11 Mei 2015
MAGGIE (2015)
Di review oleh
Ratih Angga Dewi
label:
drama,
horror,
lumayan,
survival,
thriller,
twist ending
Film zombie tak selalu menawarkan aksi brutal segerombolan mayat hidup, film zombie ada juga yang terasa melankolis dan pilu. Maggie contohnya, film horor satu ini menawarkan nuansa yang beda dari film zombie kebanyakan. Menceritakan tentang virus yang menyerang sebuah desa terpencil. Adalah Wade (Arnold Schwarzenegger), seorang ayah yang putrinya juga terserang virus necroambulist tsb.
Maggie (Abigail Breslin) gadis malang tersebut mau tak mau harus menunggu sekitar 6 minggu untuk berubah menjadi sosok yang bukan lagi dirinya, ya sosok yang nantinya bukan tidak mungkin akan menyerang ayah yang dicintainya. Namun sang ayah sama sekali tak takut dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk itu. Ia tetap mempertahankan Maggie dan berjuang menyelamatkan anaknya tsb. Bahkan Maggie tetap diijinkan untuk tinggal bersamanya.
Meski merupakan film bertema zombie, Maggie tidak bercitarasa zombie yang kental dengan adegan cabik mencabik, tidak dipenuhi adegan teror mayat hidup yang intens. Film zombie satu ini menawarkan cerita yang gelap, namun tetap mengharu biru. Semacam drama survival yang lebih menggugah emosi penontonnya. Sangat sedikit adegan yang benar-benar mencerminkan keganasan zombie. Ini justru tentang proses menjadi zombie itu sendiri. Juga tentang konflik batin karakter-karakter yang ada didalamnya, berikut pilihan yang harus diambil dan resiko yang harus dijalani
Film ini ingin mengangkat tentang hubungan emosional ayah dan anak, tapi saya kurang begitu merasakan adanya ikatan perasaan yang dalam antara Wade dan Maggie. Ditambah lagi temponya yang lambat membuat film zombie satu ini makin terasa loyo. Akting keduanya terutama Abigail Breslin sih lumayan oke, tapi sepertinya ia terlalu manis untuk bertransformasi menjadi mayat hidup :v Saya lebih suka melihatnya jadi sosok lucu nan imut seperti di Little Miss Sunshine, atau di No Reservation. Tapi sekarang doi udah beranjak dewasa sih ya, udah banyak merambah ke genre-genre yang lebih menantang termasuk genre horor seperti ini. Oke deh dimaklumi :)
Tapi diluar semua kekurangannya, film ini mengakhiri semua konflik dengan keputusan yang cukup bisa diterima. Sebuah ending untuk film zombie yang melenceng dari apa yang sering kita saksikan. Namun di sinilah nilai plus film ini yang membedakannya dengan film zombie yang lain. Bagi kamu yang suka dengan teror zombie yang seru mungkin akan kecewa dengan film besutan Henry Hobson ini. Tapi bagi kamu yang senang melihat film zombie yang lebih 'manusiawi' mungkin akan suka dengan film ini :)
7 Mei 2015
TAKEN 3 (2015)
Di review oleh
Ratih Angga Dewi
label:
action,
crime,
lumayan,
thriller,
twist ending
Saya tak terlalu menyukai film bergenre action, namun selalu suka jika menonton film-film aksi yang dibintangi Liam Neeson. Saya mulai jatuh hati ketika melihat aktingnya di Taken tahun 2008 silam, menyusul kegarangannya di Taken 2 empat tahun berikutnya. Itulah yang membuat saya merasa wajib menonton sekuelnya yang ke 3. Saya pikir film ini telah berakhir di Taken 2 tapi ternyata ada lagi lanjutannya. Senang dan excited tentunya dan berharap seri yang ke 3 ini akan menjadi sekuel pamungkas yang memuaskan
Tak seperti dugaanku, ternyata sekuelnya kali ini tidak lagi bercerita tentang penculikan seperti premis khas nya di dua seri sebelumnya. Kali ini justru Bryan Mills (Liam Neeson) lah yang menjadi tersangka atas pembunuhan sang mantan istri Lenore (Famke Jannsen) Tentu saja ia tak tinggal diam, sembari melakukan aksi kabur dan menghindari kejaran polisi, Bryan juga melakukan penyelidikan bersama rekan-rekannya mantan anggota CIA, yakni mencari dalang dibalik pembunuh sang mantan istri yang sebenarnya.
Tak ada yang salah dari akting aki ganteng satu itu, aksi-aksinya masih tetap garang dan memukau walaupun tak bisa dipungkiri ia tak lagi se-cekatan dulu waktu menyelamatkan sang putri di Taken 1, juga saat penculikan Lenore di Istanbul. Namun cerita yang diusung kali ini justru menurutku terlalu dipaksakan. Ingin terlihat berbeda dari premis yang biasanya malah menjadikan Taken 3 kehilangan pesonanya. Padahal yang membuat Taken selalu menarik adalah alur cerita yang dinamis dan gak membosankan, juga tempo yang enak diikuti. Dan di Taken 3 ini ceritanya tidak cukup kuat untuk menjadikan keseluruhan filmnya menjadi menarik.
