Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan

5 Mei 2015

THE LUNCHBOX (2013)



Sebuah judul film yang sederhana. The Lunchbox, alias kotak makan siang. Dalam film ini mungkin lebih tepat jika disebut rantang, karena di film ini lunchbox tersebut berbentuk wadah makanan yang tersusun dari atas kebawah. Oke, sebenarnya bukan rantang yang akan jadi inti cerita, dan film ini gak akan membahas tentang rantang tersebut, karena rantang itu hanyalah sebuah perantara hubungan 2 orang manusia yang tak saling kenal, dan bahkan tak tahu rupa masing-masing, hanya saling berbalas surat yang di selipkan lewat rantang makanan yang akan selalu berisi menu yang berbeda setiap harinya. Dialah Saaajan Fernandez (Irrfan Khan) dan Ila (Nimrat Kaur)

Saajan diceritakan adalah seorang akuntan tua yang sedang menghadapi masa-masa pensiunnya. Saajan adalah pribadi yang terlihat pendiam dan kesepian setelah istrinya tiada. Dan seolah senasib dengannya Ila adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang merasa terabaikan karena merasa hubungan dengan suaminya kian dingin dan hambar. Berawal dari rantang makanan yang dikirim Ila untuk bekal makan suaminya dengan jasa kirim dabbawala, ternyata sang kurir salah mengantarkan makanan, dan rantang tsb malah diterima oleh Saajan. Saajan menyukai masakan Ila dan mereka mulai intens berkomunikasi lewat 'surat rantang'

Saya menyukai film India yang seperti ini. Gak banyak tari-tarian dan gak lebay. Seperti halnya Kahaani, The Lunchbox juga merupakan film india yang beda. Hanya saja gak ada konflik rumit disini. Hanya berkisah tentang kesunyian jiwa dua manusia yang kebetulan saling dipertemukan dengan cara yang unik. Kesamaan itu membuat mereka nyaman untuk menceritakan pengalaman dan kehidupan mereka  masing-masing lewat goresan pena. 

Dan kedekatan emosional pun lambat laun dirasakan dua makhluk yang mulai saling penasaran untuk bertemu tsb. Perasaan aneh lambat laun juga mulai menyeruak dicelah hati Saajan, wajahnya pun terlihat mulai berbinar lucu. Kita bisa melihat perubahan karakter Saajan yang dingin dan seolah tak bersemangat menjadi seperti hidup kembali. Disini kita bisa melihat bahwa cinta bisa membuat orang menjadi bersemangat menjalani hidup, bahkan membuat seseorang terlihat lebih muda dari usianya.

Sebuah film yang berkelas dengan caranya. Menggunakan media surat menyurat menambah kesan klasik dan romantis. Tak hanya menyampaikan kerisauan dan sisi kelam kehidupan dua insan kesepian tersebut secara apik, The Lunchbox juga menggoreskan sedikit warna lewat akting menggelitik Shaikh (Nawazuddin Siddiqui) dan dialog lucu Ila dengan Aunti (Bharati Achrekar). 

Ini film India kedua yang memikat hati saya selain Kahaani, cita rasanya sangat beda dari film bollywood kebanyakan. Walaupun terkesan sederhana namun penyampaian dialog lewat surat tsb terasa lebih dalam dan bermakna, membuat saya rindu masa-masa surat menyurat masih berjaya, ketika belum ada email, bbm, whatsapp dll

Dialog yang gak cheesy, terkesan gak berlebihan tapi ngena dihati. Hubungan dua manusia yang tak lagi muda, hingga perasaan-perasaan dan kebutuhan akan intimitas sebuah hubungan, semua tertuang dengan apik. Apalagi kerap diperlihatkan aktivitas dapur dirumah Ila saat ia meracik makanan, hingga makanan itu sampai didepan Saajan, semua terlihat begitu lezat dan membuat perut keroncongan. Aihh, jadi membayangkan roti cane yang lezat, samosa dan menu-menu India lainnya :9 

Pokoknya ni film ga boleh dilewatkan, apalagi kalau kamu bosan dengan film bollywood yang bertema percintaan klise dan didominasi tari-tarian. Dijamin gak akan nangis bombay nonton film ini, yang ada malah ikut senyum-senyum sendiri dan bakalan berdecak kagum dengan pengambilan gambar kota Mumbai yang padat, kumuh namun mampu di shoot dengan begitu kerennya. Happy watching !! :)



14 Nov 2013

THE FLU (2013)



Flu adalah virus yang tergolong cepat dalam penularannya. Dalam keseharian saja kita bisa dengan cepatnya terserang flu hanya karena berinteraksi dengan orang yang sedang mengidapnya. Namun ternyata virus flu bisa juga berdampak besar hingga membuat kekacauan disebuah negara. Berawal dari sebuah box container berisi sekelompok mayat imigran yang diselundupkan dari Filipina, Bundang salah satu kota di Seoul tiba-tiba saja terserang wabah H5N1 atau flu burung. Virus ini bermutasi menjadi virus yang sangat mematikan dan dengan cepat menularkan virus ke seisi kota Bundang melalui udara setelah satu-satunya imigran yang masih hidup berhasil lolos dari container

Bisa ditebak kelolosan dari sang survivor mengakibatkan efek besar bagi kota Bundang. Hanya dari satu orang yang melakukan interaksi, kemudian virus itu  merembet ke orang lainnya. Kurang dari 24 jam virus itupun menyebar dengan cepatnya, bahkan bisa menewaskan 1000 orang dalam kurun waktu satu jam. Orang yang tertular kondisi tubuhnya langsung melemah, kemudian batuk berdarah, lalu tiba-tiba saja roboh saat melakukan aktivitasnya. Mengerikan apa yang disuguhkan oleh  Kim Sung-Su, sebuah disaster movie tentang virus mematikan tapi benar-benar di buat dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dikehidupan nyata

