direview begitu buruk bahkan ulasan tentang masakannya tersebut merambah luas ke dunia maya. Carl kebakaran jenggot dan sempat mendamprat sang kritikus, dan sial tanpa disadari peristiwa itu justru makin membuat reputasinya kian memburuk karena video caci makinya terhadap sang kritikus juga mulai tersebar didunia maya. Lengkap sudah kesialan yang Carl dapatkan. Dalam keadaan yang serba terpuruk tersebut, ia pun mulai mencoba bangkit dengan memulai sebuah usaha unik yakni berjualan makanan menggunakan food truck, dibantu dengan sang anak dan rekannya ia pun memulai bisnis barunya tsb

Dari film ini bisa dilihat bahwa ternyata bekerja disebuah restoran tersohor dan menjadi seorang chef ternama sekalipun bukanlah sebuah jaminan kebahagiaan. Kreatifitas yang dimiliki Carl terkungkung. Ia tak pernah memiliki kebebasan berekspresi lewat masakannya, bahkan waktu bersama sang anak pun seolah menjadi tersita. Tak disangka lewat bisnis food trucknya ternyata justru membuat hidup Carl lebih enjoy, lebih memiliki kebebasan dalam menjalani hobby sekaligus pekerjaannya tanpa merasa ditekan, tanpa merasa diatur dan itu justru yang mampu menghantarkannya pada sebuah kebangkitan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Seperti dikehidupan nyata aja deh, kadang orang lebih memilih untuk membuka bisnis kecil-kecilan, tapi memang sesuai dengan apa yang diinginkan daripada mempunyai profesi yang kelihatannya menjanjikan dan keren, tapi harus bekerja dibawah kuasa seseorang yang mempunyai misi dan visi yang kadang gak sejalan

Tak hanya mengiming-imingi kita dengan berbagai sajiannya yang membuat kita ngiler, berikut pengambilan gambar makanan yang terlihat menggiurkan, Chef juga dibungkus dengan drama, hubungan Carl dan anaknya Percy yang mulai renggang sejak sang ayah terlalu sibuk dengan pekerjaaannya didapur. Dramanya gak terlihat mendominasi, ia terasa membaur dengan hangat dibalik semangat pekerja keras seorang Carl Casper yang juga terasa sekali dalam film ini. Sempilan komedi dari dialog-dialognya pun juga cukup menggelitik.

Ditambah pula dengan penggunaan social media yang cukup mendominasi sepanjang film ini menjadikan Chef makin terasa masa kini banget. Bahkan seperti potret kehidupan jaman sekarang, dimana digambarkan seorang anak seumuran Percy justru lebih melek internet daripada orang dewasa seperti Carl. Namun disini ditunjukkan bahwa Percy memanfaatkan itu dalam sisi positif. Ya, ke-eksisannya dalam menggunakan socmed justru menjadi senjata ampuh dalam kegiatan pemasaran bisnis food truck sang ayah.

Semua elemen dalam film ini berhasil diracik Favreau menjadi sebuah tontonan lezat, selezat sandwich cubano yang ia olah. Hubungan ayah-anak juga dengan mantan istri pun ditampilkan dengan mengalir dan realististis. Film ini dengan santai mengajak kita berpetualang bersama food truck sekaligus menikmati kerenyahan komedi, juga menikmati kehangatan drama yang membalutinya. Sempet terlintas dipikiranku, enak juga kali ya jualan street food pake truck kaya di film ini, ga melulu cuma disatu tempat aja, jadi  kita yang menghampiri tempat-tempat ramai dan gak akan membosankan pastinya haha, bisa sambil liburan dan jalan-jalan juga. :D




14 Nov 2013

THE FLU (2013)



Flu adalah virus yang tergolong cepat dalam penularannya. Dalam keseharian saja kita bisa dengan cepatnya terserang flu hanya karena berinteraksi dengan orang yang sedang mengidapnya. Namun ternyata virus flu bisa juga berdampak besar hingga membuat kekacauan disebuah negara. Berawal dari sebuah box container berisi sekelompok mayat imigran yang diselundupkan dari Filipina, Bundang salah satu kota di Seoul tiba-tiba saja terserang wabah H5N1 atau flu burung. Virus ini bermutasi menjadi virus yang sangat mematikan dan dengan cepat menularkan virus ke seisi kota Bundang melalui udara setelah satu-satunya imigran yang masih hidup berhasil lolos dari container

Bisa ditebak kelolosan dari sang survivor mengakibatkan efek besar bagi kota Bundang. Hanya dari satu orang yang melakukan interaksi, kemudian virus itu  merembet ke orang lainnya. Kurang dari 24 jam virus itupun menyebar dengan cepatnya, bahkan bisa menewaskan 1000 orang dalam kurun waktu satu jam. Orang yang tertular kondisi tubuhnya langsung melemah, kemudian batuk berdarah, lalu tiba-tiba saja roboh saat melakukan aktivitasnya. Mengerikan apa yang disuguhkan oleh  Kim Sung-Su, sebuah disaster movie tentang virus mematikan tapi benar-benar di buat dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dikehidupan nyata