Untuk adegan aksinya menurut saya masih lebih keren di seri-seri sebelumnya, bahkan di Taken 2 yang banyak orang menilai kurang bagus pun menurut saya masih lebih bagus dan asyik dinikmati. Di Taken 3 ini entah kenapa terasa flat dan di beberapa adegan actionnya malah kadang terasa gak realistis. Tapi tetep suka dengan kharisma Neeson di film ini saat berinteraksi dengan sang putri. Sosok ayah yang penyayang dan sangat melindungi sepertinya tlah melekat kuat dalam karakter Bryan Mills. Lembut tapi menyimpan ketangguhan
Yang jadi pertanyaan, akankah ada seri ke 4 nya. Semoga benar-benar berakhir di seri ke 3 ini. Saya berharap bisa melihat Neeson di film-filmnya yang lain, di film aksi yang baru mungkin. Saya yakin ia masih cukup mampu untuk memerankan film bergenre sejenis, karena aktor Irlandia itu semakin tua sepertinya malah semakin garang aktingnya. Entah maghnet apa yang menempel di dirinya sehingga saya yang sebenarnya tak begitu menggemari film action selalu terdorong untuk menonton film-film aksi yang dibintanginya.
Overall untuk Taken 3 sebenarnya masih bisa dinikmati kok, walaupun tidak se-istimewa seri sebelumnya. Oh ya ada twist ending juga di seri ke 3 ini, walaupun predictable tapi mungkin ini akan menjadikan nilai tambah dibanding seri sebelumnya. Happy watching !!
INTO THE STORM (2014)
Di review oleh
Ratih Angga Dewi
label:
action,
lumayan,
mockumenter,
survival,
thriller

Badai adalah sesuatu yang pada umumnya membuat orang panik dan lari tunggang langgang karena merupakan bencana yang dahsyat dan bisa memporakporandakan sesuatu disekitarnya, termasuk menghilangkan nyawa seseorang. Tapi tornado difilm ini justru merupakan sesuatu yang dinanti-nantikan oleh sekelompok orang. Mereka adalah sekelompok tim pemburu
Ada juga 2 pemuda yang bercita-cita untuk menjadi artis terkenal, dialah Donk (Kyle Davis) dan Reevis (Jon Reep) yang gemar merekam peristiwa dan hal-hal ekstrim untuk diunggah ke youtube. Tidak hanya bercerita tentang sekelompok tim pemburu badai tsb, ada juga keluarga Gary Morris (Richard Armitage) yang saling terpisah dan akhirnya bergabung dengan tim pemburu untuk mencari sang anak, Donnie (Max Deacon)
Dari awal Into The Storm tidak mampu membius saya untuk terus memandangi layar. Saya justru merasa bosan dengan percakapan-percakapan dan adegan demi adegan yang dikemas dengan sistem found footage tsb. Entah kenapa film ini tak bisa mengikat saya untuk menyatu dengan ceritanya padahal biasanya saya selalu suka dengan film-film dengan konsep seperti ini. Gaya mockumentary tsb sebenarnya sangat menunjang sebuah film disaster untuk menjadi lebih dramatis dan menarik. Tapi ketika diterapkan di film ini kok malah jadi hambar ya
Namun untungnya film ini berhasil mengembalikan perhatian saya dipertengahan film ketika badai tornado itu terjadi. Efek tornado itu benar-benar mengerikan. Kedahsyatannya membuat saya merinding, berikut suara-suara yang ditimbulkannya. Tornado dengan api merupakan gambaran yang paling spektakuler dari film ini. Dan saat kekacauan terjadi saya masih gak habis pikir dengan sekelompok orang yang rela mempertaruhkan nyawa dan justru kegirangan merekam momen tsb hanya demi kepopuleran dan uang. Tapi di situlah sisi konyol film ini
Saya menyukai film tentang bencana tapi memang kebanyakan film bertema disaster tidak mempunyai naskah yang menarik, seperti film ini. Naskah seolah hanya menjadi penghantar cerita saja dan itu merupakan kelemahan film-film jenis ini, yang bisa menjadikan filmnya terpuruk. Pada akhirnya saya lebih tertarik untuk menyaksikan betapa dramatisnya adegan saat mereka bertahan agar tidak terbawa pusaran angin tornado tsb daripada mengikuti alur cerita yang ada. Walaupun begitu bukan berarti Into The Storm gagal total, hanya sedikit membosankan dan monoton. Selebihnya masih oke, terselamatkan dengan visual effect nya yang keren.
6 Mei 2015
LOCKE (2013)
Di review oleh
Ratih Angga Dewi
label:
drama,
lumayan,
road movie,
TKP sempit
Sudah terlalu sering saya bilang bahwa saya menyukai film-film sejenis ini. Ya, film ruang sempit yang hanya mengandalkan 1 pemain sepanjang film. Kalaupun ada karakter lain biasanya hanya akan berwujud suara sepanjang film. Dan sejauh ini film ruang sempit yang paling keren yang pernah saya tonton masih tetap Buried, thriller berbudget minim garapan Rodrigo Cortez itu belum ada yang menandingi keekstriman dan kegeniusannya hingga detik ini.