Dibuka dengan sentuhan komedi khas korea, cerita terus digeber sampai pertengahan film. Cerita kemudian berfokus pada wabah yang menimbulkan kekacauan tersebut. Yang paling menyenangkan Kim memompa ketegangan dengan sangat intens. Kebanyakan film korea terlalu berbelit-belit dan lambat dalam eksekusinya, tapi beda ketika menonton The Flu ini. Perlahan Kim mulai mengaduk emosi kita dari awal film ketika si tokoh utama mengalami kecelakaan. Ia seolah ingin mengajak kita pemanasan sejenak sebelum pada akhirnya ia membawa kita pada ketegangan yang sebenarnya. Dan setelah permasalahan utama dipaparkan kitapun telah siap untuk ikut merasakan kegentingan yang terjadi, ikut merasakan dampak dari wabah flu yang menyebar dengan cepat secepat tempo film ini dalam menggambarkan kekacauannya

The Flu tentu saja tidak hanya berfokus pada disaster movie, bukan film korea namanya kalau tidak mengusung unsur drama. Sorotan utama film ini adalah si petugas pemadam kebakaran Ji goo (Jang Hyuk) dan si dokter muda nan cantik In-Hae (Soo-Ae). Keduanya pernah bertemu di awal film ini saat Ji Goo menyelamatkan In-Hae ketika ia mengalami kecelakaan mobil,  In-Hae  mempunyai seorang putri yang lucu dan sangat menggemaskan yaitu Kim Mi Reu (Park Min Ha) yang karena suatu hal menjadi dekat juga dengan Ji Goo. 


Bicara masalah akting, chemistry mereka bertiga sangat-sangat klik. Keterikatan emosi diantara mereka juga sangat terlihat terutama antara In-Hae dan Mi-Reu. Akting luar biasa juga diperlihatkan Park Min Ha (Mi-Reu) yang tanpa disangka bisa sebegitu pintarnya memerankan seorang anak kecil yang mampu menggambarkan ketakutan-ketakutannya. Ia mampu mengekspresikan seorang anak yang selalu ingin dekat dengan sang ibu ketika terpisah. Segala ekspresi, terutama tangisan Mi Reu juga pastinya membuat kita iba dan juga kagum, karena anak sekecil itu bisa sangat pandai mengolah mimiknya. Juga kepolosan, celetukan dan keimutannya juga bikin gemes banget :3

Film ini tidak hanya membuat kita tegang dan ikut merasakan kehebohan yang terjadi di kota Bundang, tidak hanya menggambarkan betapa ricuhnya situasi korea dengan segala keputusan pemerintah yang harus diambil, berikut tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk menekan angka kematian yang semakin bertambah. Ditengah segala kekacauannya diselipkan juga keharuan khas film korea dengan segala adegan yang berpotensi membuat kita mewek, minimal berkaca-kaca.


Mungkin bagi sebagian orang yang tidak terlalu suka dengan sentuhan melodrama akan merasa film ini terlalu mendramatisir suasana dibeberapa bagiannya. Tapi buatku tidak terlalu mengganggu sih sentuhan-sentuhan melow yang dihadirkan. Malah menjadikan film ini terasa lebih komplit karena tidak melulu mengusung tema bencana tapi juga diselipkan perihal hubungan ibu dan anak . Adanya romansa cinta antara Ji Goo dan In Hae sedikit banyak juga melengkapi cerita melodrama yang sudah dipaparkan sejak awal, memberi sedikit penyegaran untuk penonton yang dari tadi dibuat stres sepanjang film. Kalaupun ada sedikit kekurangan, mungkin hanya dibagian akhir saja. Agak terlalu lama waktu yang dibutuhkan sampai akhirnya dibawa menuju klimaks. 

The Flu overall sangat memuaskan. Film yang mungkin dengan cepat juga akan berpotensi meninggalkan sebuah trauma kecil saat mendengar orang batuk-batuk, yang jika itu terjadi berarti film ini telah berhasil membawa penonton masuk dalam ceritanya. Sebuah disaster movie berbalut drama dengan segala kegentingannya yang maksimal, dengan segala melodramanya juga yang mengharu biru tapi gak lebay, semuanya digarap dengan meyakinkan sehingga The Flu pada ahirnya tetap terlihat manusiawi dan real. 



12 Nov 2013

ADORE / TWO MOTHERS (2013)


 

Lil (Naomi Watts) dan Roz (Robin Wright) adalah dua orang yang bersahabat karib sejak kecil. Setelah masing-masing dewasa kini mereka hidup bertetangga disebuah pinggiran pantai didaerah New South Wales. Lil adalah seorang janda, kini ia tinggal bersama sang putra Ian (Xavier Samuel)  begitu juga Roz, ia adalah istri sekaligus ibu dari seorang anak laki-laki remaja bernama Tom (James Frecheville). Seperti Lil dan Roz, kedua anak lelaki mereka juga bersahabat dekat. 

Plot yang terlihat normal, sederhana dan bahkan klise sampai disini. Tapi tahukah bahwa sebenarnya film ini menyimpan ketidakwajaran. Debut bahasa inggris pertama dari Anne Fontaine ini merupakan film yang mempunyai tema aneh dan gak wajar. Film yang mengangkat tema persahabatan pastilah sudah sangat banyak diluar sana dengan segala konfliknya yang beraneka ragam. Adore bisa dibilang cukup berani mengusung tema yang gak biasa. Percintaan antara remaja dengan wanita yang lebih matang, yang gilanya adalah sahabat dari ibu mereka sendiri


Sangat kontroversial apa yang diusung film yang diadaptasi dari cerita pendek The Grandmothers  karagan Doris Lessing ini. Apapun alasannya percintaan di film ini menurutku tetaplah tidak wajar dan aneh. Menjadi aneh karena yang dicintai adalah ibu dari sahabat dekat sekaligus merupakan sahabat dari ibu mereka sejak kecil, Tapi cukup fresh sih tema yang coba dihadirkan Anne, menyoroti cinta terlarang, sebuah skandal yang melibatkan orang-orang yang tidak seharusnya menjalin hubungan lebih.