Dibuka dengan sentuhan komedi khas korea, cerita terus digeber sampai pertengahan film. Cerita kemudian berfokus pada wabah yang menimbulkan kekacauan tersebut. Yang paling menyenangkan Kim memompa ketegangan dengan sangat intens. Kebanyakan film korea terlalu berbelit-belit dan lambat dalam eksekusinya, tapi beda ketika menonton The Flu ini. Perlahan Kim mulai mengaduk emosi kita dari awal film ketika si tokoh utama mengalami kecelakaan. Ia seolah ingin mengajak kita pemanasan sejenak sebelum pada akhirnya ia membawa kita pada ketegangan yang sebenarnya. Dan setelah permasalahan utama dipaparkan kitapun telah siap untuk ikut merasakan kegentingan yang terjadi, ikut merasakan dampak dari wabah flu yang menyebar dengan cepat secepat tempo film ini dalam menggambarkan kekacauannya

The Flu tentu saja tidak hanya berfokus pada disaster movie, bukan film korea namanya kalau tidak mengusung unsur drama. Sorotan utama film ini adalah si petugas pemadam kebakaran Ji goo (Jang Hyuk) dan si dokter muda nan cantik In-Hae (Soo-Ae). Keduanya pernah bertemu di awal film ini saat Ji Goo menyelamatkan In-Hae ketika ia mengalami kecelakaan mobil,  In-Hae  mempunyai seorang putri yang lucu dan sangat menggemaskan yaitu Kim Mi Reu (Park Min Ha) yang karena suatu hal menjadi dekat juga dengan Ji Goo. 


Bicara masalah akting, chemistry mereka bertiga sangat-sangat klik. Keterikatan emosi diantara mereka juga sangat terlihat terutama antara In-Hae dan Mi-Reu. Akting luar biasa juga diperlihatkan Park Min Ha (Mi-Reu) yang tanpa disangka bisa sebegitu pintarnya memerankan seorang anak kecil yang mampu menggambarkan ketakutan-ketakutannya. Ia mampu mengekspresikan seorang anak yang selalu ingin dekat dengan sang ibu ketika terpisah. Segala ekspresi, terutama tangisan Mi Reu juga pastinya membuat kita iba dan juga kagum, karena anak sekecil itu bisa sangat pandai mengolah mimiknya. Juga kepolosan, celetukan dan keimutannya juga bikin gemes banget :3

Film ini tidak hanya membuat kita tegang dan ikut merasakan kehebohan yang terjadi di kota Bundang, tidak hanya menggambarkan betapa ricuhnya situasi korea dengan segala keputusan pemerintah yang harus diambil, berikut tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk menekan angka kematian yang semakin bertambah. Ditengah segala kekacauannya diselipkan juga keharuan khas film korea dengan segala adegan yang berpotensi membuat kita mewek, minimal berkaca-kaca.


Mungkin bagi sebagian orang yang tidak terlalu suka dengan sentuhan melodrama akan merasa film ini terlalu mendramatisir suasana dibeberapa bagiannya. Tapi buatku tidak terlalu mengganggu sih sentuhan-sentuhan melow yang dihadirkan. Malah menjadikan film ini terasa lebih komplit karena tidak melulu mengusung tema bencana tapi juga diselipkan perihal hubungan ibu dan anak . Adanya romansa cinta antara Ji Goo dan In Hae sedikit banyak juga melengkapi cerita melodrama yang sudah dipaparkan sejak awal, memberi sedikit penyegaran untuk penonton yang dari tadi dibuat stres sepanjang film. Kalaupun ada sedikit kekurangan, mungkin hanya dibagian akhir saja. Agak terlalu lama waktu yang dibutuhkan sampai akhirnya dibawa menuju klimaks. 

The Flu overall sangat memuaskan. Film yang mungkin dengan cepat juga akan berpotensi meninggalkan sebuah trauma kecil saat mendengar orang batuk-batuk, yang jika itu terjadi berarti film ini telah berhasil membawa penonton masuk dalam ceritanya. Sebuah disaster movie berbalut drama dengan segala kegentingannya yang maksimal, dengan segala melodramanya juga yang mengharu biru tapi gak lebay, semuanya digarap dengan meyakinkan sehingga The Flu pada ahirnya tetap terlihat manusiawi dan real. 



27 Okt 2013

PEE MAK (2013)



Thailand adalah negara yang terkenal mempunyai kualitas film-film horor yang seram, tak kalah dengan Jepang yang terkenal dengan ikon hantu sadako- nya. Film-film dari negeri gajah putih juga banyak menjadikan inspirasi sineas hollywood, bahkan tak jarang menjadi sasaran remake oleh hollywood, sebut saja Shutter yang pernah diremake ditahun 2008. Seperti halnya horor Jepang, horor Thailand juga banyak menyimpan cerita urban legend, tentang sebuah misteri daerah setempat. Kali ini Banjong Pisanthanakhun kembali menggarap sebuah horor yang bertajuk Pee Mak. Sineas thailand yang pernah sukses membekaskan ketakutan lewat Shutter itu mengangkat sebuah cerita legenda setempat yang menceritakan hantu wanita cantik bertangan panjang yang mati setelah melahirkan anaknya. Sebenarnya cerita ini dulu pernah diangkat juga dalam sebuah film, kalau yang inget ditahun 1999 pernah ada film horor Thailand yang berjudul Nang Nak, nah Pee Mak ini bisa dibilang versi parodinya.