Dan kenapa saya suka dengan film-film jenis ini, jawabannya adalah karena saya selalu penasaran apa yang bisa dilakukan 1 aktor untuk tetap bisa membius penontonnya sepanjang scene yang monoton itu. Dan itu juga yang membuatku tertarik untuk menonton drama ruang sempit yang mengandalkan Tom Hardy sebagai aktor yang melakoni one man show kali ini.
Locke bercerita tentang kegalauan Ivan Locke yang harus menghadapi situasi sulit dan penuh tekanan sepanjang film. Malam itu ia meninggalkan pekerjaan konstruksinya, kemudian membelah kota Birmingham dengan mobil BMW X5 nya menuju kota London. Tak seperti pengendara pada umumnya yang bisa santai mengemudi dan fokus, pikiran Ivan justru bercabang kemana-mana. Bagaimana tidak, sembari mengemudi dengan kecepatan tinggi, konsentrasinya harus terbagi untuk menjawab beberapa panggilan telepon yang seolah tanpa henti. Yap, ia berada disituasi penuh tekanan malam itu.
Sangat kompleks masalah yang dihadapi Locke. Mulai dari masalah pekerjaan yang tiba-tiba ia tinggalkan sehingga Ia pun harus meyakinkan bossnya Gareth (Ben Daniels) melalui telepon, ia juga harus melimpahkan tanggung jawabnya kepada karyawannya yakni Donal (Andrew Scott). Lalu di antara dering telepon yang bertubi-tubi itu kadang ada juga suara anak-anaknya yang menanti kepulangannya, lalu ia pun malam itu juga harus mengungkapkan kenyataan pahit kepada istrinya, dan itu berarti menghadapi kemarahan dan kekecewaan sang istri. Di lain pihak seseorang telah menunggu kedatangannya diseberang telepon. Dan itulah yang menjadi pilihannya yang seolah tak bisa diganggu gugat lagi. Pilihan yang sangat menentukan hidup Locke.
Memang tak sekeren Buried, tak seekstrim ketegangan yang diciptakan Ryan Reynolds saat harus ketakutan didalam peti sempit sendirian. Locke menyuguhkan kepanikan yang lain. Kegusaran seorang Ivan Locke yang harus menebus sebuah kesalahan dimasa lalu, kesalahan yang tak akan mau ia balas dengan perbuatan yang sama. Tom Hardy menampilkan performa beda dari biasanya, dengan suara paraunya, dalam keadaan pilek yang juga ia ekspresikan tak kalah naturalnya, sepertinya ia berusaha tampil bijak dan tenang dalam menyikapi malam yang begitu membuatnya stres itu.
Kadang rasa bosan menghinggapi saya saat menonton film yang sepanjang durasinya hanya menyuguhkan sudut pandang Locke dengan jalanan di malam hari, tapi Tom Hardy sangat lihai memainkan ekspresi dan gerak-geriknya hingga saya tetap betah memelototi wajah gantengnya. Sebagai drama Locke cukup konsisten menciptakan suasana kekalutan, sekaligus apik dalam memaparkan drama itu sendiri. Sebagai film ruang sempit Tom Hardy cukup mampu memerankan karakter solo nya, apalagi ditunjang dengan naskah yang mengedepankan konflik moral dalam diri Locke, film ini cukup mampu menggugah kita untuk bersimpati pada Locke sebagai tokoh sentral.
5 Mei 2015
BACKCOUNTRY (2014)
Di review oleh
Ratih Angga Dewi
label:
adventure,
drama,
horror,
lumayan,
survival,
thriller,
true story
Film survival tentang orang yang berpetualang ke sebuah tempat terpencil memang bukan sesuatu yang baru. Kali ini sebuah kisah nyata tentang pasangan yang menyambangi sebuah hutan yang terisolasi. Adalah Alex (Jeff Roop) dan kekasihnya Jenn (Missy Peregrym) mereka berdua merencanakan untuk berkemah di daerah hutan pedalaman yang bernama Blackfoot Trail. Sebenarnya ada sebuah misi yang akan dilakukan Alex untuk kekasihnya tsb yang akan kita tahu dipertengahan film (gamau spoiler :p).
Perjalanan mereka pada awalnya terasa normal, tak ada suatu halangan yang berarti. Mereka terlihat menikmati petualangan, sampai sore harinya, Jenn bertemu dengan sosok pria misterius yang tiba-tiba saja muncul dan bahkan disambut dengan keramahan olehnya, hingga mereka bertiga memutuskan makan malam bersama. Alex merasa terganggu dengan kehadiran Brad (Eric Balfour), bahkan Alex mencurigai Brad adalah lelaki gila, karena tidak mengetahui asal usulnya secara jelas. Keesokan harinya pasangan tsb mulai masuk lebih jauh ke hutan, tanpa peta, dengan ingatan seadanya dari Alex yang jumawa bahwa ia seakan sudah mengetahui dengan pasti seluk beluk daerah tsb. Dan teror demi teror yang tak terduga pun akhirnya bermunculan
Mungkin karena didasari oleh sebuah kisah nyata, semuanya yang tersaji terasa begitu natural dan realistis. Teror situasi hutan yang sepi dan mengancam dengan kesan sunyinya mampu membuat saya merasa ikut berjalan dibelakang Jenn dan merasa dibuntuti sesuatu. Tanpa backsound yang mendominasi, film thriller Canada ini mampu membuat adegan demi adegan begitu terasa real. Teror binatang buasnya juga tetap mengerikan walaupun hanya berupa beruang, bukan sosok binatang seperti ular atau buaya.
