18 Sep 2013

THE CONJURING (2013)


 

The Conjuring. Yups, film horor yang saat pemutarannya beberapa waktu lalu sangat heboh dibicarakan bahkan oleh orang-orang yang notabene bukan pecinta horor. Entah kenapa sejak diputar banyak banget yang menggembar-gemborkan keseraman film ini. Bahkan Kalau ku perhatikan banyak banget orang yang setelah menonton langsung merekomendasikan film ini dengan semangatnya haha. Ya, film ini memang mempunyai hype yang sangat tinggi. Bahkan beberapa orang menyebutnya sebagai film horor terseram sepanjang masa. Wow sampai semengerikan itukah? The Conjuring menjadi menarik dan heboh mungkin karena faktor embel-embel kisah nyata yang dibawanya. 

Film horor yang sangat kunantikan tahun ini selain The Conjuring adalah Insidious Chapter 2. Dua film itu memang digarap oleh Wan. Siapa sih yang gak tahu kemampuan director 1 ini, sejak kesuksesan Saw dan  Insidious  rasa-rasanya gak ada alasan untuk tidak menonton film-film horor garapan Wan yang lainnya. The Conjuring secara singkat bercerita tentang Carolyn (Lily Taylor) dan Roger Perron (Ron Livingstone) yang baru saja pindah ke rumah pedesaan impian mereka di Rhode Island bersama lima putrinya, yaitu Andrea (Shanley Caswell), Nancy (Hayley McFarland), Christine (Joey King), Cindy (Mackenzie Foy), dan April (Kyla Deaver). 

Dan ya, seperti halnya dalam Insidious, rumah itu mulai menunjukkan kengerian dan  peristiwa-peristiwa aneh. Dari ditemukannya ruang bawah tanah misterius, bau daging busuk,  kematian anjing peliharaan mereka, berhentinya semua jam tepat pada pukul 3:07, munculnya teman khayalan April yang bernama Rory, dan lain sebagainya. Keluarga Perron pun merasa terancam, karena gangguan yang awalnya tidak begitu terasa berubah menjadi sesuatu yang sangat mengganggu dan mengerikan. Hal ini membuat keluarga Perron ketakutan dan akhirnya meminta bantuan kepada Ed (Patrick Wilson) dan istrinya Lorraine Warren (Vega Farmiga) yang kerap menyelesaikan kasus-kasus supranatural

Film ini memang sekilas seperti kebanyakan film haunted house lainnya. Dengan teror dalam rumah yang semakin lama semakin intens, kengerian-kengerian yang seolah dibangun perlahan hingga mencapai klimaks. Tapi film ini bukan saja film rumah berhantu karena juga kental dengan hal-hal yang berbau supranatural, seperti adanya unsur-unsur exorcism. Ya sedikit mengingatkan dengan The Exorcist. Wan sangat mahir dalam meramu sebuah horor menjadi sangat creepy dan memorable dengan sentuhan khas-nya. 

Masih teringat jelas kengerian-kengerian yang kita lihat dalam Insidious. Di film ini ia juga dengan cerdasnya menyisipkan hal-hal kecil yang mampu terus menempel diotak penonton seperti permainan clap-and-hide yang bisa membangun sensasi ngeri yang memorable. Tak diragukan lagi, kelebihan James Wan adalah selalu bisa membuat horor yang klise sekalipun menjadi sangat menyeramkan. Apalagi di film ini ia bekerjasama dengan komposer Joseph Bisara untuk menata tensi ketegangan lewat musik. Seperti diketahui keduanya pernah berkolaborasi dalam insidious. Maka tak heran jika scoring di film ini juga sangat seram


