4 Des 2011

THE MIST (2007)


*spoiler alert*

The Mist adalah salah 1 film yang diadaptasi dari novel karangan Stephen King yang ditulis pada tahun 1980. Film ini disutradarai oleh  Frank Darabont yang juga pernah menyutradarai film favoritku The Shawshank Redemption. Diceritakan  Seorang seniman (David Dryton) dan (Billy) putranya suatu ketika harus terjebak di dalam sebuah minimarket bersama beberapa orang lainnya yang berlatar belakang beda, karena seluruh kota tiba-tiba diselimuti kabut yang didalamnya terdapat makhluk aneh misterius yang sangat membahayakan. Kabut tersebut di duga akibat dari sebuah project yang mereka sebut the arrowhead project, sebuah project percobaan militer. 

David dan beberapa orang di minimarket itu selama terjebak sering mengalami beberapa konflik dan sempat berbeda pendapat dan bersitegang. Ada yang mencoba keluar dan ada yang tetap bertahan. Mereka selalu berusaha untuk menghindari dan melawan setiap kali makhluk-makhluk asing, termasuk kalajengking-kalajengking bertentakel itu menyerang dan masuk minimarket. Walaupun akhirnya banyak juga yang meninggal terkena gigitan serangga raksasa itu. 

Setelah berhari-hari terkurung dan sekuat tenaga memperjuangkan hidup, David, Billy dan 3 orang lainnya akhirnya berhasil meloloskan diri keluar ke mobil. Mereka berencana menjalankan mobil sampai bahan bakar habis. Tapi ketika mobil sudah dihentikan sampai bahan bakar habis, ternyata kabut tak juga menghilang. Ditekan stress dan depresi David akhirnya menembak ke 4 orang dimobil mereka termasuk putranya. Arrrrghhh !! kalau saja ia mau menunggu beberapa menit lagi ....ah sudahlah !

Sang sutradara sepertinya ingin membuat sebuah ending anti klimaks tapi justru twistnya bikin penonton sakit hati haha. Jujur, ini adalah film dengan ending paling menjengkelkan sepanjang masa tapi sekaligus juga sangat mengesankan, nahlo. Secara dulu nonton film ini tanpa baca referensi apa-apa sebelumnya. Jujur sih sebenernya kecewa dengan endingnya. Kenapa di akhir cerita David harus melakukan kesalahan besar. Kecewa karena setelah sekian durasi nonton dan berasa lamaa banget ternyata semua berakhir dengan sad ending.

Tapi diluar ketidakpuasan dengan endingnya film ini juga mengesankan karena punya ide cerita yang genius. Walaupun dari awal film adegan kebanyakan hanya berlatar di dalam sebuah minimarket, tapi film ini tidak terasa membosankan. Dan salut  banget karena mampu membuat twist yang sama sekali tidak tertebak. Dan ternyata oh ternyata Darabont emang sengaja merubah ending di film ini dengan yang ada di novel aslinya. Jenius banget sih, walaupun mengecewakan dan bikin gregetannn. Meski menyesakkan dada di endingnya, The Mist tetaplah  film yang sangat memorable dan pastinya bakalan kutempatkan dijajaran film favoritku. Film dengan ending tak terlupakan !!

127 HOURS (2011)



 

Dari pertama liat posternya gw udah sangat tertarik dengan film ini. Selain karena tema-nya ruang sempit, film ini juga bergenre adventure. Alasan lain adalah karena film ini true story yaitu kisah nyata yang bener-bener dialami sang tokoh utama. Ceritanya simple sih sebenernya. Tentang seorang pendaki bernama Aron Ralston (James Franco) yang sedang ber-adventure ria , tiba-tiba ia terperosok dan tangannya terjepit sebuah batu besar di Blue John Canyon – Utah. Ia bertahan selama 127 jam mencoba lepas dari jepitan batu itu. Tapi untungnya Aron mempunyai semangat hidup yang sangat tinggi. Ia terus berjuang melepaskan batu yang menghimpitnya walaupun hanya berbekal sebuah pisau kecil dan seutas tali. Jadi Ia hidup selama 127 jam di celah tebing sempit sendirian, hanya berbekal sebotol air mineral yang masih tersisa. Sebuah pesan tersirat yang kira-kira bisa tangkap dari film ini adalah  jangan mudah putus asa sekalipun harapan itu kecil bahkan hampir ga ada. Dengan apa yang ada berusahalah !!