Teror secara psikis, kegentingan, kepanikan semuanya menyatu dengan apik dan disajikan dengan rapi. Membuat saya terkadang miris dengan nasib kedua pasangan yang terlihat saling mencintai tsb. Selain itu nuansa survival nya juga sangat terasa. Saat mereka kekurangan makanan, minuman, dan cara mereka bertahan hidup mampu digambarkan dengan begitu nyata.
Akting mumpuni yang dilakukan keduanya jelas menunjang keseluruhan film ini. Tanpa akting yang apa adanya dan natural seperti itu, film ini tak akan bisa mengalir sebegitu rapi dan menyenangkan, hanya akan menjadi thriller kacangan. Kekurangannya mungkin film ini tidak mempunyai dasar cerita yang spesial, kecuali basic kisah nyatanya. Beruntung kisah nyata tsb mampu dituangkan dengan baik dan membuat saya setidaknya bersimpati dengan pengalaman mencekam itu. Not bad lah filmnya, pemandangan hutannya juga keren. Happy watching !!
THE LUNCHBOX (2013)
Di review oleh
Ratih Angga Dewi
label:
drama,
keren,
romance
Sebuah judul film yang sederhana. The Lunchbox, alias kotak makan siang. Dalam film ini mungkin lebih tepat jika disebut rantang, karena di film ini lunchbox tersebut berbentuk wadah makanan yang tersusun dari atas kebawah. Oke, sebenarnya bukan rantang yang akan jadi inti cerita, dan film ini gak akan membahas tentang rantang tersebut, karena rantang itu hanyalah sebuah perantara hubungan 2 orang manusia yang tak saling kenal, dan bahkan tak tahu rupa masing-masing, hanya saling berbalas surat yang di selipkan lewat rantang makanan yang akan selalu berisi menu yang berbeda setiap harinya. Dialah Saaajan Fernandez (Irrfan Khan) dan Ila (Nimrat Kaur)
Saajan diceritakan adalah seorang akuntan tua yang sedang menghadapi masa-masa pensiunnya. Saajan adalah pribadi yang terlihat pendiam dan kesepian setelah istrinya tiada. Dan seolah senasib dengannya Ila adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang merasa terabaikan karena merasa hubungan dengan suaminya kian dingin dan hambar. Berawal dari rantang makanan yang dikirim Ila untuk bekal makan suaminya dengan jasa kirim dabbawala, ternyata sang kurir salah mengantarkan makanan, dan rantang tsb malah diterima oleh Saajan. Saajan menyukai masakan Ila dan mereka mulai intens berkomunikasi lewat 'surat rantang'
Saya menyukai film India yang seperti ini. Gak banyak tari-tarian dan gak lebay. Seperti halnya Kahaani, The Lunchbox juga merupakan film india yang beda. Hanya saja gak ada konflik rumit disini. Hanya berkisah tentang kesunyian jiwa dua manusia yang kebetulan saling dipertemukan dengan cara yang unik. Kesamaan itu membuat mereka nyaman untuk menceritakan pengalaman dan kehidupan mereka masing-masing lewat goresan pena.
Dan kedekatan emosional pun lambat laun dirasakan dua makhluk yang mulai saling penasaran untuk bertemu tsb. Perasaan aneh lambat laun juga mulai menyeruak dicelah hati Saajan, wajahnya pun terlihat mulai berbinar lucu. Kita bisa melihat perubahan karakter Saajan yang dingin dan seolah tak bersemangat menjadi seperti hidup kembali. Disini kita bisa melihat bahwa cinta bisa membuat orang menjadi bersemangat menjalani hidup, bahkan membuat seseorang terlihat lebih muda dari usianya.
Sebuah film yang berkelas dengan caranya. Menggunakan media surat menyurat menambah kesan klasik dan romantis. Tak hanya menyampaikan kerisauan dan sisi kelam kehidupan dua insan kesepian tersebut secara apik, The Lunchbox juga menggoreskan sedikit warna lewat akting menggelitik Shaikh (Nawazuddin Siddiqui) dan dialog lucu Ila dengan Aunti (Bharati Achrekar).