The Conjuring mempunyai apa yang dibutuhkan dalam film horor. Mulai dari cerita (adaptasi kisah nyata) yang dikemas dengan matang, para pemain yang juga sangat total. Disini Patrick Wilson kembali didaulat untuk membintangi film garapan Wan setelah sebelumnya ia juga turut mensukseskan Insidious. Begitu juga Vera Varmiga, ia kelihatan menyatu sekali dengan karakternya, juga jajaran cast lainnya. Di dukung pula dengan suasana horor klasik era 70an, dengan pengambilan gambar yang terkesan vintage, The Conjuring mampu membawa kita seolah-olah melihat dan mengalami apa yang diceritakan pada masa itu. Apalagi dengan adanya pernak-pernik horor yang juga ikut mendukung nuansa horor seperti boneka Annabelle dan kotak musik yang menambah kesan mistik. 

Film ini memang tidak bisa dipungkiri lagi keseramannya tapi menurutku masih belom bisa menghadirkan nuansa yang baru dan original dari sebuah film horor. Mungkin karena udah terlalu seringnya melihat film-film bertema haunted house juga film-film dengan tema exorcism kali ya, Tapi sekali lagi untungnya Wan punya senjata tersendiri untuk membuat cerita yang klise tersebut jadi tetap segar dimata penonton. Intinya sih terlepas dari apapun kekurangannya, film ini tetaplah menjadi horor hollywood yang berkualitas, sebuah horor klasik yang cerdas dalam memainkan emosi dan ketakutan penonton. Happy watching 

17 Sep 2013

LIFE OF PI (2012)



Life of Pi mengisahkan tentang seorang pemuda asal India yang memiliki nama cukup aneh yaitu Piscine Molitor Patel atau akrab disapa Pi Patel. Pi merupakan pemuda yang lugu namun memiliki perasaan ingin tahu yang sangat besar. Ia selalu mencoba sesuatu yang dianggapnya benar mulai dari pandangannya terhadap agama, ilmu pengetahuan dan kehidupan.

Suatu ketika, saat keluarga Pi  mengalami kesulitan ekonomi karena kebun binatang yang mereka kelola tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seluruh anggota keluarga Pi akhirnya memutuskan untuk pindah ke Kanada dengan menggunakan jalur laut. Namun perjalanan tersebut tidaklah semudah yang ia bayangkan lantaran perahu yang mereka tumpangi di hadang badai besar dan hanya Pi yang selamat dari musibah tersebut. Dari sanalah ia harus berjuang seorang diri untuk bisa selamat di tengah lautan luas bersama Orang Utan, Zebra, Hyena, dan Harimau benggala bernama Richard Parker


Film ini merupakan adaptasi novel karya Yann Martel yang banyak menuai anggapan skeptis bahwa mustahil novel tersebut bisa diangkat ke sebuah film. Banyak beberapa nama sutradara digadang-gadang menyutradarainya sampai akhrnya kursi sutradara itu pun diambil Ang Lee dan ia membuktikan bahwa ia mampu dengan baik menuangkan Life of Pi kedalam sebuah film. Bahkan berkat film ini ia memboyong beberapa penghargaan di Oscar 2013 lalu.  


Film ini membuktikan bahwa keajaiban itu memang selalu ada dan itulah yang dialami oleh Pi. Bagaimana bisa ketika kapal yang membawa keluarganya diterjang badai besar hanya ia sendiri yang akhirnya selamat dan pada akhirnya harus berjuang di sebuah sekoci kecil bersama hewan-hewan buas. Film yang sangat menarik buatku yang notabene memang penggemar film survival. Mengingatkan dengan Cast Away nya Tom Hanks. Tapi kali ini ceritanya lebih kompleks lagi. Pi harus berjuang dan survive ditengah-tengah samudera dan juga harus bertahan dari serangan hewan-hewan buas yang sangat mengancam jiwanya.