Pee Mak bercerita tentang Mak (Mario Maurer) yang sedang berada dimedan perang guna membela negaranya bersama keempat rekannya Aey, Ter, Shin dan Puak. Sementara Nak (Davika Hoorne) adalah istri Mak yang tengah hamil tua diperlihatkan sedang kesakitan dirumahnya, sepertinya ingin segera melahirkan. Singkat cerita tiba waktunya Mak pulang dari medan perang dan mendapati sang istri telah melahirkan. Mak pun menyalurkan semua rasa rindu kepada sang istri yang telah lama ditinggalkannya, dan juga pada sang bayi yang baru saja dilahirkan. Karena diselimuti rasa rindu yang lama tertahan, Mak terlihat tidak peduli dengan kabar burung dan ocehan masyarakat setempat yang menyebutkan bahwa Nak, sang istri kini telah meninggal dan menjadi hantu. Bahkan kecurigaan teman-temannya pun tidak digubrisnya. Dan ceritapun terus berlanjut memaksa kita makin penasaran dan menebak-nebak siapa sih hantu yang sebenarnya :))

Pada awalnya kupikir ini adalah sebuah horor yang murni, kalaupun terdapat unsur komedi paling juga ga akan terlalu banyak. Sampai tiba saatnya diperlihatkan jajaran teman Mak dengan segala kekonyolannya, makin merubah pandanganku jika ini adalah sebuah horor dengan unsur komedi yang kental. Ditambah pula dengan dandanan aneh keempat rekan Mak tersebut plus gigi hitam dan tatapan jenaka-nya. Banjong Pisanthanakhun rupanya ingin memadukan sebuah urban legend dengan sentuhan komedi tapi sedikit kelebihan dosis :D. Kenapa kelebihan dosis, karena sepanjang menonton film ini, ak justru lebih banyak ngakak daripada ketakutan. Tapi gak kecewa sih, karena walaupun meleset dari perkiraan, ternyata film ini malah sangat-sangat menghibur.

Selain dibumbui komedi segar, ternyata horor asia 1 ini juga dibumbui dengan keromantisan. Jadi film ini tuh ibaratnya perpaduan 3 rasa maknyus antara genre horor-komedi-romance yang mengangkat tema percintaan hantu dan manusia. Ada romantisnya, ada lucu-lucunya, tapi nuansa seram juga tetap konsisten mendasari cerita. Banjong mampu memuaskan kita dengan 3 genre sekaligus. Disaat kita mulai tegang, mulai merasa ditakut-takuti, tiba-tiba saja aksi dari keempat teman Mak seakan melunturkan ketakutan itu dan membuat kita justru terpingkal-pingkal. Juga disaat kita sedang mengharapkan keseraman itu meningkat, ternyata film ini malah berubah menjadi melankolis dan kental dengan unsur drama. Tapi walaupun arahnya cenderung membingungkan, dan terlalu banyak memasukkan unsur diluar horor, film ini tetap asyik kok dinikmati.

Akting semua cast juga patut diacungi jempol. Terutama chemistry keempat teman Mak (yang juga pernah sukses membintangi phobia, dan phobia 2). Mereka berempat adalah aset terpenting dalam film ini, dengan kekonyolan dan kekompakan mereka yang selalu berhasil mengocok perut. Akting Mario Maurer dan Davika Hoorne juga gak kalah bagus walaupun tidak istimewa. Mereka mampu membangun chemistry yang lumayan klik. Keromantisan keduanya mampu diperlihatkan dengan pas dan gak berlebihan, memberi pemanis disela ketakutan penonton. Adegan dipasar malam merupakan adegan yang paling manis, saat mereka naik bianglala dan saat Nak melepas topengnya agar (ups, takut spoiler) yang udah nonton pasti tau maksudnya :D Bagian itu merupakan perpaduan cerdas horor dan romance yang efektif dan sangat menyentuh 

Selain itu, setting film ini juga cukup meyakinkan. dengan lokasi perkampungan dipinggiran sungai. Menambah ke-eksotikan sepanjang film. Kostum tradisional yang dipakai para pemain juga menambah kentalnya cerita urban legend yang mendasari film ini. Makin meyakinkan bahwa film ini memang bersetting di abad 19. Walaupun begitu Banjong juga menampilkan beberapa kejanggalan-kejanggalan yang sepertinya memang di sengaja, tapi itu justru menambah kekonyolan film ini. Toh film ini memang diciptakan untuk membikin penonton tertawa kan, bukan sebuah horor serius yang didasari dengan semua keterikatan yang masuk akal. Selamat menonton ^^


3 Okt 2013

YOU'RE NEXT (2013)



Cerita berawal dari  kedatangan Crispian (AJ Bowen) dan kekasihnya Erin (Sharni Vinson) mengunjungi rumah orang tua Crispian yang berada di tengah hutan didaerah terpencil. Kemudian disusul anggota keluarga yang lain dengan membawa pasangan masing-masing.  Ceritanya di malam itu mereka akan mengadakan reuni keluarga sekaligus merayakan ulang tahun orang tua mereka, ketika tiba-tiba pada saat jamuan makan malam, sekelompok pembunuh bertopeng meneror mereka dan pada akhirnya membantai mereka satu persatu dengan cara mengerikan.