Ini film India kedua yang memikat hati saya selain Kahaani, cita rasanya sangat beda dari film bollywood kebanyakan. Walaupun terkesan sederhana namun penyampaian dialog lewat surat tsb terasa lebih dalam dan bermakna, membuat saya rindu masa-masa surat menyurat masih berjaya, ketika belum ada email, bbm, whatsapp dll
Dialog yang gak cheesy, terkesan gak berlebihan tapi ngena dihati. Hubungan dua manusia yang tak lagi muda, hingga perasaan-perasaan dan kebutuhan akan intimitas sebuah hubungan, semua tertuang dengan apik. Apalagi kerap diperlihatkan aktivitas dapur dirumah Ila saat ia meracik makanan, hingga makanan itu sampai didepan Saajan, semua terlihat begitu lezat dan membuat perut keroncongan. Aihh, jadi membayangkan roti cane yang lezat, samosa dan menu-menu India lainnya :9
Pokoknya ni film ga boleh dilewatkan, apalagi kalau kamu bosan dengan film bollywood yang bertema percintaan klise dan didominasi tari-tarian. Dijamin gak akan nangis bombay nonton film ini, yang ada malah ikut senyum-senyum sendiri dan bakalan berdecak kagum dengan pengambilan gambar kota Mumbai yang padat, kumuh namun mampu di shoot dengan begitu kerennya. Happy watching !! :)
26 Sep 2014
DALLAS BUYERS CLUB (2013)
Di review oleh
Ratih Angga Dewi
label:
drama,
keren,
survival,
true story
Gimana perasaanmu ketika tiba-tiba divonis mengidap HIV/AIDS dan hidupmu tinggal 30 hari lagi? Depresi pastinya, dan pasti langsung kehilangan semangat dan ngedrop. Inilah kenyataan mengejutkan yang dialami Ron Woodroof (Matthew McConaughey), seorang ahli listrik yang juga kadang menjadi penunggang rodeo. Ia divonis menderita HIV/AIDS yang kebanyakan diidap oleh kaum homoseksual . Diceritakan film ini bersetting di Dallas, Texas, Amerika Serikat, pada tahun 1985
Kepribadian Ron yang liar, melakoni seks bebas, minum-minum hingga menggunakan obat-obatan terlarang harus mengantarkannya pada kenyataan pahit dan tak ia duga. Meski awalnya tak percaya, marah dan mengira bahwa darahnya saat ditest tercampur dengan darah orang lain, tapi Ron tak bisa menampik ketakutannya. Yap, ia pada akhirnya percaya dengan vonis itu. Ia pun sempat dilanda depresi dan frustasi. Angka 30 pun seakan menjadi momok baginya. Namun ia tak mau tenggelam dalam ketakutannya. Ia pun mulai bangkit!! Dalam kondisi lemah, Ron mulai berusaha mempelajari secara otodidak tentang penyakit AIDS dari buku-buku dan segala referensi lainnya.
Ia pun mulai memburu AZT, zat yang diyakini merupakan obat HIV/AIDS yang masih dalam uji klinis di AS pada saat itu. Hingga pada suatu saat ia terbang ke meksiko dan bertemu dengan dokter Vasss yang justru menawarkan penyembuhan alternatif dan berbagai suplemen diet. Merasa kondisinya membaik, ia pun mulai menyelundupkan obat ilegal yang terbukti memperpanjang umurnya tsb dan menjadikannya peluang bisnis. Dari situlah ia bersama rekan sependerita-nya yakni Rayon (Jared Leto) mendirikan organisasi, Dallas Buyers Club.
Sejak awal film ini sudah membuatku tertarik dengan pesona tokoh utamanya yakni Ron Woodroof (Matthew McConaughey). Karakternya yang terkesan cuek, bebas, keras dan semau gue benar-benar melekat dibalik tubuh krempeng yang kini dimilikinya berkat diet ekstrim yang konon dilakukannya untuk menunjang penampilannya di film ini. Yap, secara fisik dan pembawaan ia sangat pantas memerankan seorang yang mengidap HIV/AIDS. Perlahan karakter sang koboy berubah menjadi rapuh dan tergoncang ketika menerima kenyataan hidupnya berada diambang kematian. Disitu ia juga mampu mendalami karakter seseorang yang depresi, dan secara manusiawi menunjukkan kelemahannya.
Selain Matthew, akting yang bagus pun juga dilakoni oleh Jared Leto. Ia difilm ini berperan menjadi Rayon, sosok transgender yang juga menderita HIV/AIDS. Ia adalah seorang homoseksual yang tak segan menggoda Ron yang seorang homophobic. Ron yang anti dengan kaum gay pun terlihat risih dengan Rayon pada awalnya. Jared Leto terlihat tak kalah kurusnya dengan rekannya tsb. Make-up nya juga sangat meyakinkan dan cantikk. Mereka berdua memang bener-bener niat dan meyakinkan banget di film ini hingga secara fisikpun rela untuk totall berubah.
Budgetnya yang konon minim tidak lantas membuat Dallas Buyers Club menjelma menjadi film yang biasa-biasa saja. Dengan plot simpel dan berbasis kisah nyata, Jean-Marc Vallee berhasil memoles Dallas menjadi begitu memukau dengan modal dua karakternya yang kuat. Film ini berhasil mengangkat isu pada jamannya, dimana homoseksual selalu dikambing hitamkan menjadi penyebab AIDS. Konflik personal antara Ron dan tim FDA (bahan pengawas dan periijinan obat) juga tersampaikan dengan baik
Dallas tak hanya berbicara tentang isu-isu yang ada pada tahun itu. Ini juga bukan cerita klise seperti di film-film melodrama yang menawarkan adegan-adegan mengharukan dan bikin mewek sepanjang film. Memang ada keharuan di beberapa adegannya, tapi yang terasa kental disini justru tentang semangat seorang Ron Woodroof yang berhasil bangkit dari titik terendahnya pada saat divonis dokter dan berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Setidaknya mampu membuat kondisinya jauh lebih baik dan bisa melewati hari keramat yang diprediksi dokter. Ya, manusia memang selalu bisa berbicara dan memprediksi, tapi tuhanlah yang pada akhirnya menentukan.