Bayangkan suatu ketika disaat kamu sedang berpetualang sendirian, disebuah tebing tanpa diketahui siapapun, tiba-tiba kamu terperosok dan tanganmu terjepit batu, sementara kamu ga bawa ponsel pula. Kira-kira apa yang bakal kamu lakukan coba. Gw paling suka liat ekspresi mukanya Aron yang tetep keliatan santai walau dalam keadaan sulit. Akting James Franco sebagai Aron disini menurutku sangat berhasil. Dengan perawakan yang sangat pas untuk memerankan sosok pendaki,  ia mampu membuat penonton terharu, ikut merasakan penderitaan dan  kekalutan. Tapi juga bisa dibuat tertawa karena mimik mukanya yang terkesan cute dan gayanya yang santai. 
  
Pantes aja aktor spiderman dan juga Eat Pray Love ini akhirnya lebih dipilih untuk memerankan sosok Aron. Setelah sebelumnya kabarnya Cillian  juga sempat jadi kandidat untuk memerankan Aron di film ini. Mungkin memang Cillian lebih cocok memerankan sosok yang menekan daripada tertekan, dan juga mungkin secara fisik James Franco lebih pas jadi seorang petualang sementara Cillian lebih cocok jadi monster ganteng haha. Menurutku scene favorit di film ini adalah aksi konyol Aron yang tiap saat merekam aktivitasnya sendiri di celah tebing itu dengan handycam nya. Konyol tapi sedikit mengharukan. Pokoknya film ini rekomended banget terutama untuk para pendaki pasti akan sangat suka dengan film ini. Happy watching ^^

ALTITUDE (2010)



Setelah Sara (Jessica Lowndes) mendapatkan ijin mengemudi dan lisensi pilot, ia memutuskan untuk berlibur menghadiri sebuah konser dengan beberapa teman nya dengan menggunakan pesawat. Tapi sebenarnya ayahnya tak pernah mengijinkannya terbang karena takut kejadian yang pernah menimpa ibunya menimpa nya juga. Tapi Sara tetap pergi dengan pesawat tanpa diketahui ayahnya. 

Beberapa kejadian mencekam benar-benar dialami Sara dan teman-temannya. Pesawat yang mereka tumpangi ternyata mulai mengalami gangguan tekhnis, hingga Sara tak bisa lagi berkomunikasi dengan pemancar. Beberapa kendali pesawat mulai tak berfungsi dan terjadi beberapa kerusakan-kerusakan instrumen lain seperti baut ekor pesawat yang kendor, sehingga pesawat tak bisa diturunkan dan akan terus naik, sementara bahan bakar pesawat mulai habis. Dilain pihak mereka mulai melihat kekuatan mahluk lain di luar itu, dan apakah yang sebenarnya terjadi, Apakah ada hubungannya antara komik yang di baca Bruce dan kejadian-kejadian aneh yang mereka alami?

Altitude sebenernya seru-seru aja. Gw bahkan sempet merasakan kengerian saat Sara gabisa ngendaliin pesawatnya.  Ku pikir ini bener-bener pure film survival tentang pesawat . Makanya rada ilfil di pertengahan, karena tiba-tiba kok muncul sosok gurita. Karena jujur aja pertamanya emang ga begitu ngeh dengan detil-detil posternya. Ku pikir dari awal ini bukan horor fantasi haha.  Tp oke lah, gw masih berharap endingnya akan tetep bagus dan real. Tapi ternyata, ketegangan dan keseruan yang udah coba dibangun dalam otak seketika seperti tak mendapatkan klimaksnya. Sayang bangett... karena endingnya bener-bener gantung dan ngebingungin.  


Sebagai film yang menawarkan ketegangan dalam pesawat, film horor Kanada ini sebenernya keren-keren aja. Hal-hal yang sangat mengganggu ya hanya itu tadi, kenapa harus ada penambahan makhluk aneh dan ending yang kurang memuaskan. Padahal kalau misalnya film ini dibuat pure accident, bener-bener asli gangguan pesawatnya karena human eror pasti akan terasa lebih menegangkan dan real. Overall  lumayan aja deh, karena endingnya sangat bikin gw bengong sebengong-bengongnya :p

 

17 Nov 2011

THE ROAD (2009)


 

The Road merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karangan Cormac McCarthy. Menceritakan tentang perjalanan seorang ayah(Viggo Mortensen)  dan anaknya ( Kodi Smit-McPhee) untuk bertahan hidup di bumi yang sudah hampir musnah. Entahlah, dari awal film ini ga ada penjelasan kenapa keadaan dunia menjadi sangat rusak dan seperti ga ada kehidupan, semua seperti punah, yang terlihat disana sini hanya puing-puing dan kegersangan. 