Satu yang menjadi alasan tetap betah menonton film ini, setting film ini benar-benar indah dan eksotik. Sepanjang film di dominasi suasana pinggiran pantai nan sejuk berhiaskan gulungan ombak. Latarnya memang indah dan sedap dipandang mata namun tidak dengan alur film ini. Adore berjalan sangat lambat dan membosankan, hampir saja dibuat ketiduran karena alurnya yang terkesan bertele-tele. 

Intinya Adore hanyalah sebuah drama tentang persahabatan, mengusung tema cinta yang tak lazim, dibingkai dengan keindahan suasana pantai yang 'untungnya' lebih terasa membius daripada sekedar tema yang dihadirkan. Dengan menggandeng para cast yang semuanya menampilkan performa standar. Pada akhirnya ya tergantung pendapat tiap orang, mau menilai film ini seperti apa. Toh film ini hanya memberi gambaran tentang cinta terlarang dengan segala masalahnya yang kompleks. Yaah..cinta memang gak pernah salah. Ia gak pernah tau dan ga bisa memilih dimana akan melabuhkan asmaranya, tapi alangkah bijaknya jika manusia tetap menggunakan logika dalam bercinta :)


4 Nov 2013

OBLIVION (2013)


 

Sejujurnya agak bosan menonton film-film bergenre fiksi ilmiah yang ceritanya ga jauh-jauh dari invasi alien, kehancuran bumi dan kehidupan manusia yang bersetting dimasa depan. Apalagi setelah kemarin sempet menonton After Earth yang bisa dibilang mengecewakan itu. Tapi entah kenapa tetap terdorong pengen melihat film sci-fi 1 ini. Mungkin karena dibintangi Tom Cruise yang secara gak langsung juga menjadi magnet tersendiri. Apalagi melihat ratingnya di imdb yang bisa dibilang lumayan bagus. Film ini disutradarai oleh Joseph Kosinski, yang sebelumnya pernah membuat kita kagum dengan kecanggihan-kecanggihan yang ditawarkan dalam Tron Legacy.

Oblivion bersetting di bumi pada tahun 2077 ketika semua manusia telah dievakuasi ke Titan, salah satu bulan di Saturnus. Bumi diceritakan telah mengalami kehancuran dan kepunahan pasca perang nuklir antara manusia dan 'alien' yang disebut scavanger. Perang tersebut memang dimenangkan oleh manusia, tapi efek dari perang nuklir tersebut planet bumi kini menjadi rusak dan tak bisa ditinggali lagi. Kini bumi hanya menyisakan Jack Harper (Tom Cruise) dan rekannya, Victoria (Andrea Riseborough) yang bertugas untuk mengambil sumber daya yang tersisa  termasuk memperbaiki dan merawat drone, sebuah mesin pelindung Righ Hydro (mesin penyedot air laut untuk diubah menjadi fusi/tenaga baru).

Di awal film, Oblivion sedikit lambat berjalan, hingga membuatku sedikit mengantuk apalagi menonton film ini ditengah malam. Banyak scene-scene yang sebenernya bisa aja di skip karena ga terlalu penting dan terkesan dilama-lamain. Sampai tiba dipertengahan untungnya cerita lebih dipaparkan dengan menegangkan dan penuh misteri. Joseph Kosinski kali ini mempunyai naskah yang jauh lebih kompleks walaupun tidak fresh. Memang ide dan naskahnya tidak original, banyak aroma film fiksi ilmiah lain yang masih bisa kita rasakan di film ini, tapi Oblivion mampu mengolah hal-hal klise tersebut menjadi sebuah tontonan yang lebih berbobot. Kosinski untungnya tahu apa yang harus ditambahkan agar film ini tidak terlalu membosankan dengan segala ke-kliseannya.

Kosinski seakan juga tahu bagaimana menutupi kekurangan film ini dan dengan lihai mengikat penonton untuk tetap duduk manis dengan menggandeng sinematografer Claudio Miranda (Life of Pi) .Tak diragukan lagi Claudio Miranda tentunya mampu memoles Oblivion sehingga setiap gambar yang ditampilkan terlihat begitu cantiknya dan sangat memanjakan mata. Scoring di film ini juga sangat sangat mengagumkan dan cocok sekali mengiringi berbagai adegan, membuat nuansa sci-fi makin kental saja. Film ini juga berbalut keromantisan dibeberapa bagian. Dan menurutku cukup efektif untuk memberi pemanis dalam sebuah fiksi ilmiah . Gak hanya keromantisan, Kosinski juga memunculkan beberapa twist yang cukup mengejutkan

Akting Tom Cruise tidak begitu istimewa, tapi masih saja memancarkan kharismanya yang begitu kuat dan seakan menjadi magnet sepanjang film. Akting Olga Kurylenko pun juga tidak begitu istimewa. Chemistry Cruise dan Kurylenko juga sebenarnya tidak begitu menyatu, tapi apalah arti sebuah chemistry yang kurang jika semuanya seakan tertutupi dengan sajian sinematografi yang memukau. Penonton juga mungkin akan mengabaikan keterikatan batin antar pemainnya, toh ini adalah memang sebuah sajian yang lebih menonjolkan visualisasi dan kecanggihan, bukan sebuah drama romantis yang butuh kedalaman emosi. Overall Oblivion memang tidak mengusung cerita yang original tapi diluar ekspektasi-ku ternyata film ini tidak begitu mengecewakan. Memang tidak terlalu istimewa, masih banyak kekurangan disana-sini, tapi setidaknya kali ini Kosinski mampu membuat sebuah karya yang gak hanya memukau dari segi visual tapi secara cerita juga mempunyai kekuatan dan kedalaman tersendiri. Happy watching ^^




27 Okt 2013

PEE MAK (2013)