Film ini adalah film yang pernah tayang di Midnight Madness-nya TIFF (Toronto International Film Festival) pada tahun 2011 bebarengan dengan The Raid juga saat itu. Dan sutradara Gareth Evans, melalui PT Persada Utama Lestari, yaitu anak perusahaan PT Merantau Films akhirnya sukses membawa film ini ke Indonesia setelah lama mengincar  film yang masuk dalam daftar "Must see" di Toronto International Film Festival 2011 ini, walaupun harus menunggu selama 2 tahun. Sepertinya pilihan Gareth Evans, dan keputusannya untuk mengimpor film ini tidak salah.

Biasanya film bergenre slasher sepanjang film akan membawa kita fokus dalam suasana ketegangan, seakan gak memberi jeda untuk sedikit bernapas. You're Next  beda dari film-film bergenre slasher yang lain karena film ini tidak hanya menawarkan darah dan ketegangan. Film yang dibesut oleh sutradara Adam Wingard ini masih sempat membuat kita tertawa karena sempilan-sempilan humor didalamnya. Ada saja disela-sela ketegangan ditampilkan adegan yang justru membuat kita tersenyum geli karena kekonyolannya. Bahkan menurutku di beberapa adegan tertentu seperti sedang menonton Home Alone versi slasher haha. Tapi sangat menikmati banget sih, karena menonton film ini jadi pengalaman menonton yang menyenangkan dan enjoy banget. Semburan darah, adegan bacok-bacokan dan adegan-adegan sadis lainnya seperti enak aja dipandang karena adanya unsur black comedy tersebut

You're Next ini tak ubahnya seperti santapan ringan bagi penggemar slasher. Seperti snack yang cukup untuk sekedar mengganjal perut. Gak berat, tapi mampu memuaskan selera. You're Next gak berbelit-belit dalam eksekusinya. Semua berjalan dengan tempo yang pas, adegan-adegan slashermya juga ditampilkan secara natural dan gak lebay. Bahkan sebenernya plot nya pun juga sangat sederhana seperti plot yang biasa kita temui di film-film slasher yang lain. Tapi film ini adalah sebuah home invasion yang beda. Karena berani menggabungkan unsur gelap dengan komedi yang hebatnya bisa berjalan beriringan tanpa mengganggu satu sama lain. Penonton akan tetap menjerit sekaligus tertawa secara bersamaan. Adam Wingard begitu pintarnya mengemas film ini dalam balutan black comedy, membuat penonton bingung memutuskan harus berada pada emosi yang mana sebelum pada akhirnya semua emosi keluar bersamaan

Begitupun pemilihan cast-nya yang tidak begitu populer tapi semuanya mampu memberikan performa terbaiknya. Apalagi penampilan dari Sharni Vinson yang sangat total, berani dan meyakinkan. Setting yang dipilih  juga menambah kesan gelap dalam film ini. Didukung dengan pembunuh-pembunuh bertopeng yang kehadirannya sangat susah ditebak terutama di awal-awal terornya. Membuat kita sebagai penonton ikut merasa terancam, ketakutan, karena panah-panah yang secepat kilat tiba-tiba saja menancap, karena kapak yang tiba-tiba saja melayang, pisau yang tiba-tiba menikam. Walaupun keberadaan pembunuh bertopeng dipertengahan film semakin sering dipertunjukkan tapi You're Next masih saja bertaring karena ketegangan yang tetap terjaga dengan baik. 

Ibarat masakan film ini gak pake bumbu penyedap, hanya memakai bumbu alami yang ditumbuk secara pas, tapi hidangan ini tetaplah menjadi santapan yang nikmat. Banyak film-film slasher yang terlalu konsen dalam menambahkan efek ini itu tapi pada akhirnya malah kurang bisa dinikmati penonton. You're Next ini termasuk film slasher yang gak ribet, yang ditakar dengan sangat pas sehingga menjadi tontonan ringan yang menghibur

Untuk mengenyangkan selera penonton, Adam Wingard pun menutup film ini dengan suapan terakhirnya yang maknyus. Lagi-lagi dengan kekonyolan yang masih saja mengocok perut. Sembari membikin kita bersorak kegirangan karena mempunyai sang jagoan wanita yang dengan gagah berani membantai para pembunuh bertopeng. Dan ternyata dibalik itu semua, sebuah twist dan penutup manis pun telah disiapkan olehnya, sebuah dessert segar yang pas dimulut :D


 

17 Jul 2012

YES OR NO (2010)

 


Kata org jawa, ''witing tresno jalaran soko kulino''  (cinta datang karena terbiasa). Begitulah yang dialami Pai (Aom Sucharat Manaying) dan Kim (Suppanad Jittaleela). Dua mahasiswa cewek  yang ''terpaksa'' harus tinggal sekamar di sebuah asrama khusus cewek di deket kampus mereka. Kenapa terpaksa? karena pertamanya Pai enggan tinggal sekamar dengan Kim, dan sempet berniat pindah kamar untuk kedua kalinya tapi ga di perbolehkan.