Secara tampilan, film ini sangat mampu memvisualisasikan cerita kedalam sebuah sinematografi cantik. Walaupun belum pernah membaca novel aslinya, tapi dari cara Ang Lee menuangkan cerita dalam film ini terasa sangat indah. Sutradara asal taiwan itu sangat lihai dalam memvisualisasikan kehidupan Pi di tengah laut  melalui gambaran suasana laut yang indah nan eksotik. Dikemas pula dengan efek 3D yang sangat memanjakan mata. Juga petualangan liar Pi ditengah samudera bersama harimau benggala itu juga terasa sangat nyata dan mendebarkan. Suka banget deh sama harimau benggalanya, pengen banget melihara :3  kelihatan menggemaskan banget. Apalagi pas udah mulai jinak. Agak sedikit mengharukan juga saat melihat persahabatan Pi dan sang harimau. Akting Suraj Sharma (Pi Patel) bisa dibilang sangat total dan gemilang meski masih baru didunia perfilm-an.

Ang lee tidak hanya mampu menampilkan film dengan sinematografi dan lanskap-lanskap indah, tapi juga mampu menyisipkan pesan-pesan moralnya secara mendalam. Perihal hubungan manusia dengan tuhannya, bahwa semua agama itu baik, tentang perjuangan dan kepasrahan terhadap tuhan, tentang cara tuhan menunjukkan kekuasaanNya. Semua itu mampu tersampaikan dengan baik di film ini. Recomended buat pecinta film-film survival dan petualangan liar. Juga bagi kamu yang tidak hanya ingin mencari ketegangan, keindahan dalam film tapi juga pesan-pesan kehidupan. Happy Watching :)


16 Sep 2013

THE IMPOSSIBLE (2012)





Masih ingat tragedi tsunami 2004 silam, ketika gempa berkekuatan 9 skala righter mengguncang samudera hindia dengan kedalaman 10 meter. Gempa tersebut menimbulkan gelombang tsunami setinggi 9 meter dan memporak-porandakan kawasan sumatera utara bahkan beberapa wilayah lain didunia termasuk thailand. Banyak korban berjatuhan dari peristiwa maha dahsyat tersebut. Tidak hanya di indonesia terutama aceh dan sekitarnya, ada sebuah kisah nyata tentang keluarga yang sedang berlibur ke Thailand dan mengalami peristiwa tsunami tersebut. Berlatar kisah nyata itu, sutradara asal spanyol, J.A Bayona membuat sebuah disaster film yang berjudul The Impossible. 

The Impossible bercerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari Henry (Ewan McGregor), Maria (Naomi Watts) dan 3 anak mereka, Lucas (Tom Holland , Thomas (Samuel Joslin) , Simon (Oaklee Pendergast), yang sedang berlibur natal di Thailand. Mereka menginap  di sebuah resort di pinggir pantai, ketika tiba-tiba sebuah gulungan besar menghantam hotel tempat mereka tinggal. Sebuah premis yang sederhana sekali. Dari poster filmnya juga sebenernya udah ketahuan kalau ini adalah sebuah disaster movie, dimana kita akan menyaksikan sebuah keluarga yang menjadi korban tsunami.

Bayona untung saja bisa mengemas sebuah premis sederhana itu menjadi sebuah tontonan menarik. Ia sengaja menyentil kesensitifan kita, menyentil rasa kemanusiaan kita dengan adegan-adegan nan mengharukan dan tak jarang membuat kita menitikkan air mata. Tapi entah kenapa saat menonton film ini gw gak sampe mewek, Cuma nyesek  dan terharu aja dibeberapa adegan. Menyaksikan sesuatu yang impossible tapi bener-bener terjadi membuat kita berpikir tentang kebesaran tuhan. Ya setidaknya itu yang ingin disampaikan oleh film ini. Bahwa dalam kondisi apapun, dalam tragedi sebesar apapun, kita ga akan pernah tahu dan percaya sampe mukjizat datang dan keajaiban terjadi. 