Thailand adalah negara yang terkenal mempunyai kualitas film-film horor yang seram, tak kalah dengan Jepang yang terkenal dengan ikon hantu sadako- nya. Film-film dari negeri gajah putih juga banyak menjadikan inspirasi sineas hollywood, bahkan tak jarang menjadi sasaran remake oleh hollywood, sebut saja Shutter yang pernah diremake ditahun 2008. Seperti halnya horor Jepang, horor Thailand juga banyak menyimpan cerita urban legend, tentang sebuah misteri daerah setempat. Kali ini Banjong Pisanthanakhun kembali menggarap sebuah horor yang bertajuk Pee Mak. Sineas thailand yang pernah sukses membekaskan ketakutan lewat Shutter itu mengangkat sebuah cerita legenda setempat yang menceritakan hantu wanita cantik bertangan panjang yang mati setelah melahirkan anaknya. Sebenarnya cerita ini dulu pernah diangkat juga dalam sebuah film, kalau yang inget ditahun 1999 pernah ada film horor Thailand yang berjudul Nang Nak, nah Pee Mak ini bisa dibilang versi parodinya.

Pee Mak bercerita tentang Mak (Mario Maurer) yang sedang berada dimedan perang guna membela negaranya bersama keempat rekannya Aey, Ter, Shin dan Puak. Sementara Nak (Davika Hoorne) adalah istri Mak yang tengah hamil tua diperlihatkan sedang kesakitan dirumahnya, sepertinya ingin segera melahirkan. Singkat cerita tiba waktunya Mak pulang dari medan perang dan mendapati sang istri telah melahirkan. Mak pun menyalurkan semua rasa rindu kepada sang istri yang telah lama ditinggalkannya, dan juga pada sang bayi yang baru saja dilahirkan. Karena diselimuti rasa rindu yang lama tertahan, Mak terlihat tidak peduli dengan kabar burung dan ocehan masyarakat setempat yang menyebutkan bahwa Nak, sang istri kini telah meninggal dan menjadi hantu. Bahkan kecurigaan teman-temannya pun tidak digubrisnya. Dan ceritapun terus berlanjut memaksa kita makin penasaran dan menebak-nebak siapa sih hantu yang sebenarnya :))

Pada awalnya kupikir ini adalah sebuah horor yang murni, kalaupun terdapat unsur komedi paling juga ga akan terlalu banyak. Sampai tiba saatnya diperlihatkan jajaran teman Mak dengan segala kekonyolannya, makin merubah pandanganku jika ini adalah sebuah horor dengan unsur komedi yang kental. Ditambah pula dengan dandanan aneh keempat rekan Mak tersebut plus gigi hitam dan tatapan jenaka-nya. Banjong Pisanthanakhun rupanya ingin memadukan sebuah urban legend dengan sentuhan komedi tapi sedikit kelebihan dosis :D. Kenapa kelebihan dosis, karena sepanjang menonton film ini, ak justru lebih banyak ngakak daripada ketakutan. Tapi gak kecewa sih, karena walaupun meleset dari perkiraan, ternyata film ini malah sangat-sangat menghibur.

Selain dibumbui komedi segar, ternyata horor asia 1 ini juga dibumbui dengan keromantisan. Jadi film ini tuh ibaratnya perpaduan 3 rasa maknyus antara genre horor-komedi-romance yang mengangkat tema percintaan hantu dan manusia. Ada romantisnya, ada lucu-lucunya, tapi nuansa seram juga tetap konsisten mendasari cerita. Banjong mampu memuaskan kita dengan 3 genre sekaligus. Disaat kita mulai tegang, mulai merasa ditakut-takuti, tiba-tiba saja aksi dari keempat teman Mak seakan melunturkan ketakutan itu dan membuat kita justru terpingkal-pingkal. Juga disaat kita sedang mengharapkan keseraman itu meningkat, ternyata film ini malah berubah menjadi melankolis dan kental dengan unsur drama. Tapi walaupun arahnya cenderung membingungkan, dan terlalu banyak memasukkan unsur diluar horor, film ini tetap asyik kok dinikmati.

Akting semua cast juga patut diacungi jempol. Terutama chemistry keempat teman Mak (yang juga pernah sukses membintangi phobia, dan phobia 2). Mereka berempat adalah aset terpenting dalam film ini, dengan kekonyolan dan kekompakan mereka yang selalu berhasil mengocok perut. Akting Mario Maurer dan Davika Hoorne juga gak kalah bagus walaupun tidak istimewa. Mereka mampu membangun chemistry yang lumayan klik. Keromantisan keduanya mampu diperlihatkan dengan pas dan gak berlebihan, memberi pemanis disela ketakutan penonton. Adegan dipasar malam merupakan adegan yang paling manis, saat mereka naik bianglala dan saat Nak melepas topengnya agar (ups, takut spoiler) yang udah nonton pasti tau maksudnya :D Bagian itu merupakan perpaduan cerdas horor dan romance yang efektif dan sangat menyentuh 

Selain itu, setting film ini juga cukup meyakinkan. dengan lokasi perkampungan dipinggiran sungai. Menambah ke-eksotikan sepanjang film. Kostum tradisional yang dipakai para pemain juga menambah kentalnya cerita urban legend yang mendasari film ini. Makin meyakinkan bahwa film ini memang bersetting di abad 19. Walaupun begitu Banjong juga menampilkan beberapa kejanggalan-kejanggalan yang sepertinya memang di sengaja, tapi itu justru menambah kekonyolan film ini. Toh film ini memang diciptakan untuk membikin penonton tertawa kan, bukan sebuah horor serius yang didasari dengan semua keterikatan yang masuk akal. Selamat menonton ^^


7 Okt 2013

WHAT MAISIE KNEW (2012)


 

Film yang bergenre drama ini dengan gamblang mengangkat potret keluarga broken home, dimana seringkali sang anak yang kemudian jadi korbannya. Maisie (Onata Aprile) adalah salah satu gambaran tersebut. Orang tuanya Beale (Steve Coogan) dan Susanna (Julianne Moore) merupakan gambaran orang tua yang sibuk, dimana Beale merupakan seorang art dealer yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya dan sering bepergian keluar negeri. Sementara sang ibu adalah seorang vokalis band rock yang disibukkan dengan tour kesana kemari. 