Pai pada akhirnya benar-benar sekamar dengan Kim. Awalnya emang Pai terkesan memberi jarak pada Kim karena ia kurang suka dengan ketomboy-an Kim. Ia bahkan terlihat jutek dan bahkan memberi batas wilayah dikamar mereka. Tapi lambat laun Pai malah justru dekat dan terkesan dengan perhatian-perhatian Kim. Mereka pada akhirnya saling tertarik, dan saling cinta, seperti pepatah tadi. Tapi  ini bukan cinta biasa.. karena mereka sama-sama cewek. Itulah yang jadi konflik di film ini.  ketidakberanian Pai mengakui hubungannya yang tak semestinya itu, ditambah lagi latar belakang Pai berasal dari keluarga yang sangat protektif . Juga ternyata ada pihak-pihak yang menaruh hati terhadap mereka  seperti Jane, temen asrama yang juga tertarik dengan Kim, lalu Van (Sorranat Yupanant) yang juga menunggu cinta Pai.

Pas film ini mulai tayang rasanya langsung betah karena sinematografinya cantik banget. Setting asrama dan kamar juga diperlihatkan sangat enak, sudut-sudut pengambilan gambarnya juga oke banget. Salah satu kekurangan di film ini menurutku adalah akting pemainnya terutama Kim yang agak sedikit kaku. Tapi chemistry mereka (Kim dan Pai) lumayan oke juga walaupun kadang aneh dan risih juga ngeliat sesama cewek mempunyai hubungan emosional.  Yang jelas para pemain ceweknya cantik-cantik banget, apalagi yang jadi Jane (Arisara Tongborisuth), menurut gw doi agak mirip sm Nindy deh hehe . Unsur komedi di film ini juga dapet, endingnya juga cukup mengejutkan. Lumayan lah untuk sekedar hiburan terlepas dari scene-scene yang kadang sedikit membosankan. Yes Or No berhasil mengangkat cerita tentang sisi-sisi lain atau sisi tak lazim dari sebuah hubungan.
 


14 Feb 2012

HOPE SPRINGS (2012)

 

Komedi romantis mengusung permasalahan rumah tangga dan dibintangi oleh aktor dan aktris kawakan. Terlihat kurang menarik mungkin bagi sebagian orang. Tapi  komedi romantis ini mempunyai muatan cerita yang dalam. Tentang arti pernikahan itu sendiri. Apa sih sebenarnya makna dari kebahagiaan pernikahan. Hanya sebatas formalitas aja, sebatas status saja, atau ada sesuatu yang lebih berarti daripada itu. Ya Arnold (Tommy Lee Jones) dan Kay (Meryl Streep) adalah sepasang suami istri yang sudah 31 tahun menikah. Mereka hanya tinggal berdua saja karena anak-anak mereka juga sudah berkeluarga. Permasalahannya Kay sang istri merasa pernikahannya makin lama makin hambar. Sang suami bahkan hampir 4tahun sudah tak pernah menyentuhnya. Bahkan tidurpun sudah tidak berada dalam satu kamar atau bisa dibilang pisah ranjang. Bayangkan aja gimana perasaan Kay sebagai istri, Yups, tentunya Kay merasa sangat kesepian, sangat hambar dan kosong dalam menjalani pernikahannya.

Arnold Tiap hari hanya melakukan rutinitas itu-itu saja, melihat Arnold sang suami hanya melakukan hal yang sama setiap harinya seperti membaca koran, nonton golf sampai ketiduran, sungguh membosankan dan memuakkan bagi Kay. Sementara dirinya merasa diacuhkan sebagai seorang istri. Hal itu mendorong Kay untuk mengikuti sebuah konseling diluar kota. Arnold pertamanya enggan ikut dalam konseling itu, tapi lama-lama ia mau juga dan pasangan suami istri itu pun berangkat bersama-sama di daerah Maine. Arnold terlihat kurang suka dengan sesi konseling itu. Beberapa kali ia terlihat  meremehkan saat sang pakar pernikahan yaitu Dr. Bernie Feld (Steve Carell) membimbing dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Ia merasa tak pernah punya permasalahan serius dengan rumah tangganya.

Komedi romantis yang mengangkat tentang kekosongan dalam pernikahan. Kekosongan itulah yang dirasakan Kay sebagai istri. Ya walaupun ia terlihat selalu tersenyum, jauh dalam hatinya sebenernya menyimpan kekosongan yang begitu dalam. Tapi Arnold tak pernah tahu itu. Ia seakan ga peduli dan hanya sibuk dengan kesehariannya. Entah apa yang hilang dalam pernikahan pasangan tersebut. Cerita yang menarik tapi sayang Meryl Streep menurutku kurang begitu cocok dalam memerankan Kay, entah apa yang membuat nya kurang menarik. Mimik yang kurang bisa mengekspresikan kesepiannya, suasana hati seorang wanita yang diacuhkan, perasaan muak itu kurang bisa ditampilkan dengan baik. 