Dan menariknya orang seperti Ron yang terlihat liar dan semaunya, dalam kondisi sebagai pesakitan tak hanya mampu mematahkan vonis dokter, ternyata ia juga perlahan bertransformasi, dan mampu memberi manfaat bagi orang lain yang bernasib sama dengannya. Ditengah kesulitan orang menemukan obat legal, ia tergerak berbisnis walaupun harus berurusan dengan FDA sampai pihak berwajib sekalipun. Ia seolah menjelma menjadi malaikat pada saat itu dimana para pengidap sepertinya kian bingung dan tak yakin dengan berbagai macam obat yang kian gencar ditawarkan dipasaran.
Oiya, suka banget deh sama scoringnya, membuat nuansa film ini tetap nyentrik dan koboy banget, walaupun menyimpan kepiluan. Ini adalah film based on a true story yang kelihatan banget digarap dengan bener-bener niat, dengan cast yang total bermain terutama dua karakter Ron dan Rayon, dengan pendalaman materi yang bagus sehingga menjadikan Dallas bener-bener hidup dan mampu menggambarkan keadaan pada tahun itu, dengan segala isu dan kritik sosialnya, hingga mengajak kita bersimpati dan perlahan menyelami karakter menarik kedua tokoh utamanya. Gak salah sih kalau film ini mengantarkan Matthew McConaughey dan Jared Leto meraih Piala Oscar pada Academy Award 2014 lalu.
21 Sep 2014
GRAND PIANO (2013)
Di review oleh
Ratih Angga Dewi
label:
lumayan,
psychological,
thriller
Tom Selznick kali ini akan bermain dalam konser besar dalam rangka mengenang kematian sang pianis legendaris yang juga merupakan gurunya. Setelah kegagalannya 5 tahun yang lalu dalam memainkan La Cinquette musik yang sangat susah dimainkan dan membutuhkan kemampuan luar biasa. Kini ia kembali dan berkesempatan memperbaiki citra dirinya yang saat itu sempat terjatuh gara-gara kegagalan dalam konsernya tsb. Tom tentu saja sangat nervous, gugup karena tak mau kejadian 5 tahun yang lalu terulang kembali. Apalagi ini adalah pertama kalinya ia bermain dengan grand piano yang kini diwariskan kepadanya tsb
Membayangkan menonton Elijah Wood yang demam panggung memainkan jari-jari lentiknya diatas sebuah piano besar diatas panggung megah dengan sentuhan dekorasi yang sangat berkelas. Terlihat sangat meyakinkan dan elegan memang pada awalnya. Ditambah lagi adanya teror dari seseorang yang terus mengarahkan sniper ditubuh sang pianist, mengingatkanku dengan Phone Booth tentu saja, tapi ini dalam versi yang beda dari sensasi claustrophobic dalam telepon umum. Tom memang tertekan, terintimidasi oleh sang peneror tapi lebih kepada nyalinya yang makin lama makin menciut walaupun dia berada dalam ruangan yang luas dengan penonton yang begitu banyaknya.
Permainan menegangkan pun dimulai ketika jari lentik Tom Selznick (Elijah Wood) mulai menari-nari menekan tuts demi tuts piano peninggalan gurunya tersebut. Ketika ia menyadari bahwa ada seseorang yang mengancam keberadaannya dan sang istri Emma. Sang peneror mengancam didalam lembaran partiturnya bahwa ia akan membunuhnya juga sang istri jika Tom melakukan kesalahan walau hanya satu nada saja dalam permainannya. Tak cukup disitu, sang peneror juga menyuruh Tom memainkan La Cinquette yang dulu pernah membuat ia malu setengah mati karena pernah gagal memainkannya. Tom yang menyimpan sebuah trauma karena kegagalannya dalam konser 5 tahun yang lalu pun makin demam panggung dan makin gelisah tak karuan. Namun ia tetap berusaha fokus dan tetap memainkan jarinya dengan sangat cepat, secepat degup jantungnya yang makin berkejaran
Setting film ini memang sangat megah, performa Tom pun sekilas sangat meyakinkan dengan dandanan klimisnya, baju rapih dan kerutan wajahnya yang mengisyaratkan kegugupan. Ancaman si peneror pun pada awalnya sempat membuatku merasakan ketegangan seiring dengan keresahan Tom yang mulai mengucurkan keringat dingin didahinya. Didukung dengan permainan piano yang mendayu penuh misteri mengiringi ketegangan, semua berjalan dengan tempo yang lumayan cepat tapi entah kenapa film ini terasa monoton hingga dipertengahan film.