Film ini berjalan dengan tempo yang agak lambat. kadang sedikit membosankan sih. Tapi bisa tertutupi dengan adegan-adegan mengharukan dan juga akting yang bagus dari Naomi Watts dan Ewan McGregor. Btw Naomi Watts masuk nominasi aktris terbaik Golden Globe Award untuk perannya di film ini loh. Gw suka sih akting total dari Naomi dan Thomas. Mereka bisa menggambarkan suasana hati yang kacau, ketakutan, dan bahkan kesakitan. Ewan McGregor juga sangat bisa memperlihatkan kebingungan dan kekalutannya. 

Seperti kita tahu, film ini mempunyai plot yang simpel, tapi untung saja Bayona segera tanggap dengan keterbatasan premis film ini. Ia dengan lihai segera menutupinya dengan dramatisasi disana-sini. Kadang agak diperlama dibeberapa adegan, mungkin untuk memadatkan cerita. Yang membuat film ini makin terasa dramatis gambaran tsunami itu juga diperlihatkan dengan sangat nyata dan mengerikan, ketika banyak pohon-pohon tumbang, pohon-pohon nyangkut disana-sini, bener-bener menggambarkan tragedi tsunami yang sebenarnya. bahkan setiap luka dan goresan di tubuh juga sangat diperhatikan secara detail.

Bayona berhasil mengemas sebuah cerita nyata yang kelam, tragedi yang menyedihkan menjadi sebuah tontonan yang berisi dan mengharu biru. Walaupun ceritanya cenderung kurang special dan sekilas seperti disaster-disaster movie yang lain tapi The Impossible  banyak memberikan pesan moral. Selain sarat pesan dan sangat inspiratif, film ini juga menyajikan tontonan dengan efek-efek yang luar biasa tapi tetap terlihat natural dan dramatis. Sebuah survival sekaligus disaster movie yang cocok ditonton oleh seluruh anggota keluarga. Happy Watching~


sutradara asal Spanyol bernama Juan Antonio Bayona

Read more at http://uniqpost.com/46359/the-impossible-film-tentang-tsunami-2004/
Pada pagi hari sekitar pukul 8.00 WIB, gempa berkekuatan 9 Scala Richter mengguncang Samudera Hindia dengan kedalaman 10 kilometer. Menimbulkan gelombang tsunami setinggi 9 meter dan memporak-porandakan kawasan Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Read more at http://uniqpost.com/46359/the-impossible-film-tentang-tsunami-2004/
Pada pagi hari sekitar pukul 8.00 WIB, gempa berkekuatan 9 Scala Richter mengguncang Samudera Hindia dengan kedalaman 10 kilometer. Menimbulkan gelombang tsunami setinggi 9 meter dan memporak-porandakan kawasan Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Read more at http://uniqpost.com/46359/the-impossible-film-tentang-tsunami-2004/

18 Feb 2013

SINISTER (2012)


 

Yang membuatku terpikat dengan Sinister sebenernya adalah posternya. Posternya kelihatan simple tapi menarik perhatian. Sepertinya film ini akan sangat bernuansa gore. Tapi sebenernya ini adalah film haunted house biasa dan tidak terlalu menonjolkan unsur gore, walaupun dari gambarnya memang memancing selera para 'penikmat darah'. Film ini sebenernya lebih menjurus kepada misteri. Sinister akan  membuat kita merasakan sensasi takut yang tidak hanya sekedar takut akan penampakan, tapi memberikan efek ketakutan yang membekas. 

Bisa dibilang Sinister lebih cenderung kepada psychological horor. Yang mana tidak akan banyak memberikan kesempatan para makhluk astral untuk narsis sepanjang film. Seperti film psychological horor pada umumnya, film ini lebih fokus dalam membuat kita merasakan efek traumatis atau minimal membuat kita kepikiran setelah keluar dari bioskop. Film ini  diproduseri oleh Jason Blum yang juga pernah memproduseri Paranormal Activity. Dan sutradaranya adalah  Scott Derickson, yang pernah membesut The Exorcism of Emily Rose.