Akting Tommy Lee Jones sendiri malah jauh lebih baik daripada akting Streep. Ia bisa menampilkan sesosok suami yang mulai kehilangan hasratnya terhadap sang istri. Mimik mukanya mampu mengekspresikan tatapan seorang suami yang mulai bersikap masa bodo dan dingin. Juga sikap tidak respectnya saat mengikuti acara konseling dapat tersampaikan dengan baik. David Frankel mungkin terlalu fokus dengan pendalaman cerita dan mengabaikan pendalaman karakter pemainnya. Pada akhirnya Hope Springs memang masih bisa dinikmati. Sekedar bisa dinikmati sebagai sebuah drama keluarga yang mengusung tema 'berat', dan sedikit diselipkan hal-hal konyol dimomen-momen tertentu. 

Tapi tidak bisa dipungkiri ada banyak pembelajaran di film ini. Cocok ditonton untuk pasangan-pasangan yang telah lama menikah dan ingin memupuk kembali cinta yang mungkin mulai memudar kepada pasangannya. Ceritanya sih bagus, punya muatan yang dalam, mengupas tentang kekosongan dalam pernikahan. Apa yang dialami pasangan suami istri itu juga terlihat realistis, pun penyelesaiannya juga bagus dan gak maksa.Tapi sayang jajaran cast-nya tidak mempunyai chemistry satu sama lain, alhasil film ini seperti hanya lewat begitu aja, dan tidak mengena dihati. Sangat disayangkan bintang-bintang senior itu tidak berhasil menyulap film ini menjadi sebuah drama yang berkesan. Memang terasa hangat, tapi terkesan hambar dalam eksekusinya. Walaupun memiliki alur yang runtut dan rapih, tapi sekali lagi akting para pemainnya tidak berhasil menghipnotisku lebih dalam. Untungnya masih ada si ganteng nan berwibawa Steve Carell yang sedikit memberikan pemanis disela-sela kebosanan :3


1 Feb 2012

CRAZY STUPID LOVE (2011)


 

Yang namanya pernikahan pasti pernah mengalami suatu masa yang namanya dilanda kejenuhan, begitu juga yang dialami Cal (Steve Carell) dan Emily Weaver (Julianne Moore). Dari pihak Cal sih sepertinya tidak pernah merasakan kebosanan itu. Tapi beda dengan yang dirasakan Emily, istrinya. Sepertinya ia mulai bosan dengan pernikahan yang makin lama makin dirasakannya hambar. Terbukti saat mereka makan malam tiba-tiba saja Emily dengan spontan dan tanpa babibu langsung mengutarakan keinginannya untuk bercerai. Ya, kontan saja Cal merasa kaget dan shock. Apalagi ketika Emily mengakui sudah berselingkuh dengan rekan sekerjanya, David Lindhagen (Kevin Bacon). Tapi Cal mencoba menerima keputusan Emily, ia menyetujui untuk berpisah dengan Emily, wanita yang telah 25 tahun dinikahinya itu.

Cal melalui hari-harinya pasca berpisah dengan perasaan kecewa dan kacau. Sampai saat ia bertemu dengan seorang womanizer bernama Jacob (Ryan Gosling). Melihat keadaan Cal yang sangat menyedihkan Jacob pun berniatan mendekati Cal dan membantu Cal untuk  bangkit dan menemukan kembali 'kejantanannya'. Berbekal tekad kuat untuk membuat sang istri menyesal telah menceraikannya, akhirnya Cal pun mau dibantu oleh Jacob. Mulai saat itu sang womanizer pun mulai berperan menjadi 'mentor' pribadi Cal dan ia mulai me-makeover penampilan Cal sehingga secara drastis hidup Cal pun mulai berubah.

Komedi romantis yang cukup kompleks. Itulah kesan yang kudapatkan setelah selesai menonton film besutan Glenn Ficarra – John Requa ini. Padahal saat diawal-awal film kukira  konflik yang terjadi hanya seputar Cal dan istrinya saja. Tapi ternyata semua printilan-printilan kisah yang lain mempunyai kaitan erat satu sama lain yang berdampak besar diakhir cerita. Tapi tunggu dulu, kompleks disini bukan kompleks yang serius . Memang akan ada kerumitan dan kehebohan yang terjadi :D tapi film ini bukanlah sebuah tontonan yang berat, Crazy Stupid Love tetap menjadi tontonan yang ringan dan sangat menghibur sesuai dengan genre-nya

Film ini berjalan dengan pelan sambil mulai memainkan iramanya dengan tempo sedang. Cerita yang diusung film ini sangat erat dengan kehidupan sehari-hari. Tentang perceraian, tentang perselingkuhan, percintaan. Tema yang sangat dekat dengan keseharian dan mungkin saja kita alami, hanya saja disini diceritakan secara ringan dan tentu saja berbalut komedi. Tak berlama-lama film ini langsung memaparkan satu demi satu konflik yang terjadi, memperkenalkan  kita dengan karakter para pemainnya. Steve Carell langsung mendapatkan porsi terbanyak diawal-awal film. Kekalutannya, kegalauannya pasca sang istri minta cerai mampu ia gambarkan dengan baik. Kadang kekonyolan juga nampak ditiap ekspresinya. Ryan Gosling pun mampu tampil sempurna dengan gaya playboy nya yang cool dan elegan. Semua bintang besar yang ada di film ini, termasuk Julianne Moore dan Emma Stone juga bermain dengan baik.