Entah kenapa ketegangan itu terasa makin biasa seiring dengan permainan piano dan ekspresi wajah Elijah Wood yang semakin membosankan duduk dibalik grand piano tsb. Grand piano dan semua elemen diruangan megah tersebut pada akhirnya seperti hanya membungkus semua ketegangan yang klise. Ini tak beda jauh dengan film-film thriller diluaran sana yang kemasannya mungkin lebih sederhana. Tapi Grand Piano dikemas dengan bungkus yang elegan, hanya itu bedanya. Bahkan sang peneror pun ternyata tak membuatku menjadi terkesan (biasanya kalo ada villain yang keren malah terkesan sama vilainnya), Nah di film ini sosok John Cusack ga bisa memberikan itu semua, gak semengerikan yang dibayangkan, begitupun motiv yang mendasari ancamannya
Film ini diproduseri oleh Rodrigo Cortez tapi gak berhasil membuatku terpaku dan terpesona seperti ketika menonton Buried yang lebih sederhana dan jauh dari unsur-unsur kemegahan namun jenius itu. Ini terlalu bagus diawal namun membosankan pada akhirnya. Endingnya memang menjawab semua misterinya, apa motiv dari si peneror dll tapi thriller satu ini kurang bisa membekaskan kesan yang mendalam. Memang gak buruk sih, masih ada kelebihan dari segi setting nya yang megah dan sinematografinya, tapi gak ada sesuatu yang istimewa yang membuatku akan terus mengingat adegan tertentu di film ini. Seharusnya dengan tampilan dan setting yang begitu megah dan epic, Grand Piano bisa memberikan lebih dari ini, terutama dalam penyelesaiannya.
CHEF (2014)
Di review oleh
Ratih Angga Dewi
label:
comedy,
drama,
lumayan
Dalam dunia kuliner, setiap orang pasti mempunyai ide untuk bereksperimen dan mengeksplorasi berbagai rasa. Apalagi jika kita adalah seorang chef sebuah restoran ternama pastilah ada keinginan untuk memanjakan lidah para pengunjungnya dengan citarasa yang baru. Seperti juga seorang Carl Casper (Jon Favreau), ia adalah seorang koki sebuah restoran terkenal yang bisa dibilang kreatif dan idealis, suka menciptakan kreasi masakan yang baru. Begitu pula ketika ia harus menjamu seorang kritikus makanan, ia pun telah bersiap untuk menghidangkan segala yang beda dan lezat pastinya
Namun semua ide kreatifnya tak bisa terwujud lantaran sang bos yakni Riva (Dustin Hoffman) menyuruhnya untuk membuat menu classic. Pada akhirnya ia direview begitu buruk bahkan ulasan tentang masakannya tersebut merambah luas ke dunia maya. Carl kebakaran jenggot dan sempat mendamprat sang kritikus, dan sial tanpa disadari peristiwa itu justru makin membuat reputasinya kian memburuk karena video caci makinya terhadap sang kritikus juga mulai tersebar didunia maya. Lengkap sudah kesialan yang Carl dapatkan. Dalam keadaan yang serba terpuruk tersebut, ia pun mulai mencoba bangkit dengan memulai sebuah usaha unik yakni berjualan makanan menggunakan food truck, dibantu dengan sang anak dan rekannya ia pun memulai bisnis barunya tsb
Dari film ini bisa dilihat bahwa ternyata bekerja disebuah restoran tersohor dan menjadi seorang chef ternama sekalipun bukanlah sebuah jaminan kebahagiaan. Kreatifitas yang dimiliki Carl terkungkung. Ia tak pernah memiliki kebebasan berekspresi lewat masakannya, bahkan waktu bersama sang anak pun seolah menjadi tersita. Tak disangka lewat bisnis food trucknya ternyata justru membuat hidup Carl lebih enjoy, lebih memiliki kebebasan dalam menjalani hobby sekaligus pekerjaannya tanpa merasa ditekan, tanpa merasa diatur dan itu justru yang mampu menghantarkannya pada sebuah kebangkitan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Seperti dikehidupan nyata aja deh, kadang orang lebih memilih untuk membuka bisnis kecil-kecilan, tapi memang sesuai dengan apa yang diinginkan daripada mempunyai profesi yang kelihatannya menjanjikan dan keren, tapi harus bekerja dibawah kuasa seseorang yang mempunyai misi dan visi yang kadang gak sejalan
Tak hanya mengiming-imingi kita dengan berbagai sajiannya yang membuat kita ngiler, berikut pengambilan gambar makanan yang terlihat menggiurkan, Chef juga dibungkus dengan drama, hubungan Carl dan anaknya Percy yang mulai renggang sejak sang ayah terlalu sibuk dengan pekerjaaannya didapur. Dramanya gak terlihat mendominasi, ia terasa membaur dengan hangat dibalik semangat pekerja keras seorang Carl Casper yang juga terasa sekali dalam film ini. Sempilan komedi dari dialog-dialognya pun juga cukup menggelitik.
Ditambah pula dengan penggunaan social media yang cukup mendominasi sepanjang film ini menjadikan Chef makin terasa masa kini banget. Bahkan seperti potret kehidupan jaman sekarang, dimana digambarkan seorang anak seumuran Percy justru lebih melek internet daripada orang dewasa seperti Carl. Namun disini ditunjukkan bahwa Percy memanfaatkan itu dalam sisi positif. Ya, ke-eksisannya dalam menggunakan socmed justru menjadi senjata ampuh dalam kegiatan pemasaran bisnis food truck sang ayah.