Seorang penulis novel, Ellison Oswaltt (Ethan Hawke) bersama dengan istrinya Tracy (Juliet Rylance) dan kedua anak mereka baru saja pindah ke rumah baru. Rumah itu terlihat biasa-biasa aja, tapi sebenernya menyimpan sebuah  rahasia yang Ellison sembunyikan dari istri dan anak-anaknya. Jadi di belakang rumah itu pernah terjadi peristiwa satu keluarga digantung disebuah pohon seperti diperlihatkan pada opening film ini. Tapi anehnya 1 anak disetiap keluarga gak ikut dibunuh dan hilang gitu aja. Ellison sengaja memilih rumah itu karena diam-diam ia ingin menyelidiki kasus pembunuhan tersebut dan ingin mejadikannya inspirasi untuk novel yang sedang digarapnya. Di rumah baru itu Ellison menemukan film 8mm berikut alat putarnya. Film itu berisi rekaman pembunuhan beberapa keluarga, termasuk pembunuhan dirumah yang baru ditempatinya tersebut

Sekilas memang terkesan basi premisnya. Sebuah keluarga pindah kerumah baru, lalu menemukan benda dan sebuah misteri yang harus dipecahkan, kemudian harus mengalami hal-hal mengerikan dan pada akhirnya merasa terancam . Sekilas mirip film-film rumah berhantu lainnya. Tapi meskipun premisnya bisa dibilang basi, Dericson mampu mengeksekusi Sinister  dengan aura yang beda. Sejak opening Dericson sudah membawa kita dalam atmosfir rumah baru yang sepi dan gelap tersebut. Apalagi setelah menemukan rekaman-rekaman pembunuhan itu semakin terasa kengerian-kengerian itu.

Sinister bukanlah horor yang akan menampilkan banyak penampakan. Sekali lagi ini adalah psychological horor yang lebih seneng membuat penontonnya terganggu secara psikologis (bukan berarti gila) saat menonton adegan-adegan didalamnya. Adegan yang paling disturbing kalo menurutku waktu opening film ini, saat dipertontonkan adegan gantung diri dibelakang rumah. Terus waktu Ellison menonton rekaman film pembunuhan. Itu bener-bener scene yang mencekam banget. Gambar-gambar yang diperlihatkan dalam tayangan pembunuhan itu mampu membekaskan ketakutan yang lebih daripada sekedar penampakan yang cuma beberapa kali nampang di film ini. Mungkin karena dukungan  konsep found footage juga sehingga setiap gambar yang ditampilkan lebih ber-atmosfir horror. 

Dan saya suka dengan cara Sinister menebarkan terornya, ga ngebosenin karena kengerian yang ditimbulkan bukan sekedar kaget-kagetan aja. Apalagi didukung scoring yang bener-bener serem banget. Ku acungin jempol untuk scoring film ini, juara banget deh. Ethan Hawke bermain dengan meyakinkan disini. Bisa dibilang sangat total. Tiap adegan yang difokuskan padanya  mampu diperankan dengan baik, pendalaman karakternya juga bagus. Untuk akting yang lainnya standar-standar aja sih. 

Sinister tidak cukup meneror kita dengan suasananya, Sembari ia mengaduk-aduk emosi kita  Dericson  tidak melupakan jalan cerita yang mendasari film ini. Setiap jengkal misteri tetap di paparkan secara rapih walaupun terkesan perlahan. Pengalaman menonton horor yang cukup beda, karena apa ya, susah diungkapin sih kengerian yang dirasakan. Tapi percaya deh, ada sensasi yang gak ngenakin pasca film berakhir. Walaupun memang gak seseram Insidious yang lebih intens untuk membuat penonton menjerit, tapi Sinister tetaplah jadi horor yang akan membekaskan traumatic walaupun cuma sementara.