Mereka memutuskan untuk bercerai dan menikah lagi dengan orang lain. Beale menikah lagi dengan Margo (Joanna Vanderham) sang pengasuh, sementara Susanna menikah dengan Lincoln (Alexander Skarsgard). Maisie disini adalah korban dari perceraian kedua orang tuanya, itulah yang akan jadi permasalahan utama di film ini. Maisie pada akhirnya harus menuai dampak perceraian orang tuanya dan impian untuk mempunyai keluarga utuh bahagia dengan segala perhatian penuh orang tua pun rasanya semakin jauh saja

Di adaptasi dari sebuah novel yang terbit pada tahun 1897 karya Henry James, film ini sangat tepat sasaran dalam menyampaikan segala pesannya lewat berbagai konflik dan carut marut yang terjadi dalam keluarga broken home. Dampak dari perceraian orang tua Maisie mampu tergambar dengan baik dan realistis. Begitupun pertengkaran-pertengkaran yang secara tidak langsung akan sangat mengganggu psikologis Maisie sebagai anak yang masih dibawah umur. Melihat anak 6 tahun harus menerima segala keadaan yang tidak mengenakkan pasca perceraian orang tua, bahkan jadi perebutan diantara kedua orang tuanya dengan segala ego nya masing-masing sungguh sangat miris, 

Melihat anak yang masih sangat polos harus menerima segala resiko atas keadaan yang bahkan belum dapat ia mengerti membuat batin tersentuh. Duet Scott McGehee dan David Siegel begitu sangat solid dalam merealisasikan potret itu semua. Membuat penonton iba melihat sosok Maisie yang harus dipontang-pantingkan kesana kemari, sementara kedua orang tuanya tidak punya banyak waktu untuk memberikan apa yang seharusnya dibutuhkan anak seumuran Maisie. Tapi beruntung masih ada orang-orang yang menyayanginya dan mampu memberikan perhatian ekstra yang selama ini didambakannya

Tapi mirisnya justru orang-orang terdekat orang tuanya lah yang punya waktu banyak untuk Maisie, bukan Beale maupun Susanna. Walaupun kadang mereka juga menyempatkan waktu untuk menemani Maisie, tapi Maisie terlihat lebih menikmati dunia nya saat bersama dengan Margo dan Lincoln. Ya, mereka lebih mampu masuk kedunia Maisie dan mengambil hati Maisie. Mereka lebih tau apa yang dibutuhkan Maisie. Seorang anak yang sebenarnya ga minta apa-apa selain perhatian dan kasih sayang juga waktu yang cukup. Sangat sederhana, tapi sayangnya kedua orang tuanya tak tahu apa yang diinginkannya. Mereka lebih sibuk dengan dunianya masing-masing. 

Film yang cukup menyentuh dan membuatku iba akan sosok Maisie. Tapi juga kagum dengan karakter gadis cilik itu. Onata Aprile terlihat sangat apik mendalami karakternya sebagai gadis cilik yang mencoba menerima keadaannya. Keadaan dimana orang tuanya harus berpisah di usianya yang sedini itu, menerima bahwa setiap saat harus melihat dan mendengar pertengkaran demi pertengkaran yang pasti sangat menggoncang mentalnya, menerima bahwa orang tuanya tak bisa memberikan waktu banyak untuknya. Onata mampu mengekspresikan itu semua dengan cukup dewasa. Ya, Maisie digambarkan sebagai seorang gadis cilik yang tegar, yang terlihat dewasa diusianya. Onata mampu memerankan seorang anak korban broken home yang gak manja, gak cengeng, tapi tetap tampil dengan wajah polosnya dan tatapan innocent-nya. 

Film ini berjalan dengan tempo sedang dan enak dinikmati. Seperti melihat keseharian dan potret kehidupan yang sebenarnya saat menikmati dialog demi dialog. Tiap momen yang tersaji mampu membuat kita terenyuh, kadang miris, kadang juga ikut bahagia saat melihat Maisie tersenyum, saat melihatnya tertawa dan mesra bersama Margo dan Lincoln. Sepertinya gambaran keluarga yang sangat harmonis jika mereka benar-benar dipersatukan. Didukung dengan musik score yang makin menambah keharuan, membuat  air mata kadang juga sedikit menetes.

Sebuah potret keadaan yang pastinya sering terjadi dikehidupan sehari-hari. Banyak pesan moral yang bisa dipetik dari film yang naskahnya ditulis Nancy Doyne dan Carroll Cartwright ini. Mungkin film ini memang ditujukan untuk menepuk pundak para orang tua yang juga mengalami hal serupa. Bahwa perceraian sekalipun tak seharusnya mengorbankan kebahagiaan anak. Bahwa seorang anak juga butuh perhatian ekstra orang tuanya. Tak peduli apa yang terjadi dengan keluarganya, mereka tak pernah mau tahu itu.Yang mereka tahu, mereka hanya ingin bahagia seperti anak-anak yang lain, Yang mereka tahu mereka hanya ingin diperhatikan. Hanya itu sebenarnya yang diketahui seorang gadis polos korban broken home seperti halnya Maisie, gak lebih !!


25 Sep 2013

MIKA (2013)



Mika menceritakan tentang seorang gadis bernama Indi (Velove Vexia) yang mengidap Skoliosis (kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang). Penyakit langkanya itu  mengharuskannya untuk selalu memakai brace (besi penyangga tubuh). Suatu saat ketika berlibur ke jakarta Indi berkenalan dengan Mika (Vino G. Bastian) , seorang cowok yang super santai, slengekan dan cuek yang ternyata dibalik semangatnya juga mempunyai penyakit. Mika adalah seorang pengidap HIV/Aids. Tapi walaupun begitu, Indi tak sekalipun menjauhi Mika. Ia tetap mau berdekatan dan berinteraksi dengan Mika. Lambat laun hubungan Indi dan Mika makin dekat. Mika mampu membuat hari-hari indi jadi penuh warna dengan keceriaannya,  Sampai pada akhirnya Mika menyatakan cinta, dan Indi menerima cinta Mika dengan tulus. 