Semua elemen dalam film ini berhasil diracik Favreau menjadi sebuah tontonan lezat, selezat sandwich cubano yang ia olah. Hubungan ayah-anak juga dengan mantan istri pun ditampilkan dengan mengalir dan realististis. Film ini dengan santai mengajak kita berpetualang bersama food truck sekaligus menikmati kerenyahan komedi, juga menikmati kehangatan drama yang membalutinya. Sempet terlintas dipikiranku, enak juga kali ya jualan street food pake truck kaya di film ini, ga melulu cuma disatu tempat aja, jadi kita yang menghampiri tempat-tempat ramai dan gak akan membosankan pastinya haha, bisa sambil liburan dan jalan-jalan juga. :D
2 Sep 2014
PRISONERS (2013)
Di review oleh
Ratih Angga Dewi
label:
crime,
drama,
keren,
thriller
Yaa rasa-rasanya semua orang tua akan berusaha semampu yang ia bisa untuk mencari dan menyelamatkan anaknya yang hilang. Seperti yang dilakukan Keller Dover (Hugh Jackman) yang tanpa lelah dan tanpa putus asa harus pontang panting kesana kemari mencari sang putri yang berumur 6 tahun yakni Anna (Erin Gerasimovich) yang tiba-tiba saja lenyap dan keberadaannya entah dimana. Peristiwa naas itu terjadi saat Keller bersama istrinya Grace (Maria Bello) dan kedua anaknya, Anna dan Ralph, sedang berkunjung kerumah kerabatnya untuk merayakan Thanksgiving. Keller dan sang istri baru menyadari anak mereka hilang saat mereka tak menemukan anna dan Joy (putri Franklin) yang sedari tadi bermain-main diluar rumah.
Prisoners ini ku kira bakalan mirip sama Taken, karena keduanya sama-sama bercerita tentang penculikan anak, dan melibatkan sang ayah dalam pencarian. Tapi ternyata dugaanku salah karena di film ini justru lebih menitikberatkan pada misteri yang cukup ber-labirin dan tentu saja film ini tidak secepat Taken yang notabene merupakan film action dengan tempo yang cepat. Tapi walaupun tidak seagresif film-film aksi dan temponya tergolong sedang, Prisoners tetap mampu membuat kita fokus dan terbius mengikuti setiap jengkal cerita dan misterinya.
Sepanjang dua setengah jam saya pun dengan manisnya tetap duduk tak bergeming, asyik menguliti semua misteri yang mengusik rasa penasaran. Prisoners benar-benar suguhan yang mengasyikkan, kita akan diajak mengupas setiap balutan misteri dengan beberapa petunjuk yang pelan-pelan disisipkan, hingga pada akhirnya benar-benar dipaparkan diakhir film. Seiring itu kita juga diajak menyelami karakter dari tiap tokohnya terutama karakter Keller yang menurutku sangat terlihat gegabah. Ya mungkin keresahan dan keputus asaan seseorang bisa mengubah seseorang itu menjadi sosok yang cenderung tanpa pertimbangan dalam melakukan apapun. Mungkin ini bisa jadi pesan moral, bahwasanya dalam keadaan serumit apapun pengendalian diri itu penting, jangan hanya mengandalkan emosi. Dan sikap yang ditunjukkan Keller itu kadang membuatku kurang simpatik dengannya. Walaupun tetap saja, sosok Keller sebenarnya merupakan sosok bapak yang baik dan cinta keluarga
Tak hanya menyisipkan sebuah pesan klise jangan sampai kita lengah dalam menjaga anak ! seperti sebuah puzzle, Prisoners juga mengajak kita asyik bermain, mencoba menggabungkan kepingan-kepingan clue sepanjang film. Gak ada yang benar-benar meyakinkan disini. Semuanya serba mungkin dan hanya bisa ditebak-tebak. Semua petunjuk pun juga tidak secara jelas diselipkan, semua itu membuat kita makin penasaran. Drama-crime ini benar-benar membuatku terpaku untuk terus mantengin layar, pengen tahu apa saja yang akan terjadi, kejutan apa yang akan terkuak lagi dan begitu sang pelaku akhirnya dikeluarkan dari 'persembunyiannya' menjelang akhir film, itu sudah cukup memberikan jawaban dan cukup memuaskan, walaupun gak begitu mengejutkan tapi gak mengurangi kadar kepuasan menonton
Prisoners begitu menyenangkan mungkin juga karena dari awal, gambar dan nuansa yang ditampilkan pun sangat mewakili atmosfir yang menyelimuti film ini. Selain misteri dan atmosfir film yang mendukung ketegangan dan keasyikan menonton, para karakter di film ini juga berperan penting sehingga Prisoners menjadi sangat membekas dihati. Seperti kubilang tadi, Akting Hugh Jackman sangat gemilang dengan permainan wataknya yang kuat. Selain itu ada sosok detektif Loki (Jake Gyllenhaal) yang juga berakting dengan sangat meyakinkan. Overall bener-bener puas menonton film ini. Walaupun cuma nonton dilaptop tapi tetep aja mengasyikkan dan gak ada bosannya sama sekali padahal durasinya lumayan lama . Recomended nih buat orang-orang yang suka film-film detective dan menyukai film bergenre drama-crime. Di jamin gak mengecewakan filmnya :)
Langganan:
Postingan (Atom)














%2Bposter.jpg)









%2Bposter.jpg)