Crazy, Stupid, Love adalah film komedi romantis yang tidak sekedar menawarkan cerita yang kocak dan mengundang tawa tapi juga menjadi sebuah  tontonan yang mempunyai pesan. Ya setidaknya sedikit pesan, tentang pentingnya memperjuangkan cinta sejati. Ketika kita merasa seseorang adalah belahan jiwa kita, maka hendaknya terus diperjuangkan sampai kita mendapatkannya. Film ini juga tampil menarik karena dialog-dialognya yang cerdas juga menggelitik. Semua cast difilm ini sangat mendukung kekonyolan dan kegilaan yang tersaji haha termasuk mimik muka dan gesture yang ditampilkan oleh Steve Carell. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri Cal mampu ter-bedakan. Cal adalah karakter favoritku difilm ini. Ia bisa tampil dengan sebegitu polosnya, tapi tiba-tiba si om yang 1 ini bisa berubah 180 derajat menjadi sangat percaya diri, ganteng, dan kharismatik, ya walaupun kadang kegugupannya masih sedikit nampak.

Naskah yang ditulis oleh Dan Fogelman sangat menarik, cara ia membangun cerita dari awal begitu runtut. Cara ia menghubung-hubungkan kejadian satu dengan lainnya sehingga kesemuanya memiliki keterikatan juga sangat rapih. Hingga twist diakhir film juga mampu ia tempatkan di momen yang tepat. Hanya beberapa kali film ini terjebak dalam kebosanan tapi itu juga segera terbayar lunas dengan momen dipertengahan menjelang akhir .Saat konflik demi konflik semua diledakkan dan pada akhirnya mampu terurai diakhir film.

Oya, difilm ini juga digambarkan bahwa cinta tak mengenal usia, ketika putra Cal secara terang-terangan menyukai pengasuhnya yang lebih tua 4 tahun darinya. Dan masih banyak lagi kekonyolan lain yang nantinya akan terungkap. Ya cinta memang kadang membutakan. Kadang membuat kita melakukan hal-hal gila dan terlihat bodoh, tapi itulah cinta yang ditawarkan di film ini, rumit, gila, tapi mampu dikupas secara mendalam sehingga menjadi tontonan yang apik dan berkesan. Happy watching-


23 Des 2011

THE PROPOSAL (2009)


Film ini berkisah tentang Margaret Tate (Sandra Bullock). Ia adalah kepala editor perusahaan penerbit buku yang sangat bossy, judes, otoriter, dan ga disukai oleh anak buahnya, termasuk  asisten pribadnya, yakni  Andrew Paxton (Ryan Reynolds). Suatu saat Margaret nyaris di deportasi dari Amerika dan harus balik ke Kanada. Tapi karena ia gak mau ninggalin karirnya di Amrik, akhirnya di depan petugas imigrasi Margaret maksa Andrew untuk bersandiwara seolah-olah mereka mau menikah. Margaret menjanjikan Andrew akan menjadikannya editor dan menerbitkan naskah Andrew. Sebaliknya, jika Andrew menolak, Margaret memastikan Andrew akan kehilangan pekerjaannya. Meski sangat membenci Margaret, Andrew terpaksa memenuhi tuntutannya dan merekapun mengunjungi kampung halaman Andrew di alaska untuk mengumumkan rencana pernikahan mereka

Sebagai film rom-com, The Proposal bukanlah film yang mempunyai tema original, malah cenderung klise. Seorang yang dulunya membenci, karena suatu keadaan dan karena terbiasa berinteraksi pada akhirnya malah saling jatuh cinta. Istilah jawanya witing tresno jalaran soko kulino. Premis yang pasaran banget kan untuk sebuah romantic comedy. Tapi The Proposal tetaplah menjadi sebuah rom-com yang enak untuk dinikmati. Dengan para castnya yang  sudah ga diragukan lagi kemampuan aktingnya dalam genre romantic comedy, yakni Ryan Reynolds dan Sandra Bullock. Perpaduan akting keduanya lumayan klik. Bullock mampu memerankan seorang yang otoriter dan bossy, Ryan Reynolds pun juga cukup piawai mengolah mimiknya sehingga terkesan sebagai seorang asisten yang cukup tertindas oleh atasannya

The Proposal memang diawal-awal agak membosankan tapi begitu Margaret datang ke kampung halaman Andrew, cerita film ini pun mulai hidup. Sebagai sebuah rom-com film ini lumayan menghibur, banyak adegan-adegan konyol yang membuat kita tertawa walaupun gak terlalu bikin ngakak banget sih, tapi cukup memancing senyum. Apalagi saat anjing putih yang bernama kevin  (ups, gamau spoiler :p), entah kenapa adegan itu sangat koplak menurutku hahaha, ga cuma anjingnya yang lucu, neneknya Andrew  juga kocak banget wkwk. Ga hanya menawarkan keromantisan dan kelucuan, ada beberapa scene juga yang mengharukan di film besutan Anne Fletcher ini. Dan ku suka banget dengan adegan-adegan penutupnya, terutama ending dan adegan wawancara saat credit title :D