12 Nov 2012

THE POSSESSION (2012)


 

Film dengan tema supranatural akhir-akhir ini memang sedang merajai tema film horor. Bukan hanya sekarang sih, dari jaman dulu juga udah banyak film-film yang mengusung tema supranatural. Seperti halnya The Exorcist, The Skeleton Key, lalu ada juga Insidious dengan projection astralnya, kemudian The Last Exorcism ditahun yang sama. Seakan gak bosan dengan tema itu, Sam Raimi kali ini memunculkan film horor bertajuk The Possession, dengan mempercayakan Ole Bornedal sebagai sang sutradara.

Clyde (Jeffrey Dean Morgan) dan Stephanie Brenek (Kyra Sedgwick) adalah pasangan yang telah bercerai. Mereka mempunyai dua puteri yaitu Hannah (Madison Davenport) dan Emily (Natasha Calis). Walaupun telah bercerai tapi mereka selalu bergantian dalam menjaga anak-anak mereka. Ada kalanya Clyde yang membawa anak mereka, dan juga sebaliknya. Suatu saat Clyde membawa kedua putri mereka ke semacam garage sale . Disana banyak barang-barang yang telah terpakai dijual kembali. 

Ga sengaja Emily melihat sebuah benda yang menarik perhatiannya. Sebuah kotak kayu antik yang sangat kuno. Emily pun meminta ayahnya untuk membeli kotak itu, dan bisa ditebak tentunya. Setelah itu banyak kejadian-kejadian misterius yang terjadi. Emily mulai memperlihatkan tingkah aneh. Menjadi sosok yang berbeda dan misterius. Clyde pun mulai menyelidiki apa yang terjadi dengan sang putri dan berusaha menyelamatkannya dari pengaruh kotak tersebut

Film ini mempunyai opening yang lumayan bikin penasaran. Setidaknya adegan  itu cukup membuatku berekspektasi lebih untuk adegan-adegan selanjutnya. Apalagi dengan embel-embel kisah nyatanya yang lebih membuat penasaran. Tapi selepas opening, film ini seperti kehilangan daya tariknya. Bornedal terlalu banyak menyisipkan adegan-adegan yang justru malah membuat aura horor yang telah dibangun dari awal hilang. Pada akhirnya ya hanya bisa menunggu kapan Bornedal akan memanaskan kembali adrenalin kita. Karena selepas opening yang sangat terkesan horor itu, seolah-olah film ini berubah menjadi lambat dan tidak lagi mengancam

Cukup lama waktu yang dibutuhkan hingga saat Bornedal kembali membangunkan kita dari kebosanan. Ya, karena film ini berbalut drama jadi sisi-sisi horornya lebih banyak 'termakan' dengan nuansa drama itu sendiri. Kalaupun ada kelebihannya, mungkin hanya akting dari Natasha Calis (Emily) yang patut diacungi jempol. Adegan kerasukannya bener-bener keren dan menjiwai. Gerak-gerik dan tatapannya lumayan mengancam untuk ukuran aktris seusianya. Pengambilan gambarnya juga lumayan keren, apalagi pada saat adegan-adegan exorcism. Tapi Bornedal  sepertinya terlalu banyak meninggalkan kita dan sibuk dengan dramanya. Padahal disini yang diharapkan adalah nuansa horror yang akan terus menghantui sepanjang film. 

Menurutku film horor yang bener-bener horor itu adalah yang bisa menjaga nuansa creepy nya sepanjang film. Entah dari dialognya, dari scoringnya, atau pun suasananya. Tapi di film ini hanya beberapa momen aja yang bener-bener dapat dirasakan nuansa horornya. Kebanyakan malah berkutat seputar kisah dramanya. Jadi ibarat mesin yang udah panas, jadi dingin lagi karena film ini ga bisa menjaga intensitas dalam menakuti penonton. Tapi bukan berarti film ini buruk sampai ga bisa dinikmati. Masih bisa dinikmati kok, setidaknya untuk orang-orang yang pingin melihat horor yang tidak terlalu membuat trauma. The Possession tentunya bisa jadi pilihan. Happy Watching :)