Mika telah merebut hati Indi dengan sikapnya yang membuatnya terkesan. Mika selalu bisa menyemangati Indi saat ia merasa terpuruk. Mika selalu setia menemani Indi saat ia merasa sendiri. Mika selalu hadir untuk melengkapi Indi. Membuat hal-hal yang mustahil Indi lakukan seolah mampu menjadi nyata. Mika hadir seperti sesosok malaikat yang menyempurnakan. Sampai akhirnya saat kesehatan Mika menurun, konflik-konflik pun mulai terjadi. Orang tua Indi sangat marah dan kecewa ketika tahu Indi diam-diam masih berhubungan dengan Mika yang menurut pandangan sang ibu terlalu urakan dan harus dijauhi karena mengidap Aids

Memang film yang mengusung tema seperti ini sudah lumayan banyak. Film melodrama, dibalut kisah sedih tentang tokoh utama yang berpenyakit, terasa agak klise memang. Sebut saja Heart, Surat Kecil Untuk Tuhan, Habibie Ainun. Tapi yang membuatku tertarik adalah adanya Vino Bastian dijajaran cast-nya yang selama ini dikenal punya kualitas akting bagus dan selalu total di film-filmnya. Mika dibuat berdasarkan autobiografi Indi yang terdiri dari dua jilid buku, yakni Waktu Aku Sama Mika dan Karena Cinta Itu Sempurna.  Untuk yang pengen tahu blog pribadi Indi sang penulis/tokoh asli Indi bisa klik disini

Mika berjalan dengan tempo yang sedang, bisa dibilang runtut dalam menceritakan kisahnya. Pertama-tama mengenalkan kita dengan kehidupan Indi dan keluarganya. Setelah itu langsung membawa kita pada interaksi manis Mika dan Indi yang baru saja berkenalan. Seperti film-film Vino sebelumnya, film ini juga dibalut romansa keromantisan khas Vino, yang selalu saja manis walaupun dibumbui dengan kisah mengharu biru. Keromantisan-keromantisan itu beberapa kali terasa. Walaupun kadang-kadang lebih didominasi oleh akting Vino . 

Vino seperti biasa terlihat maksimal dan total memerankan karakternya. Ia terlihat sekali ingin membangun chemistry dengan lawan mainnya. Tapi kadang Velove terasa kurang mendalami perannya saat berinteraksi dengan Vino. Gak tau juga ya, mungkin memang karakter seperti itulah yang semestinya ia mainkan. Tapi yang kurasakan chemistry keduanya tidak sekuat saat Vino bermain dengan Fahrani dalam Radit dan Jani, ataupun saat Vino bermain dengan Marsha Timothy diberbagai FTV yang begitu sangat kompak dan chemistry. Tapi terlepas dari itu semua, Velove tetap terlihat menjiwai saat membawakan karakter seorang gadis yang mempunyai penyakit skoliosis

Film besutan Lasja Fauzia Susatyo ini mempunyai tema klise tapi untungnya tidak membosankan karena di beberapa scene kerap diperlihatkan adegan-adegan manis nan menyentuh. Dan untungnya Vino selalu bisa membuat setiap adegan terasa tetap menarik dan romantis. Walaupun film ini bergenre melodrama yang identik dengan mewek, tapi sepertinya film ini belom berhasil membuatku banjir air mata karena air mataku cuma netes dikit pas scene-scene terakhir waktu Mika mengajak Indi berimajinasi. Disitu bagian paling nyesek dan mengharukan menurutku.

Overall Mika bukanlah film yang buruk walaupun tema-nya memang bukan sesuatu yang baru. Mika buatku tetap terasa mengesankan. Apalagi film ini juga mengangkat tentang penyakit HIV/Aids. Seolah mengingatkan kita bahwa tak seharusnya kita menjauhi orang-orang yang terkena Aids, karena pada dasarnya yang harus dijauhi adalah penyakitnya, bukan orangnya. Film ini juga mensosialisasikan tentang bahaya narkoba dan seks bebas. Dan satu quotes yang kusuka dari film ini '' Imajinasi adalah hadiah terkeren yang di berikan tuhan buat kita- Mika ''



17 Jul 2012

YES OR NO (2010)

 


Kata org jawa, ''witing tresno jalaran soko kulino''  (cinta datang karena terbiasa). Begitulah yang dialami Pai (Aom Sucharat Manaying) dan Kim (Suppanad Jittaleela). Dua mahasiswa cewek  yang ''terpaksa'' harus tinggal sekamar di sebuah asrama khusus cewek di deket kampus mereka. Kenapa terpaksa? karena pertamanya Pai enggan tinggal sekamar dengan Kim, dan sempet berniat pindah kamar untuk kedua kalinya tapi ga di perbolehkan.

Pai pada akhirnya benar-benar sekamar dengan Kim. Awalnya emang Pai terkesan memberi jarak pada Kim karena ia kurang suka dengan ketomboy-an Kim. Ia bahkan terlihat jutek dan bahkan memberi batas wilayah dikamar mereka. Tapi lambat laun Pai malah justru dekat dan terkesan dengan perhatian-perhatian Kim. Mereka pada akhirnya saling tertarik, dan saling cinta, seperti pepatah tadi. Tapi  ini bukan cinta biasa.. karena mereka sama-sama cewek. Itulah yang jadi konflik di film ini.  ketidakberanian Pai mengakui hubungannya yang tak semestinya itu, ditambah lagi latar belakang Pai berasal dari keluarga yang sangat protektif . Juga ternyata ada pihak-pihak yang menaruh hati terhadap mereka  seperti Jane, temen asrama yang juga tertarik dengan Kim, lalu Van (Sorranat Yupanant) yang juga menunggu cinta Pai.