Selain para cast yang bermain bagus dan beberapa adegan kocak didalamnya, pesan yang disampaikan film ini juga bagus. Pesan moral yang mungkin klise banget dan cenderung FTV banget. Jangan terlalu membenci seseorang, karena nantinya bisa berbalik menjadi cinta !! klise kan pesannya, tapi disampaikan dengan balutan komedi dan bumbu keromantisan yang pas dan ga berlebihan. Setting sitka, alaska juga lumayan bagus dan memanjakan mata, terutama rumah Andrew yang berada di pulau pribadi itu. Film ini adalah sebuah romantic comedy yang enak dinikmati. Memang bukan sebuah kudapan yang fresh tapi masih saja lezat untuk dinikmati sambil meminum teh disore hari, Happy Watching ^^ 



20 Des 2011

NO RESERVATIONS (2007)


 

Film bertema makanan.Terdengar menyenangkan bukan. Yang terbayang pasti disetiap scene-nya bakalan memanjakan mata kita dengan berbagai hidangan yang memancing rasa lapar. Yups dan film yang bakal kureview ini adalah salah satu film bertema makanan yang  kurekomendasikan bagi pecinta film bertema kuliner. No Reservations adalah remake dari film jadul Mostly Martha.

Kate (Catherine Zeta-Jones) adalah seorang master chef dari sebuah restoran high-class di Manhattan, New York, bernama 22 Bleecker Street Restaurant. Sifatnya yang sangat perfeksionis membuat masakan-masakannya selalu disukai para pengunjung dan dipuji kritisi makanan. Namun sayangnya, tabiatnya yang sangat keras dan dingin di dapur restoran tersebut telah membuat anak buahnya jengah. Sampai akhirnya, restoran mahal itu kedatangan sous-chef baru yang bergaya slengean, Nick (Aaron Eckhart). Berbeda 180 derajat dari Kate, Nick adalah pribadi yang bebas, penuh semangat, dan lepas dari segala macam aturan baku yang mengesalkan. Prinsipnya adalah menyelaraskan antara spirit hidup dengan sajian makanan yang mengairahkan di atas meja. Pada suatu ketika terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa kakak Kate. Seorang putri dari kakak Kate yang bernama Zoe (diperankan oleh Abigail Breslin) kemudian tinggal bersama Kate di apartementnya.

Melihat tema film ini saja sudah berhasil membuatku berselera. Bukan hanya berselera untuk membawa seabreg cemilan saat menonton, tapi juga pingin melihat aktivitas apa saja yang akan diperlihatkan di film ini yang berkaitan dengan kuliner. Dan benar saja, film ini seakan langsung membawa kita memasuki dunia dapur restoran 22 Bleecker Street beserta seluruh aktivitas menyibukan disana. Film ini gak cuma memanjakan mata kita dengan sajian dan dapur megahnya yang sibuk, tapi juga membungkus cerita dengan drama, juga komedi romantis antara Kate dengan Nick. No Reservations dengan sangat apiknya memadukan unsur-unsur tersebut dengan jalan cerita yang runtut. 

Dialog-dialog di film ini terlihat sangat natural dan enak dinikmati. Akting Catherine Zeta-Jones sangat menjiwai dalam memerankan seorang master chef yang bossy dan kaku. Juga kadang sisi keibuannya nampak saat ia harus mengurus putri dari sang kakak. Ke-stressannya juga mampu tergambar dari tiap ekspresi-ekspresi yang ia tunjukkan.  Akting Abigail Breslin sebagai Zoe juga tak kalah bagusnya, ia terlihat sangat menggemaskan dengan perubahan-perubahan mood dan emosinya yang mampu ia olah dengan baik. Aaron Eckhart juga tak kalah mendalami karakternya. Ia sangat pas dan cocok sekali memerankan seorang Nick dengan gaya santai kayak dipantai-nya. Suka banget deh dengan karakter dia di film ini. Apalagi waktu dia mulai dekat dengan Zoe (keponakan Kate), berbanding terbalik dengan karakter Kate yang terlihat gabisa menikmati hidup. Tapi justru perbedaan sifat itu yang menarik, sampai akhirnya merekapun dekat.Yah emang cerita di film ini lumayan gampang ditebak, tidak ada yang rumit disini. Seperti halnya komedi romantis lainnya yang menawarkan cerita ringan yang enak untuk diikuti. 

No Reservations versi remake ini sangat bisa dinikmati. Saya ga bisa membandingkan dengan Mostly Martha (versi aslinya) karena belom nonton yang versi lama, tapi ini jelas tontonan yang lezat untukku yang notabene emang suka dengan dunia kuliner. Ga hanya menyajikan cerita ringan yang maknyus untuk dinikmati, No Reservations juga mampu membawa kita dalam berbagai emosi. Apalagi Catherine Zeta-Jones dan Aaron sangat chemistry di film. Disempurnakan pula dengan ending yang manis. Perfekto :)