Sang ayah dan anak tersebut (yang tidak ber-nama di film ini) berusaha survive dalam kondisi minim makanan, dan hanya mempunyai kereta dorong berisi perlengkapan hidup, seperti tenda, pakaian, buku belajar. Yah, mereka berkelana sepertinya sedang mencari tempat yang lebih hangat ke arah selatan. atau mencari harapan hidup yang lebih baik mungkin.  Kegelapan dan aura kelam sangat terasa di film ini. Sepanjang film bahkan didominasi warna abu-abu.  Mungkin sebagai gambaran dari abu radiasi nuklir. Pohon-pohon tumbang dan terbakar, rumah-rumah dan gedung tlah rusak. 

Yahh seperti gambaran kiamat, ketika manusia tidak bisa lagi mendapatkan manfaat alam, karena kepunahan-kepunahan yang terjadi pada alam, pada semua manusia, tumbuhan dan hewan-hewan (walau ada segelintir yang hidup) , maka manusia yang masih hidup tersebut bisa saja menjadi kanibal yang memangsa sesamanya karena ketiadaan sumber makanan tsb. Sebuah film yang membingungkan pada awalnya, karena bahkan kita tak di beri tahu bagaimana dunia bisa menjadi punah, juga alur film yang maju mundur,  serta tergolong lambat menjadikan kita sedikit bosan. 

Tapi setelah ditelisik The Road mempunyai banyak hal untuk direnungkan, tentang perjuangan hidup, tentang kasih sayang seorang ayah terhadap anak. Bagaimana sang ayah adalah sosok seorang yang pantang menyerah. ia juga mengajari sang anak agar tidak menyerah dengan hidup, selalu melindungi sang anak walau pada akhirnya sebuah perjuangan tidak selalu berakhir seperti yang diharapkannya. Yah film ini jujur aja berakhir sad ending, tapi selalu ada 1 titik harapan untuk beberapa orang yang beruntung dan masih mempunyai kesempatan hidup. Gw ga akan spoilerin siapa yang akhirnya bisa terus hidup di akhir film ini tapi buatku film ini cukup bikin nyesek dan juga terharu. 

1 pesan yang bisa dipetik, klise sih.'' jangan menyerah untuk terus berjuang dalam hidup, sekalipun pada akhirnya hidup akan melenyapkanmu juga, tapi yang terpenting adalah senantiasa menjadi orang yang tidak putus asa ''. Kalau yang ga bisa meresapi pasti ga akan betah nonton film ini. Pertamanya gw juga gitu, apaan sih filmnya, agak lelet gitu kan alurnya tapi makin lama ternyata dalem juga makna di balik film ini. Haha sampe nangis di akhir film pas adegan-adegan di pesisir itu, lumayan  sedih pokoknya hehe, selamat menonton.. ^^

8 Nov 2011

SPLICE (2009)



 

Suatu ketika Clive (Adrien brody) bersama dengan istrinya, Elsa melakukan sebuah percobaan kloning. Pasangan ilmuwan itu menyatukan DNA hewan dan manusia tapi pada akhirnya justru makhluk anehlah yang dihasilkan. Mereka sempat berbeda pendapat. Clive merasa bahwa makhluk itu adalah sebuah kekeliruan dalam percobaannya, tapi Elsa justru menyayangi makhluk aneh itu dan menganggap seperti layaknya bayi. Ia memberi makan, memberi kasih sayang seperti layaknya manusia. Walaupun makhluk itu sempat berontak tapi Elsa tetap memperlakukan dengan penuh kelembutan. Elsa bahkan menganggap lahirnya makhluk aneh itu merupakan suatu hal yang membanggakan dalam dunia science. Sampai akhirnya si makhluk yang pada akhirnya diberi nama Drenn semakin tumbuh besar. Dengan perawakan setengah manusia setengah hewan, dengan sayap, dengan ekor yang juga menjuntai seperti layaknya hewan.