Pas film ini mulai tayang rasanya langsung betah karena sinematografinya cantik banget. Setting asrama dan kamar juga diperlihatkan sangat enak, sudut-sudut pengambilan gambarnya juga oke banget. Salah satu kekurangan di film ini menurutku adalah akting pemainnya terutama Kim yang agak sedikit kaku. Tapi chemistry mereka (Kim dan Pai) lumayan oke juga walaupun kadang aneh dan risih juga ngeliat sesama cewek mempunyai hubungan emosional.  Yang jelas para pemain ceweknya cantik-cantik banget, apalagi yang jadi Jane (Arisara Tongborisuth), menurut gw doi agak mirip sm Nindy deh hehe . Unsur komedi di film ini juga dapet, endingnya juga cukup mengejutkan. Lumayan lah untuk sekedar hiburan terlepas dari scene-scene yang kadang sedikit membosankan. Yes Or No berhasil mengangkat cerita tentang sisi-sisi lain atau sisi tak lazim dari sebuah hubungan.
 


14 Feb 2012

HOPE SPRINGS (2012)

 

Komedi romantis mengusung permasalahan rumah tangga dan dibintangi oleh aktor dan aktris kawakan. Terlihat kurang menarik mungkin bagi sebagian orang. Tapi  komedi romantis ini mempunyai muatan cerita yang dalam. Tentang arti pernikahan itu sendiri. Apa sih sebenarnya makna dari kebahagiaan pernikahan. Hanya sebatas formalitas aja, sebatas status saja, atau ada sesuatu yang lebih berarti daripada itu. Ya Arnold (Tommy Lee Jones) dan Kay (Meryl Streep) adalah sepasang suami istri yang sudah 31 tahun menikah. Mereka hanya tinggal berdua saja karena anak-anak mereka juga sudah berkeluarga. Permasalahannya Kay sang istri merasa pernikahannya makin lama makin hambar. Sang suami bahkan hampir 4tahun sudah tak pernah menyentuhnya. Bahkan tidurpun sudah tidak berada dalam satu kamar atau bisa dibilang pisah ranjang. Bayangkan aja gimana perasaan Kay sebagai istri, Yups, tentunya Kay merasa sangat kesepian, sangat hambar dan kosong dalam menjalani pernikahannya.

Arnold Tiap hari hanya melakukan rutinitas itu-itu saja, melihat Arnold sang suami hanya melakukan hal yang sama setiap harinya seperti membaca koran, nonton golf sampai ketiduran, sungguh membosankan dan memuakkan bagi Kay. Sementara dirinya merasa diacuhkan sebagai seorang istri. Hal itu mendorong Kay untuk mengikuti sebuah konseling diluar kota. Arnold pertamanya enggan ikut dalam konseling itu, tapi lama-lama ia mau juga dan pasangan suami istri itu pun berangkat bersama-sama di daerah Maine. Arnold terlihat kurang suka dengan sesi konseling itu. Beberapa kali ia terlihat  meremehkan saat sang pakar pernikahan yaitu Dr. Bernie Feld (Steve Carell) membimbing dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Ia merasa tak pernah punya permasalahan serius dengan rumah tangganya.

Komedi romantis yang mengangkat tentang kekosongan dalam pernikahan. Kekosongan itulah yang dirasakan Kay sebagai istri. Ya walaupun ia terlihat selalu tersenyum, jauh dalam hatinya sebenernya menyimpan kekosongan yang begitu dalam. Tapi Arnold tak pernah tahu itu. Ia seakan ga peduli dan hanya sibuk dengan kesehariannya. Entah apa yang hilang dalam pernikahan pasangan tersebut. Cerita yang menarik tapi sayang Meryl Streep menurutku kurang begitu cocok dalam memerankan Kay, entah apa yang membuat nya kurang menarik. Mimik yang kurang bisa mengekspresikan kesepiannya, suasana hati seorang wanita yang diacuhkan, perasaan muak itu kurang bisa ditampilkan dengan baik. 

Akting Tommy Lee Jones sendiri malah jauh lebih baik daripada akting Streep. Ia bisa menampilkan sesosok suami yang mulai kehilangan hasratnya terhadap sang istri. Mimik mukanya mampu mengekspresikan tatapan seorang suami yang mulai bersikap masa bodo dan dingin. Juga sikap tidak respectnya saat mengikuti acara konseling dapat tersampaikan dengan baik. David Frankel mungkin terlalu fokus dengan pendalaman cerita dan mengabaikan pendalaman karakter pemainnya. Pada akhirnya Hope Springs memang masih bisa dinikmati. Sekedar bisa dinikmati sebagai sebuah drama keluarga yang mengusung tema 'berat', dan sedikit diselipkan hal-hal konyol dimomen-momen tertentu. 

Tapi tidak bisa dipungkiri ada banyak pembelajaran di film ini. Cocok ditonton untuk pasangan-pasangan yang telah lama menikah dan ingin memupuk kembali cinta yang mungkin mulai memudar kepada pasangannya. Ceritanya sih bagus, punya muatan yang dalam, mengupas tentang kekosongan dalam pernikahan. Apa yang dialami pasangan suami istri itu juga terlihat realistis, pun penyelesaiannya juga bagus dan gak maksa.Tapi sayang jajaran cast-nya tidak mempunyai chemistry satu sama lain, alhasil film ini seperti hanya lewat begitu aja, dan tidak mengena dihati. Sangat disayangkan bintang-bintang senior itu tidak berhasil menyulap film ini menjadi sebuah drama yang berkesan. Memang terasa hangat, tapi terkesan hambar dalam eksekusinya. Walaupun memiliki alur yang runtut dan rapih, tapi sekali lagi akting para pemainnya tidak berhasil menghipnotisku lebih dalam. Untungnya masih ada si ganteng nan berwibawa Steve Carell yang sedikit memberikan pemanis disela-sela kebosanan :3


1 Feb 2012

CRAZY STUPID LOVE (2011)


 

Yang namanya pernikahan pasti pernah mengalami suatu masa yang namanya dilanda kejenuhan, begitu juga yang dialami Cal (Steve Carell) dan Emily Weaver (Julianne Moore). Dari pihak Cal sih sepertinya tidak pernah merasakan kebosanan itu. Tapi beda dengan yang dirasakan Emily, istrinya. Sepertinya ia mulai bosan dengan pernikahan yang makin lama makin dirasakannya hambar. Terbukti saat mereka makan malam tiba-tiba saja Emily dengan spontan dan tanpa babibu langsung mengutarakan keinginannya untuk bercerai. Ya, kontan saja Cal merasa kaget dan shock. Apalagi ketika Emily mengakui sudah berselingkuh dengan rekan sekerjanya, David Lindhagen (Kevin Bacon). Tapi Cal mencoba menerima keputusan Emily, ia menyetujui untuk berpisah dengan Emily, wanita yang telah 25 tahun dinikahinya itu.

Cal melalui hari-harinya pasca berpisah dengan perasaan kecewa dan kacau. Sampai saat ia bertemu dengan seorang womanizer bernama Jacob (Ryan Gosling). Melihat keadaan Cal yang sangat menyedihkan Jacob pun berniatan mendekati Cal dan membantu Cal untuk  bangkit dan menemukan kembali 'kejantanannya'. Berbekal tekad kuat untuk membuat sang istri menyesal telah menceraikannya, akhirnya Cal pun mau dibantu oleh Jacob. Mulai saat itu sang womanizer pun mulai berperan menjadi 'mentor' pribadi Cal dan ia mulai me-makeover penampilan Cal sehingga secara drastis hidup Cal pun mulai berubah.

Komedi romantis yang cukup kompleks. Itulah kesan yang kudapatkan setelah selesai menonton film besutan Glenn Ficarra – John Requa ini. Padahal saat diawal-awal film kukira  konflik yang terjadi hanya seputar Cal dan istrinya saja. Tapi ternyata semua printilan-printilan kisah yang lain mempunyai kaitan erat satu sama lain yang berdampak besar diakhir cerita. Tapi tunggu dulu, kompleks disini bukan kompleks yang serius . Memang akan ada kerumitan dan kehebohan yang terjadi :D tapi film ini bukanlah sebuah tontonan yang berat, Crazy Stupid Love tetap menjadi tontonan yang ringan dan sangat menghibur sesuai dengan genre-nya

Film ini berjalan dengan pelan sambil mulai memainkan iramanya dengan tempo sedang. Cerita yang diusung film ini sangat erat dengan kehidupan sehari-hari. Tentang perceraian, tentang perselingkuhan, percintaan. Tema yang sangat dekat dengan keseharian dan mungkin saja kita alami, hanya saja disini diceritakan secara ringan dan tentu saja berbalut komedi. Tak berlama-lama film ini langsung memaparkan satu demi satu konflik yang terjadi, memperkenalkan  kita dengan karakter para pemainnya. Steve Carell langsung mendapatkan porsi terbanyak diawal-awal film. Kekalutannya, kegalauannya pasca sang istri minta cerai mampu ia gambarkan dengan baik. Kadang kekonyolan juga nampak ditiap ekspresinya. Ryan Gosling pun mampu tampil sempurna dengan gaya playboy nya yang cool dan elegan. Semua bintang besar yang ada di film ini, termasuk Julianne Moore dan Emma Stone juga bermain dengan baik.

Crazy, Stupid, Love adalah film komedi romantis yang tidak sekedar menawarkan cerita yang kocak dan mengundang tawa tapi juga menjadi sebuah  tontonan yang mempunyai pesan. Ya setidaknya sedikit pesan, tentang pentingnya memperjuangkan cinta sejati. Ketika kita merasa seseorang adalah belahan jiwa kita, maka hendaknya terus diperjuangkan sampai kita mendapatkannya. Film ini juga tampil menarik karena dialog-dialognya yang cerdas juga menggelitik. Semua cast difilm ini sangat mendukung kekonyolan dan kegilaan yang tersaji haha termasuk mimik muka dan gesture yang ditampilkan oleh Steve Carell. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri Cal mampu ter-bedakan. Cal adalah karakter favoritku difilm ini. Ia bisa tampil dengan sebegitu polosnya, tapi tiba-tiba si om yang 1 ini bisa berubah 180 derajat menjadi sangat percaya diri, ganteng, dan kharismatik, ya walaupun kadang kegugupannya masih sedikit nampak.

Naskah yang ditulis oleh Dan Fogelman sangat menarik, cara ia membangun cerita dari awal begitu runtut. Cara ia menghubung-hubungkan kejadian satu dengan lainnya sehingga kesemuanya memiliki keterikatan juga sangat rapih. Hingga twist diakhir film juga mampu ia tempatkan di momen yang tepat. Hanya beberapa kali film ini terjebak dalam kebosanan tapi itu juga segera terbayar lunas dengan momen dipertengahan menjelang akhir .Saat konflik demi konflik semua diledakkan dan pada akhirnya mampu terurai diakhir film.

Oya, difilm ini juga digambarkan bahwa cinta tak mengenal usia, ketika putra Cal secara terang-terangan menyukai pengasuhnya yang lebih tua 4 tahun darinya. Dan masih banyak lagi kekonyolan lain yang nantinya akan terungkap. Ya cinta memang kadang membutakan. Kadang membuat kita melakukan hal-hal gila dan terlihat bodoh, tapi itulah cinta yang ditawarkan di film ini, rumit, gila, tapi mampu dikupas secara mendalam sehingga menjadi tontonan yang apik dan berkesan. Happy watching-